TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Masa libur sekolah menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pasalnya, realisasi PAD pariwisata Kabupaten Trenggalek hingga pertengahan tahun ini baru menyentuh angka 38 persen dari total target yang ditetapkan sebesar Rp 10 miliar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disparbud Trenggalek, Toni Widianto, menyatakan pihak dinas masih melakukan rekapitulasi total jumlah kunjungan wisatawan hingga hari terakhir masa libur sekolah.
Kendati dari pantauan berkala di lapangan menunjukkan adanya lonjakan kunjungan yang cukup signifikan.
Baca juga: Terdampak Program MBG Libur, Harga Sayuran di Kota Blitar Anjlok
"Kalau untuk jumlah kunjungan, kami masih merekapitulasi sampai hari terakhir kemarin. Namun, secara umum kami pantau ada peningkatan yang cukup signifikan," ujar Toni Widianto saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).
Toni menjelaskan, sesuai evaluasi triwulanan, tren capaian PAD tahun ini menunjukkan grafik yang jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada akhir Maret tahun lalu capaian target baru menyentuh angka 12 persen, sedangkan pada periode yang sama tahun ini telah berhasil mencapai 22 persen.
Toni mengaku di masa libur sekolah di pertengahan tahun, persentase realisasi tersebut merangkak naik hingga menyentuh angka 38 persen.
"Sampai hari kemarin, kami amati karena ada libur sekolah ini, realisasi pendapatan kita sudah mencapai sekitar 38 persen. Jika dibandingkan dengan tahun kemarin, di medio pertengahan Juni itu mungkin masih sekitar 23 persen," jelasnya.
Toni mengatakan performa yang lebih positif dibandingkan tahun lalu, capaian tersebut belum memenuhi target internal sebesar 50 persen pada bulan Juni.
Dikatakannya, taktor cuaca dinilai menjadi kendala utama yang membayangi tingkat kunjungan wisatawan di Trenggalek.
Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi sepanjang tahun 2025 menjadi penyebab utama penurunan angka kunjungan pada tahun lalu.
Namun, untuk tahun ini, dirinya tetap optimistis target Rp 10 miliar dapat terpenuhi sepenuhnya seiring kondisi cuaca yang mulai membaik.
"Mudah-mudahan dengan cuaca yang mendukung, saya tetap optimistis nanti bisa mencapai target tersebut," imbuhnya.
Lebih lanjut, Toni memaparkan kawasan pesisir pantai masih menjadi destinasi favorit utama bagi para pelancong. Pantai Mutiara dan Pantai Pasir Putih tetap mendominasi kunjungan.
Di sisi lain, Pantai Pelang mencatatkan lonjakan kunjungan yang impresif hingga mencapai 50 persen dibandingkan tahun lalu.
Ia mengaku kenaikan ini didorong oleh semakin tertatanya destinasi. Seperti kawasan konservasi penyu di Taman Kili-Kili dan eksotisme Pantai Kuyon yang kini menjadi pilihan alternatif populer bagi wisatawan.
"Mungkin sekitar Pantai Pelang sudah cukup tertata, yaitu Kili-Kili dan Pantai Kuyon yang menjadi pilihan alternatif untuk wisatawan. Sehingga mereka setiap kali datang berkunjung ke beberapa tempat sekaligus," urainya.
Sementara itu, untuk destinasi legendaris seperti Pantai Prigi, Toni menyebutkan kondisinya masih relatif standar tanpa adanya lonjakan yang berarti.
Hal itu disebabkan oleh karakteristik wisatawan yang mayoritas lebih memilih destinasi yang mendukung aktivitas interaksi langsung dengan air.
Toni juga tidak menampik bahwa faktor infrastruktur jalan akses menuju tempat wisata sangat memengaruhi animo pengunjung.
Di Pantai Pelang misalnya, meskipun kerusakan jalan tinggal menyisakan sebagian kecil, kondisi hujan kerap menyulitkan wisatawan untuk melintas jika jalanan basah.
"Kalau terkena hujan itu memang sangat menyulitkan pengunjung untuk bisa mendatangi lokasi. Tetapi setelah ada pengerasan di akhir tahun kemarin, sampai saat ini cukup mendukung aktivitas wisatawan di Pantai Pelang," tutupnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)