Inflasi Sumut Tembus 4,79 Persen pada Juni 2026, Harga Pangan dan Bensin Jadi Pemicu
Randy P.F Hutagaol July 02, 2026 07:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,79 persen pada Juni 2026.

Angka tersebut melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 1,25 persen, menandakan tekanan harga kebutuhan masyarakat masih cukup tinggi.

Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra mengatakan, inflasi tahunan terjadi seiring kenaikan harga berbagai komoditas, terutama kelompok pangan yang masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi daerah.

“Pada Juni 2026, inflasi year-on-year Sumatera Utara tercatat sebesar 4,79 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,08 pada Juni 2025 menjadi 113,26 pada Juni 2026. Sementara inflasi bulanan atau month-to-month sebesar 0,23 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 0,90 persen,” ujar Asim dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (2/7/2026).

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 7,57 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan. Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 2,70 persen terhadap inflasi Sumatera Utara.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 9,55 persen, transportasi 4,75 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 3,59 persen, serta pendidikan 3,45 persen.

Menurut Asim, sejumlah komoditas strategis menjadi pemicu utama inflasi tahunan. Emas perhiasan memberikan andil terbesar sebesar 0,53 persen, diikuti cabai merah 0,41 persen, bensin 0,18 persen, serta beras dan cabai rawit yang masing-masing menyumbang 0,17 persen.

Selain komoditas tersebut, kenaikan harga ikan tongkol, tomat, minyak goreng, angkutan udara, ikan dencis, ikan kembung, biaya pendidikan perguruan tinggi, daging ayam ras, telepon seluler hingga telur ayam ras juga turut memberi tekanan terhadap inflasi sepanjang Juni 2026.

“Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar yakni 2,70 persen terhadap inflasi tahunan Sumatera Utara. Ini menunjukkan pergerakan harga pangan masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi daerah,” jelasnya.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month), Sumatera Utara mengalami inflasi sebesar 0,23 persen pada Juni 2026.

Berdasarkan data BPS, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,14 persen.

Selanjutnya bawang putih dan tarif angkutan udara masing-masing menyumbang 0,08 persen, disusul cabai merah dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil 0,05 persen.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi.

Tomat menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,17 persen, diikuti daging ayam ras 0,07 persen, serta sawi hijau dan brokoli yang masing-masing menyumbang deflasi 0,03 persen. 

Bawang merah juga tercatat menjadi penyumbang deflasi sebesar 0,02 persen.

BPS juga mencatat seluruh daerah penghitung inflasi di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan pada Juni 2026.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,25 persen dengan IHK 115,71, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 4,46 persen dengan IHK 112,84.

Asim menambahkan, tingkat inflasi tahunan Juni tahun ini menunjukkan tren yang lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya.

Pada Juni 2024 inflasi tercatat sebesar 3,35 persen, sedangkan pada Juni 2025 hanya 1,25 persen.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi komoditas pangan agar tekanan inflasi dapat tetap terkendali pada bulan-bulan mendatang,” pungkasnya.

(cr26/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.