Kata BMKG soal Pemicu Gelombang Panas di Eropa, Bisa Terjadi di RI?
GH News July 02, 2026 05:08 PM
Jakarta -

Gelombang panas atau heatwave yang melanda sejumlah negara di Eropa telah memicu sekitar 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026.

Menanggapi fenomena tersebut, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan penyebab gelombang panas di Eropa terutama dipicu oleh kombinasi pola atmosfer, letak geografis, hingga dampak pemanasan global.

Menurutnya, salah satu faktor utama adalah terbentuknya pola atmosfer omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di wilayah Eropa.

"Heat wave di Eropa terutama dipicu oleh pola atmosfer seperti *omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di lintang menengah Eropa. Posisi garis lintang Eropa yang berada di zona subtropis-temperate membuatnya rentan terhadap aliran udara panas dari selatan ketika sirkulasi jet stream terganggu," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (1/7/2026).

Guswanto menjelaskan, omega block merupakan kondisi ketika aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega.

"Hal ini menciptakan 'kemacetan atmosfer' saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa," ucapnya.

Selain itu, terdapat fenomena heat dome, yakni kondisi ketika tekanan udara tinggi bertindak seperti 'tutup panci' yang memerangkap udara panas di dekat permukaan. Udara yang turun mengalami kompresi sehingga suhunya semakin meningkat, sementara langit yang cerah membuat radiasi matahari terus memanaskan permukaan bumi.

Guswanto juga menjelaskan, posisi geografis Eropa turut berperan dalam meningkatkan risiko gelombang panas. Sebagian besar wilayah Eropa berada pada lintang 35-55 derajat LU, yakni zona transisi antara wilayah subtropis dan iklim sedang (temperate). Ketika sirkulasi atmosfer bergeser, massa udara panas dari wilayah subtropis lebih mudah terdorong ke kawasan tersebut sehingga memicu lonjakan suhu yang ekstrem.

Selain itu, letak Eropa di lintang menengah membuatnya kerap menerima intrusi massa udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara. Dalam kondisi omega block, pola atmosfer tersebut berperan layaknya 'penyedot' yang menarik massa udara panas ke arah utara dan membuatnya bertahan lebih lama di atas Eropa.

Di samping faktor atmosfer, perubahan iklim juga dapat membuat gelombang panas di Eropa semakin intens. Laju peningkatan suhu di Eropa tercatat mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, atau sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Selain itu, upaya pengendalian polusi udara di Eropa juga secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan. Berkurangnya partikel di atmosfer yang sebelumnya dapat memantulkan sebagian radiasi matahari membuat lebih banyak panas terserap oleh permukaan bumi.

Penyusutan tutupan es dan salju juga mengurangi kemampuan permukaan bumi memantulkan sinar matahari. Akibatnya, lebih banyak energi matahari diserap sehingga mempercepat pemanasan dan meningkatkan intensitas gelombang panas.

Di sisi lain, Guswanto mengatakan cuaca panas di Indonesia saat ini lebih sering disebabkan oleh gerakan semu matahari dan langit cerah saat kemarau.

"Gelombang panas (Heatwave) hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis cepat berubah dan tidak stabil," ucapnya.

Ia menegaskan fenomena panas belakangan ini bukanlah gelombang panas, melainkan cuaca panas musiman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.