Misteri Kematian Sekretaris Dinas Perumahan Tak Kunjung Terungkap, Keluarga Heran
Noval Andriansyah July 02, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Sidoarjo - Kabut misteri yang menyelimuti kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemkab Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati (50), masih menyisakan ganjalan besar.

Baca juga: Pria Misterius Bawa Mobil Berisi Jenazah ASN, lalu Ditinggal di Parkiran Bandara

Sepekan pasca-jasadnya ditemukan di dalam mobil dinas Toyota Innova bernopol M 1090 GP di area parkir Bandara Juanda, Sidoarjo, pihak kepolisian belum juga menetapkan tersangka ataupun menguak motif di balik kematian tragis tersebut.

Kondisi ini membuat pihak keluarga heran sekaligus kecewa. Pasalnya, rentetan alat bukti mulai dari rekaman CCTV, struk belanja, hingga foto wajah terduga pelaku yang berstatus pria misterius berkacamata sudah dikantongi oleh tim penyelidik sejak hari pertama.

Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bisa Wijaya, secara terbuka mendesak Satreskrim Polresta Sidoarjo untuk segera menuntaskan teka-teki yang dinilai sengaja dibiarkan berlarut-larut ini.

"Sampai hari ketujuh ditemukannya jenazah Ibu Ruly, belum ada kabar baik. Pihak keluarga mendesak karena banyak sekali kejanggalan yang dirasakan, terutama menyangkut siapa lelaki berkacamata itu."

"Kemudian, apa hubungannya dengan korban, dan peristiwa apa yang melatarbelakangi dugaan penghilangan nyawa ini," tegas Risang Bisa Wijaya di sela agenda tahlilan malam ketujuh di rumah duka, Gang Flamboyan, Kota Bangkalan, Rabu (1/7/2026), dilansir Surya.co.id.

Foto Terduga Pelaku Cocok dengan Rekaman CCTV Bandara

Risang memaparkan, draf petunjuk mengenai sosok pria yang diduga membawa jasad korban ke bandara sebenarnya sudah menjadi rahasia umum setelah video kolase kebersamaan almarhumah Ruly dengan pria tersebut viral di akun TikTok korban sejak Minggu (28/6/2026).

Pria berkulit putih dengan kacamata minus tersebut terlihat mengenakan kaos biru bergaris merah-putih, pakaian yang identik dengan rekaman kamera pengawas (CCTV) Bandara Juanda saat ia keluar meninggalkan mobil dinas korban.

Tak hanya itu, kuasa hukum juga menyentil penemuan barang bukti krusial berupa sandal hotel berwarna merah maroon di dalam mobil Innova tersebut yang diduga kuat milik pelaku.

"Kecocokan baju, kecocokan struk pembelian, hingga kecocokan sandal hotel maroon yang dipakai pria itu sudah diketahui polisi sejak awal jenazah ditemukan."

"Dengan sumber daya dan jaringan intelijen kepolisian, seharusnya kasus ini bisa selesai kilat. Wajahnya jelas, dia pasti punya tetangga, punya saudara. Ada apa kok sesulit ini?" cetus Risang dengan nada heran.

Senggol Minimnya Koordinasi Lintas Polres dan Polda

Berdasarkan draf informasi yang diterima pihak keluarga, pria berkacamata yang diburu tersebut disinyalir merupakan warga luar pulau yang selama ini bertempat tinggal menetap di wilayah Kabupaten Malang.

Risang menduga, mandeknya pengungkapan kasus ini selama tujuh hari diakibatkan oleh minimnya koordinasi berkala antara Polresta Sidoarjo dengan jajaran Polres Malang maupun Polres Bangkalan.

Padahal, jejak digital perjalanan pelaku mulai dari CCTV bandara hingga CCTV hotel di Malang sudah terlacak sempurna.

Keluarga pun mendesak agar penanganan kasus ditarik atau setidaknya di bawah asistensi langsung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim demi mempermudah sekat birokrasi antarwilayah hukum.

"Keinginan keluarga tentu satu atau dua hari pelaku sudah tertangkap. Kami mendesak kepolisian segera bergerak cepat agar misteri kematian terutama motifnya bisa segera terungkap."

"Baik atau buruk hasilnya nanti tidak penting bagi kami, yang terpenting tidak ada lagi ganjalan teka-teki atas hilangnya nyawa Ibu Ruly," pungkas Risang.

Identitas Terkuak 

Sebelumnya, Risang juga mengungkap sosok pria berkacamata yang bersama Ruly dan membawa jasad pejabat Pemkab Bangkalan itu ke Bandara Juanda Surabaya. Risang menyebut pria tersebut berinisial E. 

"Inisial terduga pelakul E, berasal dari luar pulau (Jawa) tapi berdomisili di Kabupaten Malang. Usianya sekitar 45 tahun dan pekerjaannya tercatat sebagai wiraswasta," ungkap Risang pada Selasa (30/6/202).  

Risang menyebut sandal yang ditemukan di mobil itu berwarna merah maron bertuliskan nama sebuah hotel di Kota Batu. 

"Ditemukan dalam mobil dinas. Sandal hotel itu ada ditemukan di TKP pembuangan mayat (area parkir Juanda)," tegas Risang.  

Risang menyebut sandal hotel berwarna merah maroon itu cocok dengan yang dipakai terduga pelaku seperti dalam foto-foto yang beredar. 

Sebelumnya banyak beredar foto-foto kebersamaan almarhumah dan sosok terduga pelaku. 

Pada pojok bawah sisi kiri bertuliskan A9 2020 dan 06/19 dengan keterangan waktu 14:09.  

Risang membenarkan bahwa perempuan dalam video berdurasi 33 detik yang beredar luas itu adalah almarhumah Ruly. Adapun keterangan bertuliskan A9 merupakan jenis ponsel Oppo milik korban Ruly.  

"Keterangan 19 itu adalah tanggal Hari Jumat di Alun-alun Kota Batu," beber Risang.  

Disinggung terkait belum ada kejelasan berkaitan perkembangan ungkap perkara kematian Ruly hingga H+6, Risang memastikan pihak kepolisian juga telah memiliki profil bahkan lebih lengkap terkait terduga pelaku.  

"Info terakhir belum tertangkap, tim dari Polresta Sidoarjo masih melakukan pencarian dan pengejaran terhadap terduga pelaku," pungkas Risang.  

Sosok E yang bersama Ruly di alun-alun Batu ini sama dengan pria bermasker yang tertangkap kamera CCTV sedang masuk ke area loket parkir Bandara Juanda pada Sabtu (20/6/2026). 

Dari CCTV itu terpantau mobil dinas tempat Ruly ditemukan tewas, masuk ke area bandara.  

Tampak seorang pria mengenakan masker wajah di kursi kemudi, sementara jok depan sisi kiri posisinya direbahkan.

Di situ tempat duduk jenasah Ruly dalam posisi kaki menekuk. 

Kesesuaian antara sosok di alun-alun Kota Batu dan pengemudi mobil dinas Ruly itu dibenarkan kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya. 

"Dari kaca mata pribadi, saya cocok. Ada kesesuaian pada rambut, kaca mata, lebar dahi, kaos. Paling mencolok itu pada gagang kaca mata ada tanda kuning, apalagi kaos paling cocok," ungkap Risang kepada sejumlah awak media pada Minggu (28/6/2026). 

Mengarah ke Pembunuhan

Kini, penyidik kepolisian tengah mendalami dugaan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya Ruly. 

Dugaan penganiayaan mencuat, menyusul hasil autopsi yang menunjukkan adanya indikasi asfiksia atau kondisi kekurangan oksigen pada tubuh korban sebelum mengembuskan napas terakhir.

Selain itu, ditemukan pula tanda kekerasan fisik pada bagian luar tubuh korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, tim medis menemukan luka robek pada cuping telinga kiri korban.

Luka tersebut diduga kuat terjadi akibat benturan atau kekerasan benda tumpul.

Kepala Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, memaparkan sejumlah temuan khas terkait kondisi asfiksia yang dialami korban saat pemeriksaan dilakukan.

"Ditemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata. Yang ketiga, ditemukan kebiruan pada selaput lendir bibir atas maupun bawah. Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia," terang AKBP Ni Made Wiatini pada Sabtu (27/6/2026).

Hasil Pemeriksaan Organ Dalam

Indikasi meninggal lemas ini juga diperkuat oleh hasil pemeriksaan organ dalam korban. 

Sejumlah organ vital mengalami perubahan warna akibat pembendungan darah atau kongesti yang mengarah pada kondisi kekurangan oksigen sebelum meninggal.

  • Lidah dan epiglotis berwarna merah kehitaman akibat kongesti.
  • Saluran pernapasan bagian atas mengalami pembendungan darah.
  • Dinding lambung korban ditemukan berwarna merah kehitaman.

Selain itu, tim dokter memastikan bahwa korban tidak dalam kondisi hamil. Perut korban yang tampak membesar saat ditemukan, murni disebabkan oleh proses pembusukan alami.

Ruly Yunis diperkirakan telah meninggal dunia sekitar dua hingga tiga hari sebelum proses autopsi dilakukan, sementara hasil swab vagina dinyatakan negatif dari jejak sperma.

Guna mengungkap penyebab pasti meninggalnya Ruly Yunis, penyidik telah mengirimkan sejumlah sampel organ dalam korban ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur.

Sampel-sampel tersebut kini tengah menjalani uji toksikologi secara mendalam.

Langkah medis ini diambil untuk memastikan apakah kondisi asfiksia yang dialami korban dipicu oleh pengaruh zat beracun tertentu, penyumbatan saluran napas secara paksa, atau faktor medis lainnya.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan intensif akan terus berjalan untuk mengungkap kebenaran di balik meninggalnya Ruly Yunis yang tragis ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.