Nilai ekspor Jawa Timur Januari-Mei 2026 senilai 10,91 miliar dolar AS atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025
Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor Jawa Timur pada Januari-Mei 2026 sebesar 10,91 miliar dolar AS atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati di Surabaya, Rabu, mengatakan nilai ekspor turun dari 11,24 miliar dolar AS pada Januari-Mei 2025 menjadi 10,91 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun ini.
"Nilai ekspor Jawa Timur Januari-Mei 2026 senilai 10,91 miliar dolar AS atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025," katanya.
Herum menjelaskan penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya ekspor nonmigas sebesar 2,28 persen, dari 11,00 miliar dolar AS menjadi 10,75 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekspor migas turun lebih dalam, yakni 32,27 persen, dari 239,42 juta dolar AS menjadi 162,16 juta dolar AS.
Penurunan ekspor migas dipengaruhi merosotnya ekspor minyak mentah sebesar 49,64 persen menjadi 109,28 juta dolar AS. Ekspor gas juga turun 13,16 persen menjadi 0,09 juta dolar AS.
Di tengah penurunan total ekspor, komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) mencatat kenaikan terbesar, yakni 28,70 persen menjadi 1,13 miliar dolar AS. Sebagian besar komoditas tersebut diekspor ke Tiongkok dengan nilai 487,53 juta dolar AS.
Komoditas tembaga (HS 74) juga meningkat 20,79 persen menjadi 1,18 miliar dolar AS, disusul bahan kimia organik (HS 29) yang naik 12,19 persen menjadi 492,04 juta dolar AS.
Di sisi lain, penurunan terdalam terjadi pada komoditas perhiasan atau permata (HS 71) yang turun 40,80 persen menjadi 1,26 miliar dolar AS. Komoditas ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) juga turun 5,24 persen menjadi 479,27 juta dolar AS.
Selama Januari-Mei 2026, sepuluh golongan barang nonmigas terbesar berdasarkan kode HS dua digit berkontribusi 63,84 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Timur.
Dari sisi pertumbuhan, ekspor sepuluh golongan barang tersebut turun 5,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
"Ini disebabkan sebagian komoditas ekspor utama Jawa Timur mengalami penurunan terutama komoditas perhiasan/permata dengan peranan terbesar pertama," kata Herum.





