21 Adegan Rekonstruksi Taufik Hidayat, Terungkap Detik-Detik Penganiayaan Brutal terhadap Yuvita 
Rita Lismini July 02, 2026 04:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Sebanyak 21 adegan diperagakan dalam rekonstruksi kasus dugaan penyiksaan dan penyekapan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap Yuvita Tri Rezeki (YTR), Kamis (2/7/2026).

Dalam rekonstruksi tersebut, terungkap rangkaian dugaan penganiayaan yang dialami korban di sejumlah lokasi di Kabupaten Bandung. Polisi menyebut tindakan penganiayaan berat mulai terjadi di lokasi ketiga hingga lokasi keenam.

Rekonstruksi digelar di Gedung PPA-PPO Polda Jawa Barat mulai sekitar pukul 10.00 WIB hingga 13.30 WIB. Taufik Hidayat hadir mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye, tangan terborgol, dan memakai peci putih.

Hadir pula Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Agus Setiadi, para jaksa penyidik, kuasa hukum korban dan tersangka, serta perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Direktur Reserse Kriminal PPA-PPO Polda Jawa Barat, Kombes Rumi Untari, mengatakan rekonstruksi berjalan lancar dengan korban diperankan oleh saksi pengganti.

"Alhamdulillah tak ada penolakan dari tersangka dan tersangka mengakui semua perbuatannya di enam tempat kejadian perkara," kata Rumi.

Meski terdapat enam lokasi kejadian, rekonstruksi hanya dilakukan di tiga lokasi yang menjadi titik utama dugaan penyekapan dan penganiayaan, yakni TKP 3, TKP 5, dan TKP 6.

Menurut Rumi, di TKP pertama belum terjadi penganiayaan, sedangkan di TKP kedua hanya terjadi dugaan penganiayaan ringan, seperti menampar.

"Mulai TKP 3, 5, dan 6 terjadi penganiayaan berat. TKP 3 itu sudah mulai terjadi penyekapan sampai TKP 6," ujarnya.

Ketiga lokasi tersebut berada di wilayah Kabupaten Bandung, yakni Cilengkrang, Ciwaru, dan Cinunuk.

Dalam rekonstruksi, polisi memperagakan total 21 adegan. Dugaan penganiayaan yang diperagakan di antaranya pemukulan menggunakan helm, korban dipukul menggunakan kaki meja berbahan besi, hingga adegan penyabetan menggunakan golok saat kondisi korban disebut sudah kehilangan penglihatan.

Namun, Rumi mengatakan rekonstruksi belum memuat adegan terkait dugaan kekerasan seksual.

"Saat ini belum ada, dan itu masih dalam proses. Tadi kami sudah berdiskusi bersama para jaksa dan LPSK. Kami sepakati untuk tetap mendalami dan mencari bukti-bukti lainnya. Bila ada, kami akan tambah persangkaan pasalnya terhadap pelaku," katanya.

Terkait isu bibir korban digunting, Rumi menyatakan tidak ada adegan yang memperlihatkan tindakan tersebut dan tersangka juga tidak mengakuinya.

"Jadi, bibir itu karena gigi rontok lantaran pukulan berkali-kali sehingga rusak. Ditambah tidak diobati, sehingga lama-lama kondisi bibirnya semakin rusak," jelasnya.

Pernyataan Lengkap Yuvita 

Sebelumnya Yuvita menuturkan dirinya tak hanya mengalami penyekapan dan penyiksaan, Yuvita juga mengaku menjadi korban kekerasan seksual selama berada di bawah kendali pelaku.

Dalam pengakuannya, Yuvita menyebut dirinya beberapa kali berusaha melarikan diri dari penyekapan yang dialaminya.

Namun setiap upaya untuk kabur justru berakhir dengan tindakan penyiksaan yang lebih berat dari pelaku.

Penderitaan yang dialami perempuan berusia 29 tahun itu tidak berhenti pada kekerasan fisik semata.

Sejumlah harta miliknya juga disebut telah dikuasai oleh Taufik selama hubungan tersebut berlangsung.

Mulai dari kendaraan pribadi, gaji yang diterimanya, hingga dana tunjangan BPJS Ketenagakerjaan disebut ikut diambil alih oleh pelaku.

Yuvita menuturkan, pada awal perkenalan Taufik tidak menunjukkan perilaku yang mencurigakan ataupun kasar.

Sikap pelaku saat itu bahkan terlihat biasa dan tidak menimbulkan kecurigaan dari dirinya.

Namun keadaan mulai berubah setelah hubungan mereka berjalan beberapa waktu.

Menurut pengakuannya, tindakan kekerasan mulai terjadi sekitar satu minggu hingga satu bulan setelah mereka bersama.

"Waktu awal ketemu dia baik-baik aja, cuma setelah kurang lebih satu minggu atau satu bulan, mata saya jadi rusak," kata Yuvita dikutip dari Youtube Curhat Bang Denny Sumargo, Senin (29/6/2026).

Penglihatan Yuvita menjadi salah satu bagian yang pertama kali menjadi sasaran kekerasan pelaku.

Diduga, kondisi tersebut sengaja diciptakan agar korban semakin sulit melarikan diri dan bergantung sepenuhnya kepada pelaku.

"Selama 2 tahun ga bisa keluar kosan karena sudah gak bisa lihat," ucapnya lagi.

Karena ketakutan, Yuvita pun mengaku tak berani melawan. Bahkan jika ia bersuara sedikit saja saat disiksa, penyiksaan akan lebih parah.

"Jadi kalau misalkan disiksa, terus saya mengeluarkan suara, sama dia disiksa lagi. Jadi saya gak bisa ke mana-mana," tutur dia.

Menurut dia, sang kekasih bekerja sebagai debt collector.

"Dia kan kerjanya debt collector, kalau dia pergi nagih ke konsumen, saya disuruh tidur, kalau ikut disuruh pakai masker," katanya lagi.

Berawal dari mata, luka yang dialami Yuvita pun kini hampir seluruh badan,

"Saya sering dipukul pertama mata dulu, terus telinga, kaki sama bedog (golok). Dipaksa untuk pakai tato sama dia," ucapnya.

Selama disekap hampir tiga tahun, Yuvita mengaku hanya diberi makan satu kali.

"Kalau makan sehari cuma satu kali, itu juga kalau aku suka makan sendiri, terus sisanya disuruh tiduran di kamar mandi, karena aku gak bisa lihat, jadi mau mandi gimana gitu kan," katanya.

Bahkan untuk buang air besar pun, kata dia, ia sehari-harus harus memakai pampers yang dibelikan oleh pelaku.

Yuvita pun akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh penjaga kos karena kondisi kepalanya yang semakin parah dan terus mengeluarkan cairan.

"Aku dianter ke sini sama yang punya kosan. Jadi dia tuh make motor, aku sama yang punya kosan pakai mobil (taksi online) ke sini," ucapnya.

Saat masih bekerja, kata Yuvita, sang kekasih sering memarahi atasannya.

"Hampir semua atasan aku sama dia dimarahin, jadi aku daripada gimana-gimana ya mendingan keluar aja," kata dia.

Kini semua harta benda milik Yuvita sudah habis dikuasai oleh pelaku.

"Motor, iPhone, BPJS aku, gaji, aku juga minjem kakak sebagian, semua diambil sama dia, bilangnya buat sehari-hari. Aku ikut aja, uang juga sama dia. Dia ngerokok, suka minum juga, paling aku dikasih makan sama jajan, satu kali, kadang dua kali," ucapnya.

Terkait kekerasan seksual yang dialami korban, hal itu diungkap oleh kakak iparnya, Melanie.

Saat itu Denny Sumargo menanyakan soal dugaan kekerasan seksual.

"Jelas itu, sudah pasti tidak mungkin tidak (kekerasan seksual)," ungkap Melanir.

Bahkan menurut pengakuan Yuvita, dirinya kerap disiksa jika menolak ajakan pelaku untuk berhubungan suami istri.

"Saya gak berani menanyakan, cuma kemarin kebetulan ada yang bertanya. Dia bilang 'iya, kalau saya nggak mau disiksa'," tutur Melanie.

Kondisi Yuvita 

Setelah kondisinya yang sangat memprihatinkan bikin pilu, kini Yuvita mulai menunjukkan kondisi yang mulai membaik. 

Sebelumnya Yuvita sudah menyampaikan bahwa dirinya masih memiliki semangat hidup. 

Ia bahkan berharap masih bisa melihat setelah itu ingin membuka warung sembako. 

Adik kandung korban, Syahrul Ulum (26), mengungkapkan bahwa kalimat pertama yang disampaikan YTR setelah mereka bertemu adalah permintaan maaf kepada keluarga.

"Kalimat pertama yang keluar itu, dia bilang minta maaf. Dia juga bilang pengen bisa lihat lagi, pengen bisa melihat lagi," ujar Syahrul, Senin (22/6/2026).

"Dia bilang nanti kalau ada rezeki pengen membuka warung sembako, pengen dagang," katanya.

Harapan untuk berdagang dan memiliki usaha sendiri menjadi simbol semangat YTR untuk bangkit dari masa-masa sulit yang telah menghancurkan sebagian hidupnya.

Terbukti kini YTR semangat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi atau kerap disapa KDM turut memantau langsung perkembangan kondisi YTR dan membahas rencana tim medis untuk melakukan rekonstruksi wajah korban.

Momen itu terlihat dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71 pada Rabu (1/7/2026).

Dalam video tersebut, Dedi bertemu dengan kakak, kakak ipar, serta dokter yang menangani YTR.

Ia pun menanyakan secara langsung perkembangan kesehatan korban.

Keluarga menyebut kondisi YTR kini mulai membaik karena sudah dapat berjalan, duduk, berbicara, hingga makan dengan lebih baik.

Meski demikian, korban masih harus menjalani serangkaian perawatan medis lanjutan untuk memulihkan kondisinya secara menyeluruh.

Sudah Bisa Jalan dan Makan

"Lebih baik, udah bisa jalan, duduk, udah bicara, udah bisa makan, kemarin minta pempek," ujar kakak ipar YTR.

Dedi lantas menanyakan soal tahapan pemulihan kesehatan YTR pada sang dokter.

Sang dokter menyebut tahap pertama pemulihan YTR adalah dengan memulihkan gizinya serta menghilangkan infeksinya.

"Sekarang rencana tahapan pemulihan kesehatannya apa saja?" tanya Dedi Mulyadi.

"Pertama tahap pemulihan gizi dan sebagainya untuk menghilangkan infeksi yang sudah bertahun-tahun, itu yang paling bahaya kalau infeksi menyebar ke seluruh darah, itu bisa menyebabkan kematian, sekarang sudah ada perbaikan, kemarin operasi dibersihkan semua luka di bagian (dahi)," ucap sang dokter.

Tahap kedua, dokter mengaku akan melakukan rekonstruksi wajah pada YTR. Namun, rekonstruksi wajah itu akan memakan waktu sekitar satu tahun lantaran dilakukan bagian per bagian wajah dan tubuh.

"Saya sudah merencanakan itu proses rekonstruksi kurang lebih 1 tahun pak," ujar dokter YTR.

"Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk merekonstruksi wajah Vita," tulis Dedi Mulyadi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.