Korban Gempa Venezuela Melonjak Jadi 2.295 Orang, PBB Perkirakan 50 Ribu Masih Hilang
SERAMBINEWS.COM,CARACAS – Korban jiwa akibat gempa bumi ganda yang mengguncang Venezuela terus bertambah.
Hingga Rabu (1/7/2026), pemerintah Venezuela melaporkan jumlah korban tewas mencapai 2.295 orang, sementara lebih dari 11.000 orang mengalami luka-luka dan puluhan ribu lainnya masih belum ditemukan.
Lonjakan jumlah korban mendorong pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan kepada para korban bencana.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengumumkan masa berkabung dimulai pada 1 Juli pukul 18.00 waktu setempat.
"Kami turut berduka cita bersama keluarga yang telah kehilangan orang yang mereka cintai, dan kami berdoa untuk para korban luka, yang hilang, dan masyarakat yang terdampak. Hati Venezuela hancur oleh hilangnya nyawa akibat gempa bumi dahsyat ini,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah akan terus mendampingi masyarakat yang terdampak selama proses tanggap darurat dan pemulihan berlangsung.
“Di saat duka yang mendalam ini, kami berdiri bersama mereka yang menderita tragedi ini dan menegaskan kembali komitmen kami untuk mendukung dan melindungi mereka," kata Rodriguez.
Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, memperbarui data korban dengan menyebut sedikitnya 2.295 orang meninggal dunia dan lebih dari 11.000 orang terluka.
Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 50.000 orang masih dinyatakan hilang, sehingga operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di berbagai wilayah terdampak.
La Guaira menjadi kota dengan dampak paling parah.
Banyak bangunan yang runtuh telah diberi tanda huruf "D", yang menandakan lokasi tersebut telah diperiksa tim penyelamat namun tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan.
"Kami tidak akan membuang waktu di tempat-tempat yang tidak ada harapan," kata Javier Rodes, kepala tim penyelamat Spanyol.
Para ahli memperkirakan peluang korban selamat yang masih tertimbun reruntuhan semakin kecil setelah melewati 72 jam pertama pascagempa.
Meski demikian, harapan sempat muncul setelah seorang bocah berusia tiga tahun berhasil diselamatkan pada 30 Juni usai bertahan hidup selama enam hari di bawah reruntuhan.
Namun, bagi banyak keluarga, harapan itu mulai memudar.
"Tidak akan ada orang lain yang bisa dikeluarkan dari sini, hidup atau mati," kata Jose Rafael, warga Caraballeda, La Guaira, yang hingga kini masih mencari putranya yang hilang.
Di lokasi lain, suasana haru juga menyelimuti keluarga korban ketika petugas penyelamat asal Amerika Serikat mengumumkan tidak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan di bawah puing-puing bangunan.
Selain pencarian korban, tantangan lain kini muncul dalam memenuhi kebutuhan dasar para penyintas.
Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sementara persediaan makanan dan air bersih semakin menipis.
"Ada bantuan yang dibagikan di sini, tetapi terkadang orang hampir berkelahi memperebutkan makanan," kata Daniela Armas, seorang pedagang di La Guaira, setelah mengantre makanan di tempat penampungan darurat.
Situasi keamanan juga mulai memburuk. Laporan penjarahan terjadi di sejumlah wilayah terdampak.
Bahkan, empat anggota kepolisian ditangkap pada 1 Juli setelah diduga mencuri barang-barang dari reruntuhan bangunan.
Antrean panjang untuk memperoleh bantuan masih terlihat di berbagai lokasi pengungsian.
Banyak warga hanya mampu bertahan berkat bantuan sukarelawan dan solidaritas masyarakat sekitar.
"Situasinya sangat serius," kata Lia Poggio, kepala misi Venezuela dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Ungkapan serupa disampaikan relawan Aysmar Lopez yang setiap hari membagikan makanan kepada para penyintas.
"Setiap kali saya makan, saya merasa bersalah karena tahu masih banyak orang yang tidak punya apa-apa untuk dimakan," paparnya.
Melihat besarnya kebutuhan kemanusiaan, Program Pangan Dunia (WFP) pada 30 Juni mengajukan permohonan bantuan dana sebesar 50 juta dolar AS untuk menyediakan bantuan pangan bagi sekitar 500.000 warga Venezuela selama tiga bulan ke depan.
Sementara itu, otoritas kesehatan juga mulai mengingatkan meningkatnya risiko penyebaran penyakit di lokasi-lokasi pengungsian akibat keterbatasan sanitasi, air bersih, dan padatnya jumlah pengungsi.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)