TRIBUNTRENDS.COM - Sistem full pedestrian akan segera diberlakukan di Malioboro, Yogyakarta.
Kini Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah mulai percobaan sistem full pedestrian.
Sistem full pedestrian rencananya akan diberlakukan pada bulan November 2026.
Sederet persiapan kini tengah dilakukan oleh Pemda DIY.
Mulai dari pemasangan portal di jalan-jalan sirip Malioboro hingga penataan sistem transportasi pendukung.
Portal yang akan dipasang di setiap sirip jalan Malioboro sudah didesain sejak bulan Juni 2026.
Kabar ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.
“Iya kita coba, mulai bulan Juni itu desainnya masing-masing sirip itu dikasih portal. Sebenarnya harapan kita masyarakat ketika ada kebijakan ini tahu, mana yang diatur dalam jam pedestrian dan mana yang bukan,” ujar Made dikutip dari Kompas.com, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: Jangan Nekat! 4 Orang Didenda gegara Merokok di Malioboro Yogyakarta, Ada Sanksi Jika Tak Bisa Bayar
Menurut Made, pemasangan portal ini memiliki fungsi utama untuk membatasi akses kendaraan yang hendak memasuki kawasan Malioboro melalui jalur-jalur sirip, seperti Jalan Perwakilan maupun akses dari arah Jalan Bhayangkara.
Selama ini, ia menilai masih banyak kendaraan yang nekat masuk ke Jalan Malioboro meski pada jam tertentu kawasan tersebut sudah diberlakukan sebagai area pedestrian.
“Mau menunda sampai kapan lagi? Yang jadi PR pengaturan di sirip-siripnya kalau semua penuh dengan parkir bagaimana kendaraan itu manuver dan lainnya,” kata dia.
Made menegaskan bahwa penerapan kawasan pedestrian bukan berarti menutup seluruh akses kendaraan secara total di Malioboro.
Menurutnya, tetap ada pengecualian bagi kendaraan tertentu yang masih diperbolehkan melintas di kawasan tersebut.
Kendaraan seperti Trans Jogja, ambulans, serta mobil pemadam kebakaran tetap memiliki akses untuk melewati area Malioboro demi kebutuhan layanan publik.
Selain itu, pemerintah saat ini juga masih melakukan kajian terkait lokasi khusus untuk titik turun atau drop off bagi bus pariwisata.
“Simulasi juga untuk bus pariwisata, harapan kita ada tempat atau lokasi drop off masih kajian dari Pemkot,” ujarnya.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan sekaligus menjaga kenyamanan kawasan Malioboro sebagai ruang pedestrian yang lebih tertata.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Berlakukan Car Free Day Minggu Pagi di Malioboro, Mulai Pukul 5 sampai 9 Pagi
Kawasan Malioboro terus diarahkan menjadi ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki.
Menurut Made, penerapan kawasan pedestrian bertujuan meningkatkan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Malioboro.
“Ada juga bangunan heritage mungkin juga lambat laun akan terganggu seperti getaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penataan kawasan juga harus tetap memperhatikan keberadaan bangunan bersejarah di sekitarnya.
Upaya menjadikan Malioboro sebagai kawasan pedestrian sebenarnya telah dirancang oleh pemerintah daerah sejak lama.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Chrestina Erni Widyastuti mengatakan, rencana menjadikan Malioboro sebagai kawasan pedestrian sebenarnya telah disiapkan sejak 2016.
Perencanaan tersebut tidak hanya fokus pada satu aspek, tetapi mencakup berbagai dukungan kebijakan dan teknis.
Dishub DIY tidak hanya mempersiapkan infrastruktur fisik, tetapi juga sistem transportasi, kelembagaan, serta penerimaan masyarakat terhadap kebijakan tersebut.
Seluruh komponen pendukung terus dimatangkan, mulai dari penataan lalu lintas hingga penyediaan fasilitas publik.
“Saat ini berbagai komponen pendukung terus dipersiapkan, antara lain penataan jaringan lalu lintas, pengembangan kantong parkir kawasan penyangga, peningkatan pelayanan Trans Jogja, pengaturan distribusi logistik, penyediaan fasilitas pejalan kaki, akses bagi penyandang disabilitas, hingga koordinasi dengan instansi pemerintah dan aparat keamanan,” ujarnya.
Semua langkah tersebut dilakukan untuk memastikan perubahan kawasan berjalan terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Terkait rencana pemasangan portal, pemerintah juga menyiapkan sistem pengaturan akses di kawasan tersebut.
Erni menegaskan bahwa prinsip utama tetap menjaga kelancaran pelayanan publik serta aspek keamanan.
“Portal yang direncanakan bukan merupakan penghalang permanen, melainkan bagian dari sistem manajemen akses (access management) yang operasionalnya diatur melalui standar prosedur yang disusun bersama seluruh instansi terkait,” pungkasnya.
Dengan berbagai persiapan tersebut, transformasi Malioboro diharapkan tetap menjaga kenyamanan, mobilitas, dan daya tariknya sebagai destinasi wisata utama.
(TribunTrends/Ninda)