Bulog Bakal Ekspor ke Singapura, Siapkan 200.000 Ton Beras Kualitas Premium
Putu Dewi Adi Damayanthi July 02, 2026 05:26 AM

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Perum Bulog memastikan kesiapannya jika mendapatkan penugasan ekspor beras ke Singapura.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut keputusan ini hasil pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu Hai Yien pada hari ini, Senin 29 Juni 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Amran menawarkan kepada Singapura untuk mengimpor 10.000 ton beras premium Indonesia.

“Kami tadi sudah mengusulkan ekspor beras 10.000 ton minimal, 10.000 ton rice from Indonesia to Singapore,” kata Amran di Kantor Kementan, Jakarta.

Baca juga: Motor Pedagang Beras Raib di Buleleng Saat Transaksi, MAW dan AC Ditangkap di Jembrana

Menindaklanjuti hal itu, Rizal menyebut bahwa Bulog telah menyiapkan 200.000 ribu ton beras kualitas premium untuk bisa diimpor ke berbagai negara termasuk Singapura.

“Kita sudah ada stok standby itu 200 ribu ton beras premium pecahan 5 persen. Jika sewaktu-waktu diminta kirim cepat kita bisa langsung lakukan,” kata Rizal dalam konferensi pers di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Senin 29 Juni 2026.

Bulog juga mengklaim saat ini pihaknya sudah menyiapkan proses impor beras ke Malaysia sebanyak 500.000 ton. Rencana impor ini sudah masuk tahap finalisasi harga.

Selain Malaysia, Bulog juga melihat peluang ekspor ke Uni Emirat Arab. Rizal menyebut negara tersebut menyampaikan kebutuhan sekitar 50.000 ton beras per bulan atau setara 600.000 ton dalam setahun.

Rencana impor ini dipastikan tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri.

Rizal menegaskan, hingga 29 Juni 2026, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80 persen dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton.

Menurut Rizal, dengan sisa waktu enam bulan hingga akhir tahun, realisasi penyerapan berpotensi melampaui target.

“Prediksi kami serapan bisa di atas 4,5 juta ton bahkan sampai 5 juta ton,” katanya.

Rizal mengatakan tingginya serapan tersebut perlu diimbangi dengan penyaluran, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melalui ekspor.

Perum Bulog JUGA telah merealisasikan penyerapan beras sebesar 80 persen dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton hingga 29 Juni 2026.

Rizal mengatakan realisasi penyerapan beras tersebut telah mencapai lebih dari 3,2 juta ton.

Jika dikonversikan ke gabah, jumlah yang diserap mencapai lebih dari 6 juta ton.

“Hingga, 29 Juni 2026, total serapan sudah mencapai 80?ri target 4 juta ton. Jadi sudah di atas 3,2 juta ton yang sudah diserap oleh Bulog. Berarti kalau berasnya 3,2 juta ton, gabahnya lebih dari 6 juta ton,” ujar Rizal.

Rizal menambahkan, capaian penyerapan tersebut turut mendorong stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5,4 juta ton hingga akhir Juni 2026.

Menurutnya, angka tersebut menjadi stok beras tertinggi yang pernah dimiliki Indonesia sejak merdeka.

“Untuk stok Bulog sampai dengan hari ini sudah mencapai 5,4 juta ton. Ini membanggakan, stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka dan serapan tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka,” katanya.

 Ia optimistis capaian tersebut masih akan terus meningkat. Bahkan, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2026, Bulog diperkirakan kembali mencatatkan rekor baru dalam penyerapan maupun stok beras nasional.

“Menjelang 17 Agustus 2026 ini akan memecahkan rekor tertinggi lagi nanti di bulan Agustus 2026,” pungkasnya. (kontan)

Perlu Jaga Kualitas dan Efisiensi

Sementara itu, Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan, peluang ekspor beras Indonesia masih terbuka apabila menyasar segmen premium atau pasar khusus (niche market), bukan pasar beras konsumsi massal yang sensitif terhadap harga.

“Indonesia saat ini belum sepenuhnya kompetitif untuk ekspor massal ke Singapura di segmen standar atau harga rendah. Harga beras kita lebih mahal karena biaya produksi lebih tinggi, sementara kualitas, khususnya aroma dan positioning, masih berada di bawah Thailand maupun Vietnam,” ujar Eliza, Selasa 30 Juni 2026.

Menurutnya, beras yang saat ini banyak tersimpan di gudang Bulog didominasi beras medium.

Kondisi tersebut membuat Indonesia relatif sulit bersaing di pasar massal yang selama ini dikuasai Vietnam dan Thailand.

Karena itu, Eliza menilai strategi ekspor sebaiknya difokuskan pada beras premium dengan mengedepankan nilai tambah, seperti varietas lokal, keberlanjutan (sustainability), hingga cerita asal-usul (origin story).

Segmen tersebut dinilai lebih berpotensi menyasar pasar hotel, restoran, dan katering (HOREKA).

“Kalau targetnya pasar niche, peluangnya masih terbuka lebar. Tetapi kalau menyasar pasar konsumsi massal, Indonesia harus mampu bersaing dengan Thailand dan Vietnam. Kuncinya bukan hanya pada volume produksi, tetapi juga kualitas dan efisiensi biaya produksi,” katanya.

Meski demikian, Eliza menilai rencana ekspor beras tetap menjadi momentum positif untuk memperkuat posisi Indonesia di perdagangan regional.

Namun, keberhasilannya tidak cukup hanya mengandalkan surplus produksi yang terjadi saat ini.

“Ambisi ekspor beras merupakan langkah positif. Tapi keberhasilannya bergantung pada perbaikan fundamental, terutama efisiensi dan kualitas. Tanpa itu, kita akan terus kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand yang sudah lebih efisien dan mapan,” ujarnya.

Ia menambahkan, surplus produksi beras saat ini dipengaruhi kombinasi kondisi cuaca yang mendukung serta berbagai insentif pemerintah kepada petani sepanjang 2025 yang mendorong peningkatan luas tanam dan produksi.

Meski prospek produksi masih positif, Eliza mengingatkan ancaman perubahan iklim, khususnya potensi El Nino yang lebih panjang dan kering pada tahun-tahun mendatang, perlu diantisipasi agar surplus tidak hanya bersifat sementara.

Menurutnya, keberlanjutan produksi bergantung pada kemampuan sektor pertanian meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serangan hama, dan risiko kekeringan.

Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu menjaga lahan pertanian eksisting, mempercepat pembangunan irigasi, memperluas penggunaan benih tahan kekeringan, serta menjaga stok beras pemerintah.

Sementara dalam jangka menengah, reformasi struktural seperti konsolidasi lahan, pengembangan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, hilirisasi produk pertanian, hingga pemberian insentif yang mendorong efisiensi petani menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi.

“Surplus 2025-2026 ini merupakan window of opportunity. Kalau tidak dimanfaatkan untuk investasi membangun resiliensi pertanian, kita berisiko kembali ke pola boom-bust, yaitu swasembada sesaat lalu kembali bergantung pada impor,” katanya. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.