Tambak Terlantar dan Aktivitas Malam Jadi Pemicu Malaria Tinggi di Pesisir Teluk Pandan Pesawaran
taryono July 01, 2026 03:28 PM

Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Kondisi geografis pesisir yang dipenuhi tambak terlantar, rawa, laguna, serta tingginya aktivitas masyarakat pada malam hari menjadi penyebab wilayah kerja UPTD Puskesmas Hanura masih mencatat kasus malaria tertinggi di Kabupaten Pesawaran.

Lingkungan tersebut menyediakan banyak tempat perindukan nyamuk Anopheles sebagai vektor penular malaria, sementara sebagian besar masyarakat pesisir masih beraktivitas pada malam hari saat nyamuk tersebut aktif menggigit.

Kepala UPTD Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan tingginya kasus malaria bukan semata-mata disebabkan banyaknya nyamuk, melainkan luasnya habitat yang mendukung perkembangan Anopheles.

“Faktor penyebabnya banyak, tetapi yang pasti penyebab utamanya adalah nyamuk Anopheles. Nyamuk ini hidup di sekitar air payau, sedangkan di wilayah kami tempat seperti itu sangat banyak,” kata Nazlina kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, berbeda dengan nyamuk penyebab demam berdarah yang berkembang biak di genangan air bersih, nyamuk Anopheles lebih banyak ditemukan di kawasan pesisir dengan karakteristik air payau.

Di sepanjang pesisir Teluk Pandan, habitat tersebut tersebar di bekas tambak udang yang sudah tidak produktif, laguna, rawa, kubangan, kolam, hingga saluran air yang jarang dibersihkan.

“Sepanjang pantai itu banyak tempat perindukan. Bekas-bekas tambak yang sekarang sudah tidak aktif menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk. Itu salah satu penyebab utama tingginya malaria di sini,” ujarnya.

Berdasarkan pemetaan Puskesmas Hanura, hampir seluruh dusun yang menjadi kantong malaria memiliki karakteristik lingkungan serupa, yakni berada di sekitar tambak, laguna, rawa, kubangan, kolam, dan saluran air yang menjadi tempat perindukan nyamuk.

Sebaliknya, desa-desa yang berada di kawasan perbukitan relatif tidak ditemukan penularan malaria secara lokal karena tidak memiliki habitat yang sesuai bagi Anopheles.

Selain faktor lingkungan, aktivitas masyarakat juga turut memengaruhi tingginya angka penularan malaria.

Nazlina mengatakan sebagian besar warga pesisir Teluk Pandan bekerja sebagai nelayan yang berangkat melaut atau beraktivitas pada malam hari, bertepatan dengan waktu nyamuk Anopheles aktif mencari darah.

“Nyamuk malaria menggigit pada malam hari. Di sini banyak masyarakat yang bekerja sebagai nelayan, sehingga mereka lebih sering berada di luar rumah saat nyamuk sedang aktif,” katanya.

Menurutnya, secara teori nyamuk Anopheles mulai aktif menggigit sejak pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB.

“Kalau malaria, nyamuknya menggigit dari jam enam sore sampai jam enam pagi. Berbeda dengan demam berdarah yang nyamuknya aktif pada siang hari,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat nelayan, pekerja tambak, maupun masyarakat yang masih beraktivitas di luar rumah pada malam hari menjadi kelompok dengan risiko penularan lebih tinggi.

Nazlina menambahkan, kondisi itu juga menjelaskan mengapa desa-desa di kawasan perbukitan Kecamatan Teluk Pandan tidak termasuk wilayah endemis malaria.

Menurutnya, meskipun di daerah pegunungan juga terdapat banyak nyamuk, jenisnya berbeda dengan Anopheles yang membutuhkan habitat air payau.

“Di daerah atas mungkin juga banyak nyamuk, tetapi bukan nyamuk Anopheles. Nyamuk malaria hidup di daerah pesisir dengan air payau,” ujarnya.

Meski demikian, masih ditemukan beberapa kasus di Desa Cilimus yang berada lebih tinggi dibandingkan desa-desa pesisir. Namun, sebagian besar penderita diketahui memiliki riwayat beraktivitas pada malam hari di kawasan pesisir sehingga diduga tertular saat berada di wilayah endemis.

“Kalau Cilimus ada beberapa kasus, kemungkinan karena aktivitas malam mereka di bawah (wilayah pesisir). Jadi bukan karena terjadi penularan di daerah atas,” jelasnya.

Menurut Nazlina, kondisi lingkungan pesisir yang dipenuhi tambak terlantar menjadi tantangan terbesar dalam pengendalian malaria.

Luasnya kawasan bekas tambak membuat pemberantasan tempat perindukan nyamuk tidak dapat dilakukan hanya oleh tenaga kesehatan.

“Tempat perindukannya terlalu banyak dan sangat luas. Apalagi banyak tambak yang sudah terbengkalai. Itu yang menjadi tantangan terbesar dalam pengendalian malaria,” katanya.

Karena itu, Puskesmas Hanura menilai pengendalian malaria tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan. Penataan lingkungan, pengelolaan tambak yang terbengkalai, serta keterlibatan lintas sektor menjadi faktor penting untuk menekan angka penularan malaria di wilayah pesisir Teluk Pandan.
 
6 Desa Masuk Wilayah Endemis Malaria 

Tingginya kasus malaria di wilayah kerja UPTD Puskesmas Hanura ternyata tidak tersebar merata di seluruh Kecamatan Teluk Pandan. Dari 10 desa yang ada, hanya enam desa pesisir yang ditetapkan sebagai lokus malaria karena memiliki habitat alami nyamuk Anopheles, vektor penyebab penyakit tersebut.

Kepala UPTD Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan enam desa yang masuk wilayah endemis malaria yakni Sukajaya Lempasing, Hurun, Hanura, Sidodadi, Gebang, dan Batu Menyan. 

Sementara desa-desa yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan tidak termasuk wilayah endemis karena jauh dari lokasi perkembangbiakan nyamuk.

“Di Kecamatan Teluk Pandan ada 10 desa, tetapi yang menjadi daerah endemis hanya enam desa di sepanjang garis pantai. Desa-desa yang berada di atas gunung tidak masuk karena jauh dari tempat perindukan nyamuk malaria,” kata Nazlina kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).

Menurut dia, keberadaan nyamuk Anopheles sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. 

Berbeda dengan jenis nyamuk lainnya, Anopheles berkembang biak di kawasan air payau yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir Teluk Pandan.

“Walaupun di daerah pegunungan juga ada nyamuk, jenisnya berbeda. Nyamuk malaria hidup di daerah pesisir, di sekitar air payau,” ujarnya.

Nazlina menjelaskan, bahkan di enam desa endemis tersebut tidak seluruh dusun menjadi wilayah penularan malaria. 

Kasus hanya terkonsentrasi di dusun-dusun yang berada di sekitar garis pantai, terutama yang berdekatan dengan tambak, rawa, laguna, kolam, kubangan, maupun saluran air yang menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk.

“Enam desa itu pun tidak semuanya menjadi kantong malaria. Yang menjadi lokus hanya dusun-dusun tertentu yang berada dekat tempat perindukan nyamuk,” katanya.

Berdasarkan pemetaan UPTD Puskesmas Hanura, kantong-kantong penularan malaria tersebar di sejumlah dusun pesisir yang memiliki karakteristik lingkungan sesuai habitat Anopheles.

Di Desa Sukajaya Lempasing, wilayah yang menjadi lokus meliputi Dusun 3 Laut dan Dusun 7 Mutun yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kubangan, kolam, sungai, serta saluran air.

Di Desa Gebang, penyebaran malaria tercatat di lima dusun, yakni Tanjung Jaya, Seribu, Induk, Hilir, dan Suko Agung. Seluruhnya memiliki kombinasi habitat berupa tambak, rawa, kolam, selokan, maupun kubangan yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

Sementara di Desa Hanura, kantong malaria berada di Dusun B dan Dusun C yang berada di kawasan pesisir dengan tambak, rawa, laguna, serta kubangan. Di Desa Sidodadi, wilayah yang menjadi lokus adalah Dusun 1 dan Dusun 2 yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.

Adapun di Desa Batu Menyan, penyebaran malaria terkonsentrasi di Dusun Ketapang, Dusun Cibeurem, serta kawasan RT 7, RT 8, dan RT 9 yang berada di sekitar kawasan pesisir dengan habitat nyamuk berupa laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.

Sementara itu, di Desa Hurun, sejumlah dusun pesisir juga masuk dalam lokus malaria karena berada di sekitar tambak, laguna, rawa, kubangan, dan genangan air payau yang menjadi habitat Anopheles. Wilayah-wilayah tersebut terus menjadi sasaran surveilans, pemeriksaan aktif, penyemprotan, serta pemantauan rutin oleh petugas Puskesmas Hanura.

Nazlina menegaskan, pemetaan hingga tingkat dusun menjadi dasar seluruh program pengendalian malaria. Penanganan tidak dilakukan secara menyeluruh di tingkat desa, melainkan difokuskan pada dusun-dusun pesisir yang memiliki risiko penularan paling tinggi.

“Kami tidak menyasar satu desa secara keseluruhan. Penanganan difokuskan pada dusun-dusun yang memang berada di sekitar pesisir dan dekat tempat perindukan nyamuk,” ujarnya.

Selain memetakan wilayah penularan, Puskesmas Hanura juga mengidentifikasi sejumlah titik utama perkembangbiakan nyamuk malaria. Salah satunya berada di kawasan tambak terlantar di Desa Hanura yang selama ini menjadi habitat Anopheles.

Data Puskesmas Hanura menunjukkan sebagian besar lokasi perindukan berada di tambak yang tidak lagi produktif, laguna, rawa, kubangan bekas tambak, saluran air, hingga kolam yang tidak terawat.

Menurut Nazlina, karakteristik lingkungan tersebut menjadi faktor utama yang membedakan wilayah pesisir dengan desa-desa di kawasan perbukitan sehingga penyebaran malaria lebih terkonsentrasi di sepanjang garis pantai.

“Karena tempat perindukannya memang banyak sekali di daerah pesisir. Itulah sebabnya penyebaran malaria terkonsentrasi di dusun-dusun dekat pantai, bukan di seluruh desa,” tegasnya.

(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.