Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Baru sekitar tiga bulan bertugas di Maluku, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto langsung memusatkan perhatian pada dua persoalan yang selama bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah di daerah ini.
Yakni, penataan tambang emas Gunung Botak di Kabupaten Buru dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela.
Menurut Dody, kedua persoalan tersebut bukan hanya menyangkut pembangunan, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas keamanan, kepastian hukum, hingga kepercayaan investor terhadap Maluku.
Baca juga: Marthinus Hukom Sentil Mutasi Polri di Hari Bhayangkara: Bukan TR Kapolri, Tapi Surat Undangan
Baca juga: Sempat Hilang Sehari di Hutan Kaki Gunung Tarawesi, Warga Buru Ditemukan Selamat
Hal itu disampaikannya saat bersilaturahmi dengan insan media Maluku di salah satu Cafe di kawasan Karang Panjang, Kota Ambon, Rabu (1/7/2026).
Di hadapan para jurnalis, Dody mengakui dirinya masih relatif baru bertugas di Maluku.
Namun, sejak hari pertama menjabat, ia memilih memperbanyak komunikasi dengan berbagai pihak untuk memahami persoalan daerah secara utuh.
"Kalau kita sering bertukar informasi, hubungan akan semakin baik. Sebaliknya, kalau tidak pernah bertemu, kita akan semakin jauh. Karena itu tujuan saya sederhana, bersilaturahmi dan membangun komunikasi," katanya.
Menurut Dody, tidak ada satu institusi yang mampu menyelesaikan persoalan besar sendirian.
"Tidak ada yang sempurna. Karena itu kita harus saling melengkapi. Dengan komunikasi yang baik, setiap persoalan akan lebih mudah diselesaikan," ujarnya.
Gunung Botak Harus Tuntas
Salah satu perhatian utama Pangdam adalah penataan kawasan tambang emas Gunung Botak yang selama ini kerap menjadi sumber persoalan.
Ia menegaskan, penyelesaian Gunung Botak tidak boleh lagi bersifat sementara.
"Saya merasa tertantang agar persoalan Gunung Botak benar-benar selesai. Jangan lagi ditutup, kemudian beberapa waktu dibuka kembali. Yang kita inginkan adalah penyelesaian yang permanen melalui mekanisme yang benar," tegasnya.
Menurut Dody, proses penataan kini mulai berjalan melalui mekanisme perizinan yang dilakukan pemerintah daerah dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap kolaborasi tersebut mampu menghadirkan kepastian hukum sekaligus menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Blok Masela Tunjukkan Kemajuan
Selain Gunung Botak, Dody juga mengungkapkan perkembangan terbaru proyek migas Blok Masela yang selama puluhan tahun belum terealisasi.
Ia menyebut proses penyelesaian lahan kini menunjukkan kemajuan signifikan.
"Selama 27 tahun persoalan Blok Masela belum tuntas. Sekarang lahannya sudah clear sesuai aturan. Tim terpadu sudah melakukan pendataan dan penghitungan, sementara proses pembayaran lahan sedang berjalan," ungkapnya.
Ia menargetkan seluruh tahapan yang kini berlangsung dapat dimaksimalkan dalam waktu dekat agar proyek strategis nasional tersebut segera memasuki fase berikutnya.
"Minggu depan kami berharap seluruh tahapan yang sedang berjalan bisa dimaksimalkan sehingga proses berikutnya dapat berjalan sesuai rencana," katanya.
Menurut Dody, percepatan penyelesaian Blok Masela juga menjadi bagian dari persiapan menjelang rencana kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Maluku pada 16 Juli mendatang.
"Bahkan besok saya ke Jakarta untuk melaporkan perkembangan terakhir Blok Masela. Saya optimistis persoalan ini dapat diselesaikan selama tidak ada kepentingan-kepentingan yang menghambat," ujarnya.
Media Jadi Mitra Menjaga Stabilitas
Selain memaparkan perkembangan dua isu strategis tersebut, Dody juga menekankan pentingnya peran media dalam menjaga stabilitas daerah.
Menurutnya, informasi yang akurat dan komunikasi yang terbuka menjadi modal penting agar pembangunan di Maluku dapat berjalan tanpa terganggu oleh informasi yang keliru maupun konflik yang tidak perlu.
"Media adalah mitra strategis. Karena itu saya ingin komunikasi seperti ini terus terjalin. Kita memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga Maluku tetap aman sehingga pembangunan dapat berjalan dan masyarakat merasakan manfaatnya," kata Dody.
Senada dengan itu, Ketua PWI Maluku Alex Sariwating mengapresiasi keterbukaan Pangdam dalam membangun komunikasi dengan insan pers.
Ia menilai hubungan yang baik antara TNI dan media menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas keamanan.
Sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap berbagai program pembangunan di Maluku, termasuk percepatan Proyek Strategis Nasional Blok Masela.
"Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga iklim investasi dan keamanan di Maluku. Komunikasi yang terbuka seperti ini sangat penting agar informasi yang diterima masyarakat utuh dan dapat mendorong pembangunan daerah," ujar Alex.(*)