TRIBUNNEWS.COM - Sebuah insiden bentrokan yang bisa memicu baku hantam mewarnai kelolosan Belgia ke 16 Besar Piala Dunia 2026. Momen cooling break justru berubah panas antara Leandro Trossard dengan Youri Tielemans.
Belgia nyaris kembali mengulang cerita pahit generasi emas yang gagal bersinar di turnamen besar, Kamis (2/7) di Stadion Seattle, Amerika Serikat.
Saat harapan mulai memudar, sebuah insiden panas di tengah pertandingan justru menjadi titik balik yang membawa Red Devils lolos dramatis ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Belgia sempat berada di ujung tanduk ketika tertinggal 0-2 dari Senegal pada laga babak 32 besar.
Situasi makin memanas saat jeda minum atau cooling break menit ke-70 diwarnai adu argumen antara Leandro Trossard dan Youri Tielemans.
Ketegangan keduanya bahkan membuat Romelu Lukaku, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, harus turun tangan untuk melerai, seperti yang dilaporkan laman DailyMail.
Penyebab perselisihan tersebut tidak diketahui secara pasti, tetapi momen itu ternyata menjadi awal kebangkitan Belgia.
Di sisi lain, Rudi Garcia selaku pelatih Belgia mampu memanfaatkan skuadnya saat ini, yang merupakan 'bekas' dari generasi emas Red Devils. Secara garis besar, timnas Belgia tengah menjalani masa transisi skuad.
"Belgia dalam masa transisi ya untuk saat ini. Mereka harus coba dengan wajah-wajah baru seperto Doku atau Saelemaekers, tetapi yang menarik dari Rudi Garcia (pelatih-red) sifatnya kontinu-nya, dengan melanjutkan 4-3-3 yang sebelumnya diterapkan Roberto Martinez," nilai football enthusiast, Gigih dalam podcast Tribunnews berjudul "SUPER TAKTIK: Prediksi Grup G-L Piala Dunia 2026, Grupnya Para Calon Juara" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Ketika pertandingan memasuki fase akhir, Lukaku sukses membangkitkan asa Red Devils lewat gol pada menit ke-86 yang memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2.
Drama sesungguhnya hadir di menit-menit terakhir. Dua pemain yang sebelumnya terlibat cekcok justru menjadi aktor utama penyelamat Belgia.
Trossard mengirimkan umpan silang akurat ke dalam kotak penalti, yang kemudian disambut sundulan Tielemans untuk mengubah skor menjadi 2-2 pada menit ke-90.
Gol tersebut memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Hubungan Trossard dan Tielemans pun tampak kembali mencair.
Baca juga: Rudi Garcia Gempur Tembok Keberuntungan, Kebangkitan Belgia Bukan Keberuntungan
Sebelum babak tambahan dimulai, keduanya terlihat saling bertepuk tangan sebagai tanda bahwa perselisihan mereka telah usai.
Padahal sebelumnya Senegal tampil jauh lebih dominan.
Tim asal Afrika itu mengendalikan jalannya pertandingan dan pantas unggul lewat gol Habib Diarra pada menit ke-25 serta Ismaila Sarr di menit ke-51.
Belgia yang tampil kurang menggigit akhirnya mampu bangkit tepat waktu dan memaksakan pertandingan berlanjut hingga extra time.
Mantan pelatih Bundesliga untuk FC Koln dan Borussia Dortmund, Peter Stoger, yang bertugas sebagai komentator ahli di ORF, menilai perseteruan antara Trossard dan Tielemans justru menjadi pemicu kebangkitan Belgia.
"Terkadang hal seperti itu memang diperlukan untuk menyegarkan suasana," ujar Stoger, dikutip dari laman Goal International.
Ucapan Stoger terbukti tepat. Tielemans kembali menjadi tokoh penting dalam drama kemenangan Belgia.
Pada menit ke-117, pemain pengganti Senegal, Lamine Camara, melakukan pelanggaran terhadap Tielemans saat situasi bola silang terjadi di kotak penalti.
Sebelumnya, Dodi Lukebakio yang berdiri bebas sempat melepaskan tembakan yang hanya membentur mistar gawang. Namun, VAR kemudian melakukan pemeriksaan selama beberapa menit sebelum wasit akhirnya menunjuk titik putih.
Tielemans yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna.
Gelandang Aston Villa itu sukses mengonversi penalti menjadi gol dan memastikan Belgia menang dramatis 3-2 atas Senegal.
Kemenangan ini membuat Belgia menjaga asa generasi emas mereka tetap hidup.
Dari pertengkaran di pinggir lapangan hingga selebrasi penuh suka cita, Red Devils membuktikan bahwa mereka belum habis dan masih siap berburu mimpi di Piala Dunia 2026.
(Tribunnews.com/Giri)