Related dengan Hasil MBTI? Begini Penjelasan Psikologinya
Joko Widiyarso July 02, 2026 05:04 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Mungkin Anda pernah mendengar seseorang berkata,” Aku INFJ, makanya suka overthinking.”

Tak sedikit juga orang yang mencantumkan hasil MBTI di bio Instagram sebagai cara untuk memperkenalkan diri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) menjadi salah satu tes  kepribadian yang paling popular.

Melalui berbagai pertanyaan, tes ini mengelompokkan seseorang ke dalam 16 tipe kepribadian berdasarkan empat dimensi utama, yaitu Introvising (I) atau Extraversion (E), Sensing (S) atau Intuition (N), Thinking (T) atau Feeling (F), serta Judging (J) atau Perceiving (P).

Ramainya MBTI juga didorong oleh media sosial.

Berbagai konten yang membahas karakter setiap tipe kepribadian, kecocokan dalam hubungan, hingga pilihan karier berdasarkan MBTI pun dapat dengan mudah ditemukan.

Tidak sedikit orang yang merasa deskripsi hasil tes tersebut benar-benar menggambarkan dirinya.

Lalu, apakah MBTI memang mampu menjelaskan kepribadian seseorang secara akurat?

Apa Itu MBTI

MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, pada pertengahan abad ke-20. 

Keduanya terinspirasi oleh teori tipe psikologis yang diperkenalkan oleh psikiater Swiss, Carl Gustav Jung, dalam bukunya Psychological Types yang terbit pada tahun 1921.

Berbeda dengan tes psikologi yang digunakan untuk mengukur kemampuan atau kondisi mental seseorang, MBTI dibuat untuk membantu seseorang memahami cara mereka berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain. 

Menurut The Myers-Briggs Company, tidak ada tipe kepribadian yang lebih baik dibandingkan tipe lainnya.

Setiap tipe memiliki kelebihan dan caranya masing-masing dalam menghadapi berbagai situasi sehari-hari.

Mengapa Banyak Orang Merasa Hasil MBTI Sangat Akurat?

Salah satu alasan utama MBTI begitu diminati adalah karena banyak orang merasa hasil tesnya mampu “membaca” diri mereka dengan sangat tepat.

Misalnya, seseorang yang mendapatkan hasil sebagai introvert mungkin merasa deskripsi seperti “lebih nyaman menghabiskan waktu sendirian” atau “mudah lelah saat bersosialisasi” benar-benar sesuai dengan pengalaman pribadinya.

Sementara itu, seseorang yang mendapatkan hasil extrovert mungkin merasa penjelasan mengenai energi yang diperoleh dari interaksi sosial juga sangat menggambarkan dirinya.

Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencari penjelasan mengenai dirinya sendiri.

Mengetahui alasan mengapa seseorang berpikir, merasa, atau bertindak dengan cara tertentu dapat membantu seseorang lebih memahami dirinya.

Pencarian identitas dan pemahaan diri merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang umum, terutama pada masa remaja hingga dewasa muda.

Pada fase inilah banyak individu mulai mencari berbagai cara untuk mengenali karakter, minat, dan kelebihan yang dimilikinya.

Tidak heran jika tes MBTI kemudia menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda.

Hasil tes sering kali menjadi titik awal seseorang untuk refleksi diri, memahami cara berkomunikasi dengan orang lain, atau bahkan menentukan pilihan passion maupun karier kedepannya.

Namun, para psikolog juga mengingatkan bahwa merasa “cocok” dengan suatu hasil tes tidak selalu berarti tes tersebut sepenuhnya menggambarkan kepribadian seseorang secara ilmiah.

Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat manusia cenderung merasa bahwa suatu deskripsi benar-benar sesuai dengan dirinya.

Salah satunya adalah Barnum Effect atau Forer Effect, yaitu sebuah fenomena psikologis yang pertama kali diperkenalkan melalui eksperimen psikologi Amerika, Bertram Forer, pada tahun 1948.

Dalam eksperimennya, Forer memberikan tes kepribadian kepada para mahasiswa. Setelah itu, setiap peserta menerima hasil yang dianggap sebagai analisis pribadi mereka.

Padahal, seluruh peserta memperoleh deskripsi yang sama.

Menariknya, sebagian besar tetap menilai hasil tersebut sangat akurat dan merasa deskripsi itu benar-benar menggambarkan diri mereka.

Menurut Forer, orang cenderung merasa bahwa deskripsi yang sebenarnya bersifat umum benar-benar menggambarkan dirinya jika ia percaya deskripsi itu dibuat khusus untuknya.

Contohnya seperti kalimat, “Anda  ingin disukai orang lain, tetapi terkadang juga membutuhkan waktu untuk sendiri,” atau “Dalam situasi tertentu Anda merasa percaya diri, tetapi ada kesempatan lain Anda bisa merasa ragu.”

Pernyataan semacam itu dapat dirasakan oleh banyak orang karena menggambarkan pengalaman yang umum dialami manusia.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa Barnum Effect tidak berarti MBTI tidak berguna atau seluruh hsilnya bersifat umum.

Banyak deskripsi MBTI yang memang disusun berdasarkan teori kepribadian tertentu.

Namun, fenomena ini menjelskan mengapa seseorang bisa merasa hasil tesnya sangat related, bahkan ketika beberapa deskripsi sebenarnya cukup luas.

Selain Barnum Effect, ada pula konsep conformation bias.

Menurut psikologi, manusia juga memiliki kecenderungan lebih mudah memperhatikan dan mengingat informasi yang mendukung keyakinannya dibandingkan informasi yang bertentangan.

Misalnya, seseorang memperoleh hasil MBTI sebagai tipe introvert.

Ketika suatu hari ia memilih menolak ajakan berkumpul karena ingin beristirahat, ia mungkin langsung berpikir, “Benar, aku memang introvert.”

Namun, ketika di hari lain ia menikmati berkumpul selama berjam-jam bersama teman dekat atau aktif dalam sebuah acara, pengalaman tersebut bisa saja dianggap sebagai pengecualian.

Akibatnya, seseorang semakin yakin bahwa hasil MBTI benar-benar menggambarkan dirinya karena lebih banyak mengingat berbagai kondisi yang sesuai dengan hasil tes dibandingkan yang tidak sesuai.

Apakah MBTI Bisa Memengaruhi Cara Seseorang Bersikap?

Selain membantu seseorang untuk mengenali dirinya, hasil MBTI juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Terdapat konsep  self-fulfilling prophecy,  yaitu situasi ketika suatu keyakinan atau ekspektasi seseorang memengaurhi perilakunya sehingga harapan tersebut akhirnya tampak menjadi kenyataan.

Sebagai contoh, seseorang yang mengetahui dirinya memiliki tipe introvert mungkin mulai berpikir bahwa ia memang tidak cocok berbicara di depan umum.

Karena keyakinan tersebut, ia menjadi lebih sering menghindari kesempatan untuk kegiatan sosial. 

Semakin jarang mencoba, kemampuan komunikasinya pun tidak berkembang. 

Padahal akhirnya, ia semakin yakin bahwa dirinya memang “tidak bisa” karena merupakan seorang introvert.

Padahal, yang memengaruhi bukan semata-mata tipe kepribadiannya, melainkan juga keputusan-keputusan yang diambil setelah mempercayai label tersebut.

Hal serupa juga dapat terjadi pada tipe keprbadian lain. 

Seseorang mungkin menganggap dirinya kurang teratur atau terlalu perfeksionis hanya karena merasa itu sesuai dengan hasil MBTI yang diperolehnya.

Oleh karena itu, sebaiknya hasil MBTI tidak dijadikan sebagai label yang membatasi potensi seseorang.

Karena kepribadian bersifat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan, pendidikan, serta berbagai pengalaman yang membentuk diri seseorang.

 (MG-Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.