Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama WCS Indonesia dan CMA CGM Group memperkuat kolaborasi dalam memberantas perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar melalui jalur logistik.
Baca Juga: Lampung Jadi Jalur Paling Rawan Peredaran Satwa Liar Ilegal
Kerja sama yang berlangsung sejak 2024 itu telah mendukung puluhan operasi gabungan yang berhasil menyelamatkan ratusan satwa.
Pencapaian tersebut dipaparkan dalam kegiatan yang digelar di Bandar Lampung, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas Wildlife Detection Dog (WDD) atau Anjing Pendeteksi Satwa Liar di Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (2/7/2026).
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan perlindungan tumbuhan dan satwa liar membutuhkan pengawasan yang dilakukan secara kolaboratif dan terintegrasi.
"Jalur logistik merupakan salah satu simpul penting yang perlu terus diperkuat pengawasannya karena dapat dimanfaatkan dalam rantai perdagangan ilegal. Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mendukung pencegahan, deteksi dini, dan penanganan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar," ujar Munawir.
Program WDD diprakarsai WCS Indonesia bersama mitra lokal Jaringan Satwa Indonesia (JSI) untuk mendukung Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan dalam mencegah perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar.
Sejak dimulai pada 2024, kemitraan tersebut telah melakukan penilaian kerentanan pelabuhan, melatih 127 personel pelabuhan dan aparat penegak hukum, serta mengerahkan unit K9 yang mendukung 39 operasi gabungan.
Melalui operasi tersebut, sebanyak 957 ekor satwa berhasil diselamatkan dari jaringan perdagangan ilegal, di antaranya burung kipasan belang, cica daun sayap biru, dan elang brontok.
Dari jumlah itu, 770 ekor telah dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Selain menyelamatkan satwa dilindungi, upaya tersebut juga dinilai berkontribusi dalam mencegah penyebaran penyakit zoonosis yang berpotensi mengancam kesehatan manusia maupun hewan.
Dalam kunjungan ke fasilitas WDD di Kalianda, para delegasi menyaksikan secara langsung kemampuan anjing pendeteksi yang dilatih untuk menemukan satwa liar beserta produk turunannya yang disembunyikan di dalam kargo.
Senior Manager Program Wildlife Trade and Policy WCS Indonesia, Sofi Mardiah, mengatakan perlindungan satwa liar harus berjalan seiring dengan pengamanan rantai pasok logistik.
"Program Wildlife Detection Dog menegaskan pentingnya deteksi dini di garis depan sebagai langkah penting bagi konservasi. Dukungan CMA CGM menunjukkan bahwa perusahaan logistik global dapat menjadi bagian dari solusi dalam mencegah kejahatan terhadap satwa liar," katanya.
Sementara itu, Presiden Direktur CMA CGM Indonesia, Ikram Ghazali, menegaskan pihaknya berkomitmen memperkuat sistem pengamanan di jaringan logistik agar tidak dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan ilegal.
"Melindungi keanekaragaman hayati membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara sektor publik dan swasta. Kami berkomitmen menjalankan peran kami di Indonesia melalui penguatan sistem keamanan dan dukungan terhadap program Anjing Pendeteksi Satwa Liar," tandasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)