TRIBUNNEWSMAKER.COM – Babak baru dalam kasus pelarian Taufik Hidayat (30), pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR (29), kembali memunculkan pengakuan yang menyita perhatian.
Kali ini, sorotan tertuju pada Rahmat Hidayat (55), warga Kampung Cikatul, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang mengaku sempat diminta menampung Taufik saat masih berstatus buronan.
Rahmat mengungkapkan bahwa permintaan tersebut datang dari mantan atasan Taufik, Dadang Ahyar Ismail (53), yang mendatangi rumahnya dengan membawa Taufik dalam kondisi wajah tertutup.
Awalnya, Rahmat mengaku tidak mengetahui siapa orang yang akan dititipkan kepadanya. Namun, setelah penutup wajah dibuka, ia terkejut karena mengenali sosok tersebut sebagai Taufik yang saat itu tengah menjadi buronan polisi.
Menurut Rahmat, rencana penitipan itu semula hanya berlangsung satu hingga dua hari. Namun situasi berubah setelah ia memilih membujuk Taufik agar tidak melarikan diri lebih jauh dan bersedia menyerahkan diri kepada aparat.
Rahmat mengaku sempat meyakinkan Taufik bahwa terus melarikan diri hanya akan memperburuk keadaan, bahkan berisiko membahayakan dirinya sendiri.
Dalam pengakuannya, Rahmat juga menyebut Taufik sempat mengutarakan keinginan untuk kabur ke Sumatera atau mengakhiri hidupnya, sebelum akhirnya berubah pikiran.
Meski merasa telah berperan dalam membujuk Taufik, Rahmat mengaku kecewa terhadap Dadang Ahyar Ismail karena merasa jasanya tidak pernah dihargai.
Ia bahkan menyindir mantan bos Taufik tersebut karena dinilai seolah menjadi tokoh utama dalam proses penangkapan, sementara perannya diabaikan.
Pengakuan Rahmat ini pun membuka sudut pandang baru mengenai detik-detik pelarian Taufik sebelum akhirnya ditangkap aparat kepolisian di kawasan Ciparay, Kabupaten Bandung.
Baca juga: Fakta Baru soal Kelakuan Taufik Hidayat, Kencani Wanita Lain saat Sekap YTR: Bertindak Kriminal
Seoerti diketahui, misteri pelarian Taufik Hidayat (30), pelaku penyekapan dan penganiayaan sadis terhadap YTR (29), akhirnya dibongkar oleh Rahmat Hidayat (55).
Rahmat Hidayat adalah warga Kampung Cikatul, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pria yang akrab disapa Mang Jabrig ini mengaku kaget bukan main saat rumahnya di Pacet dijadikan tempat "penitipan" buronan oleh mantan bos pelaku, Dadang Ahyar Ismail (53).
Mantan bos Taufik Hidayat itu memang datang ke rumah Rahmat Hidayat (55) kenalan Dadang di Kampung Cikatul, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Taufik Hidayat disebutnya datang ke rumah dalam kondisi wajah tertutup rapat.
Rencananya, Dadang akan menitipkan Taufik di rumah Rahmad Hidayat sehari atau dua hari.
Rahmat Hidayat, kepada TribunJabar.id, Kamis (1/7/2026) mengisahkan bahwa pada siang hari pada Selasa (23/6/2026) pagi, Dadang meneleponnya.
"Waktu sebelum penangkapan, Pak Dadang nelepon tapi tidak keangkat. Terus ada WA, dia nanya, 'Mang Jabrig ada di rumah enggak? Ada perlu, nitip orang dua hari,'" kata Rahmat yang dipanggil jabrig oleh Dadang.
"Silakan, saya bilang. Mau sehari atau dua hari (silakan). Kemudian datang Pak Dadang, Ujeir, dan Opik (Taufik Hidayat). Dia pakai penutup muka,"
"Dia bilang, nitip dulu. Pas dibuka tutup muka, saya kaget. Ya saya tahu dia Taufik dari Tiktok. Saya yang merayu dia (untuk menyerahkan diri), dia inginnya bunuh diri atau kabur ke Sumatera," katanya.
Dalam merayu, Rahmat mengatakan kepada Taufik Hidayat bahwa kalau dia kabur-kabur terus, dia pasti akan ditembak.
Akhirnya, Taufik urung dan meminta diantar untuk bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat.
"Saya bilang, dari pada sampai kabur terus dibolongin (ditembak) dia takut. Dia ingin ke KDM. Kami setuju."
"Awalnya Dadang tidak mau antar ke KDM, saya bilang ayo kita bertiga ke sana. Kebetulan tetangga ada yang kerjaannya grab," katanya.
Namun, upaya 'menitip' di rumah Rahmat itu tidak berlangsung sehari atau dua hari, sebab pada hari itu juga, polisi menangkap Taufik Hidayat di kawasan Ciparay.
"Alasan Dadang nyimpen di rumah saya, dia bilang titip dulu di situ, titip saja, dua hari. WA-nya masih ada mungkin di dia. WA-nya (di hape saya) saya hapus,"
"Waktu hapal itu Taufik, saya menghargai Pak Dadang. Saya juga dekat dengan Pak Hendi (Polisi). Saya 'ngahatean' ka beliau. Cuman pada akhirnya, dia tidak menghargai saya,"
"Seolah-olah saya tidak ada penghargaan apapun dari Pak Dadang. Seolah-olah Dadang yang punya panggung, seolah dia yang punya lakon. Makanya, saya mau jelaskan ke KDM," katanya.
(TribunNewsmaker.com/TribunJabar)