Gelombang panas mematikan yang melanda Eropa hingga membuat rumah sakit kewalahan diperkirakan bergeser ke wilayah timur pada 26 Juni. Otoritas setempat memperingatkan cuaca ekstrem masih akan terus membawa dampak buruk di benua yang tidak terbiasa menghadapi suhu tinggi dalam waktu lama.
Sedikitnya 101 juta warga Eropa telah beberapa hari terpapar suhu di atas 35 derajat Celsius. Ratusan orang, termasuk anak-anak, diperkirakan meninggal dunia akibat gelombang panas tersebut. Sebagian korban dilaporkan tenggelam saat berusaha mendinginkan diri dari cuaca yang sangat terik.
Dalam studi yang dirilis pada 26 Juni, para ilmuwan menyatakan perubahan iklim secara tegas (unequivocally) menjadi penyebab gelombang panas yang memecahkan rekor suhu di Inggris, Prancis, Spanyol, dan Swiss. Sementara itu, Belanda untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah akibat cuaca panas ekstrem.
Di Prancis, rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien. Pemerintah bahkan mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan melarang penjualan minuman beralkohol pada malam hari serta konsumsi alkohol di ruang publik di Paris mulai 26 Juni hingga akhir pekan.
Meski suhu diperkirakan mulai menurun di Eropa Barat sejak 26 Juni, gelombang panas justru diperkirakan bergeser ke Eropa Timur. Sejumlah wilayah telah mengeluarkan peringatan merah karena suhu diprediksi terus meningkat.
Di Jerman, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius hingga akhir pekan. Akibatnya, sejumlah acara luar ruangan dibatalkan dan operator kereta api mengimbau masyarakat menghindari perjalanan bila tidak mendesak.
Layanan kesehatan di Prancis dan Inggris juga melaporkan lonjakan panggilan darurat serta kunjungan pasien, terutama dari kelompok lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
"Kami telah mencapai titik jenuh kapasitas rumah sakit. Jumlah pasien yang dirawat terus meningkat," kata Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, dikutip dari The Strait Times.
Pemerintah Prancis melaporkan kunjungan ke unit gawat darurat akibat penyakit terkait panas meningkat hingga empat kali lipat, disertai lonjakan kasus henti jantung.
Sementara itu, London Ambulance Service menyatakan cuaca panas ekstrem pada 24 Juni memicu jumlah panggilan darurat yang mengancam nyawa tertinggi dalam satu hari.





