WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Kebijakan baru mengenai pemotongan komisi aplikasi ojek online (ojol) menjadi hanya 8 persen resmi berlaku serentak pada Rabu (1/7/2026).
Namun, alih-alih menjadi angin segar yang mendongkrak kesejahteraan, regulasi anyar ini justru memicu gelombang kebingungan dan kekecewaan mendalam di kalangan mitra pengemudi.
Bukannya mengantongi untung lebih, para pejuang aspal di ibu kota justru mendapati fakta pahit: tarif perjalanan yang dibayarkan oleh penumpang ikut merosot tajam.
Baca juga: Ojol Ancam Hijaukan Jakarta Usai Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara
Alhasil, pendapatan bersih mereka justru dinilai kian terpuruk.
Ilusi Potongan 8 Persen di Layanan Hemat
Keresahan ini salah satunya diungkapkan oleh Refli (27), seorang driver ojol yang biasa mangkal di kawasan bisnis Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Awalnya, ia menyambut gembira kabar pemotongan aplikasi menjadi 8 persen, dengan asumsi kebijakan tersebut menyasar layanan reguler yang selama ini dicekik potongan hingga 20 persen.
"Ternyata salah besar. Potongan 8 persen itu malah diterapkan ke 'Layanan Hemat'. Padahal, di skema lama, Layanan Hemat cuma dipotong sekitar 5 sampai 10 persen. Jujur, kami merasa keberatan dan terjebak," keluh Refli saat ditemui Wartakotalive.com, Rabu.
Kondisi ini kian menjepit posisi keuangan Refli.
Sebagai pengemudi yang mengandalkan motor listrik sewaan, ia harus menanggung biaya operasional harian yang mencekik: Rp50 ribu untuk sewa motor dan Rp25 ribu untuk pengisian baterai.
Baca juga: Dishub DKI Luncurkan Program Ojol Pelopor KITA Jakarta 2026
Jika ditambah biaya makan, modal hariannya menembus Rp110 ribu.
Dengan tarif penumpang yang ikut diturunkan sepihak oleh aplikasi, ia khawatir skema akumulasi potongan di tengah malam nanti justru akan menguras sisa pendapatannya.
Jeritan Pengemudi: "Argo Makin Murah, Kami Makin Kejepit"
Dampak nyata dari "pangkas tarif" ini juga langsung dirasakan oleh Saripudin Asra (51).
Driver senior ini mengaku terpukul sejak hari pertama aturan ini bergulir.
Pesanan-pesanan yang biasanya menjadi tumpuan hidupnya kini nilainya menyusut drastis.
"Biasanya argo pendek itu Rp10.400, sekarang turun jadi Rp10.200. Belum lagi nanti dipotong 8 persen, makin habis. Saya merasa kejepit," ujar Saripudin dengan nada lirih.
Ia mencontohkan, rute jarak sedang menuju kawasan Slipi atau Jalan S. Parman yang biasanya menghasilkan Rp15.000 hingga Rp16.000, kini merosot tajam dan hanya dihargai Rp11.000 saja oleh sistem aplikasi.
Tuntutan Transparansi di Tengah Ketidakpastian
Berdasarkan pantauan di lapangan sekitar Stasiun Tanah Abang, aktivitas penjemputan penumpang oleh para driver Grab dan Gojek memang tampak berjalan normal.
Namun, di bawah tenda-tenda tunggu, atmosfer ketidakpastian begitu kental.
Topik mengenai perubahan skema tarif dan potongan ini menjadi bahan perdebangan hangat yang membayangi nasib dapur mereka.
Para pengemudi kini mendesak perusahaan aplikator untuk lebih transparan dan tidak melakukan perubahan tarif sepihak berlindung di balik kedok "penurunan potongan aplikasi".
Jika tidak ada penyesuaian ulang, potongan 8 persen ini dikhawatirkan hanyalah strategi pemasaran aplikator yang mengorbankan keringat para mitra di jalanan.