Luka Modric dan Cristiano Ronaldo disebut 'di atas opini publik' oleh pelatih kepala Portugal, Roberto Martinez, yang menegaskan bahwa 'usia hanyalah angka' bagi dua legenda sepak bola dari Portugal dan Kroasia.
Pelatih Portugal, Roberto Martinez, memuji Cristiano Ronaldo dan Luka Modric sebagai ikon global yang telah melampaui batas penilaian publik. Menjelang laga babak 32 besar Piala Dunia yang sangat krusial, Martinez menegaskan bahwa kedua kapten legendaris itu menjadi teladan utama bagi generasi pemain muda di seluruh dunia.
Ikon yang menantang hukum waktu
Ketika Portugal bersiap menghadapi Kroasia dalam pertandingan penting babak 32 besar Piala Dunia di Toronto, sorotan tertuju pada dua pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Martinez, yang akan menghadapi Modric untuk kelima kalinya sepanjang karier kepelatihannya, memiliki catatan beragam melawan Kroasia. Selama melatih Portugal, ia mencatat satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan, sementara masa kepemimpinannya di Belgia mencakup satu kemenangan dan satu hasil imbang pada fase grup Piala Dunia sebelumnya. Meski duel taktik menanti, pelatih asal Spanyol itu percaya bahwa baik maestro Kroasia maupun kapten Portugal-nya, Ronaldo, berada di level atlet yang melampaui kritik biasa.
Menilai dampak mereka di panggung internasional, Martinez menegaskan status mereka dalam permainan modern. “Kita berbicara tentang pemain yang berada di atas opini publik. Mereka adalah ikon dunia. Umur panjang dalam karier mereka membuat mereka istimewa. Luka Modric, di usia lebih dari 40 tahun, masih bermain di banyak pertandingan. Hal yang sama berlaku untuk kapten kami, Cristiano Ronaldo,” ujar Martinez kepada media.
Usia hanyalah angka bagi para elite
Meski perdebatan tentang usia mereka dan seberapa lama mereka bisa bersaing di level tertinggi terus berlangsung, Martinez menilai kehadiran mereka di ruang ganti sangat berharga. Kedua pemain veteran itu memiliki sejarah legendaris, setelah bermain bersama di Real Madrid antara 2012 hingga 2018, di mana mereka memenangkan satu gelar La Liga dan empat trofi Liga Champions, di samping banyak penghargaan lainnya. Kini, dengan Ronaldo tampil di Piala Dunia keenamnya dan Modric di edisi kelima, kekuatan mental yang mereka bawa sering kali menjadi faktor penentu dalam laga gugur yang ketat dan penuh tuntutan taktis.
Martinez melanjutkan pujiannya terhadap pengaruh keduanya, dengan mengatakan: “Usia hanyalah angka. Yang penting adalah apa yang mereka lakukan dan betapa pentingnya mereka sebagai panutan di ruang ganti. Modric adalah contoh bagi jutaan atlet dan generasi baru pesepak bola.” Kedua pemain tersebut tetap menjadi pusat harapan negara mereka masing-masing untuk melaju jauh di turnamen yang digelar di Amerika Utara ini.
Menaklukkan kondisi di Toronto
Pertandingan mendatang akan menjadi tantangan fisik bagi kedua tim, dengan suhu tinggi yang diperkirakan terjadi di Kanada. Namun, Martinez menepis anggapan bahwa cuaca akan memberikan keuntungan bagi timnya, dengan menekankan bahwa skuadnya telah berlatih dalam kondisi serupa selama di Palm Beach.
“Tidak ada keuntungan di Piala Dunia,” ujar Martinez saat ditanya mengenai suhu panas. “Persiapan kami dilakukan di Palm Beach dengan tingkat kelembapan tinggi; di sini akan panas juga, tetapi dengan kelembapan yang lebih rendah. Piala Dunia sangat menuntut, dan tim sudah siap menghadapi segala situasi. Pada 1 Juli kami harus siap untuk semuanya. Kami sangat mengenal Kroasia, dan mereka juga tahu kekuatan kami. Ini akan menjadi pertandingan yang kompetitif, apalagi ini adalah laga gugur di Piala Dunia.”
Pertarungan taktik dalam penguasaan bola
Selain kehebatan individu dari dua kapten veteran, laga ini diprediksi akan menjadi pertarungan teknis yang sengit. Pertemuan ini juga membawa beban sejarah besar; Kroasia telah terbiasa dengan kesuksesan di Piala Dunia setelah mencapai final pada 2018 dan finis di posisi ketiga pada 2022. Sementara itu, Portugal berusaha mencatatkan prestasi yang lebih tinggi dalam kemungkinan penampilan terakhir Ronaldo di Piala Dunia, dengan ambisi melampaui pencapaian terbaik mereka sebelumnya, yaitu mencapai semifinal pada tahun 1966 dan 2006. Kedua tim dikenal dengan kemampuan teknis dan keinginan untuk menguasai tempo permainan melalui penguasaan bola, menjadikan lini tengah sebagai area utama pertarungan.
Mengandalkan pengalamannya sebagai mantan analis taktik, Martinez menilai perebutan kendali permainan akan menjadi faktor penentu. “Kuncinya adalah membawa permainan ke arah yang kami inginkan. Kedua tim senang dan membutuhkan bola untuk menyerang serta bertahan. Kuncinya adalah mengendalikan aspek tersebut. Kami sudah pernah bertemu di Nations League, jadi tidak ada rahasia di antara kami,” pungkasnya.