Penulis: Ir. Bowo Suratmanto, S.Hut, IPM
Praktisi Kehutanan
LAHAN gambut di Indonesia yang mencapai luas lebih dari 20 juta hektare (Ha), merupakan suatu ekosistem yang mempunyai karakteristik yang unik, baik secara struktur maupun tekstur tanahnya.
Dengan luasan yang cukup besar tersebut tentu akan menimbulkan banyak tantangan dalam pengelolaannya.
Ketika musim hujan akan terjadi kebanjiran dan musim kemarau beresiko terjadi kekeringan dan kebakaran (Karhutla).
Gambut yang mempunyai sifat irreversible drying (kering tidak balik), membuat kondisi gambut akan sangat beresiko terjadi kerusakan apabila ada kesalahan dalam pengelolaan.
Water management adalah merupakan suatu pengelolaan tata air di lahan gambut, yang mencakup skala makro maupun mikro dan yang tidak kalah penting adalah system monitoringnya.
Makro Water Management yang termasuk didalamnya pengelolaan dalam skala lanskap, baik itu saluran air, bangunan infrastruktur pendukung, jaringan drainase, dan lain-lain.
Sedangkan Mikro Water Management antara lain seperti pengaturan parit-parit dalam petak, water control, dan lain-lain.
Dan yang tidak kalah pentingnya yaitu system monitoring water management, yang terkait dengan tinggi muka air tanah, tinggi muka air kanal, elevasi pasang surut sungai, data curah hujan harian, laju penurunan gambut dan data-data yang dibutuhkan lainnya.
Ada beberapa pihak yang sangat berperan penting dalam pengelolaan gambut, yaitu pemerintah, swasta dan Masyarakat.
Ketiga pihak tersebut yang diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem gambut.
Program-program yang direncanakan dan dijalankan harus bersifat kolaboratif dan secara kontinyu serta konsisten.
Karena apabila dijalankan oleh masing-masing pihak akan terjadi ketimpangan dan tidak keselarasan dalam pengelolaan.
Ego sectoral harus dapat diminimalisir dan tetap mengutamakan kepentingan Bersama baik itu pada musim kemarau maupun penghujan yang saat ini sangat sulit untuk diprediksi.
Salah satu contoh PT Rimba Hutani Mas (RHM), selaku pemegang izin Hutan Tanaman Industi di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumsel berkomitmen serius dalam penanganan areal lahan gambut.
Selain pengelolaan bertujuan untuk menoptimalkan hasil produksi tanaman komoditas, juga fokus dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut.
Beberapa resiko yang dikhawatirkan terjadi antara lain kekeringan dan kebakaran pada saat musim kemarau, kebanjiran pada saat musim penghujan, juga bahaya penurunan gambut akibat operasional kegiatan.
PT RHM saat ini terus mencoba melakukan perbaikan baik di skala makro, mikro dan monitoring water management serta terus melakukan evaluasi terhadap semua kegiatan dari semua lini.
Selain juga terus berkolaborasi baik dengan pemerintah, Perusahaan lain yang berada di sekitaran ijin konsesi dan Masyarakat yang berbatasan langsung dengan PT RHM.
Dengan adanya isu EL Nino Godzila yang kemungkinan melanda di wilayah Indonesia, PT RHM telah menetapkan strategi khusus untuk menghadapinya, dengan nama program 4 Pilar Water Management.
Pilar tersebut antara lain, Preparation, Prevention, Early Detection dan Rapid Respon.
Keempat pilar tersebut sangat penting dalam menghadapi fenomena El Nino, sesuai dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, dan sampai dengan saat ini dapat berhasil diterapkan di lahan gambut.
Dan tentu saja diperlukan monitoring dan evaluasi terhadap program tersebut serta inovasi perbaikan untuk mengurangi terjadinya kesalahan yang dikhawatirkan.
Pilar pertama dalam pengelolaan tata air di lahan gambut yaitu preparation, yang merupakan langkah persiapan untuk menghadapi musim kemarau.
Adapun persiapan yang telah dilakukan antara lain persiapan embung-embung air, pompa air dan tapaknya, pengadaan alat berat excavator, kesiapsiagaan seluruh personel, pembentukan tim tanggap darurat, pemetaan wilayah rawan kekeringan, pemeriksaan akses jalur patrol, perhitungan kebutuhan alat transportasi, pembagian wilayah kerja/ zonasi dan lain sebagainya.
Preparation ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum masuk musim kemarau sehingga persiapan benar-benar matang dan meminimalisir terjadinya kesalahan.
Langkah ini juga perlu dimonitoring dan evaluasi secara kontinyu dan dilakukan perbaikan-perbaikan.
Kendala yang terjadi di lapangan kadang sering tidak adanya komunikasi dan koordinasi antar bagian. Hal ini dapat diselesaikan misalkan dengan rapat koordinasi secara rutin.
Pilar kedua yaitu prevention, yang merupakan langkah (tindakan) pencegahan yang perlu dilakukan agar tidak terjadi kekeringan dan kebakaran di lahan gambut.
Langkah ini menjadi sangat penting dikarenakan perubahan iklim yang sulit diprediksi, areal lahan gambut yang cukup luas dan sulit dijangkau, kejadian kebakaran yang sangat sulit dikendalikan.
Tindakan prevention ini menjadi kunci Utama dalam keberhasilan pengelolaan lahan gambut sehingga Langkah awal ini harus dilaksanakan dengan baik dan tidak boleh terlambat.
PT. RHM telah malaksanakan Langkah prevention antara lain maintenance kanal, penutupan jalur outlet, Pembangunan dan perawatan dam atau sekat kanal, Pembangunan dan perawatan bangunan air atau infrastruktur pendukung lainnya seperti pintu air, jembatan, gorong-gorong, box culvert dan lain sebagainya.
Preventif ini dilaksanakan agar memastikan semua komponen tata Kelola air berfungsi dengan baik sesuai dengan peruntukannya dan menghindari terjadinya malafungsi terhadap infrastruktur yang ada.
Seringkali karena masa pakai yang sudah terlalu lama sehingga perlu ada perbaikan bahkan pembaharuan.
Kendala yang ditemukan di lapangan adalah material yang tidak tahan lama, terjadi kerusakan yang serius, Lokasi yang cukup jauh dan sulit dijangkau, biaya yang cukup tinggi.
Untuk solusi atas permasalahan tersebut adalah dengan melakukan perencanaan yang baik serta budgeting yang efektif dan efisien. Selain itu monitoring secara rutin terhadap semua infrastruktur yang ada.
Pilar yang berikutnya, yang ketiga adalah early detection atau deteksi dini, yang merupakan Upaya menemukan dan mengidentifikasi kondisi awal dari berbagai sumber.
Deteksi dini merupakan pilar yang penting juga dalam pengelolaan tata air di lahan gambut, karena menjadi patokan ataupun dasar perhitungan dalam pengambilan Keputusan.
PT. RHM telah melaksanakan deteksi dini dengan melakukan monitoring curah hujan, kelembaban, arah angin, suhu dengan menggunakan AWS atau automatic weather system.
Data-data tersebut menjadi data primer untuk selanjutkan diolah datanya serta dianalisa lebih lanjut.
Selain itu dilakukan monitoring tinggi muka air tanah baik otomatis maupun manual serta tinggi muka air kanal.
Data tersebut menjadi acuan untuk melakukan action plan dalam mempertahankan kebasahan gambut dan menghindari kekeringan ekstrim serta mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan.
Sedangkan untuk deteksi ada atau tidaknya hotspot PT RHM menggunakan program dan aplikasi yang terhubung langsung dengan satelit.
Deteksi ini menjadi sangat penting untuk segera dapat diketahui posisi hotspot maupun firespot dan dilakukan pemadaman secepat mungkin.
Selain itu untuk deteksi dini juga dilakukan patroli baik dari ground check maupun menggunakan drone.
Hal ini apabila rutin dilaksanakan akan meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pengelolaan tata air dan fire operation.
Kendala yang sering terjadi di lapangan, seperti tidak adanya jaringan gsm, kerusakan yang terjadi terhadap instrument monitoring dan resiko kehilangan peralatan.
Hal tersebut dapat dicegah dengan pengadaan tower gsm pada areal yang rawan, instrument dipasang pagar pengaman dan diperketat keamanan.
PT. RHM juga secara serius melakukan inovasi-inovasi terbaru dengan otomasi di semua lini untuk mempermudah pengkoleksian data dan mempertahankan keakurasian data serta dapat menyajikan dengan lebih cepat atau real time.
Beberapa inovasi seperti pemasangan automatic water level recorder, kemudian penggunaan USV (Unmanned Surfaced Vehicle) untuk QC kanal, Drone lidar untuk data kontur, WMMS (Water Management Monitoring System) dan lain sebagainya.
Masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan tata air di lahan gambut dan tentu saja perlu inovasi yang lebih tepat lagi untuk dapat diterapkan di lapangan.
Pilar yang keempat atau yang terakhir adalah rapid respon, yang merupakan Tindakan atau prosedur yang dirancang untuk merespon situasi darurat, krisis ataupun insiden dalam pengelolaan tata air di lahan gambut.
Pilar ini juga sangat penting dalam penanganan kondisi darurat dengan cepat tanpa perlu melakukan persiapan yang lainnya lagi.
Apabila prediksi el nino akan terjadi maka pilar ini yang menjadi garda terdepan untuk mengantisipasinya.
Kondisi gambut yang sangat mudah terbakar dan rambatan api yang sangat cepat sangat diperlukan pilar rapid respon ini.
Kejadian kebakaran besar terjadi karena keterlambatan dalam penanganan, sehingga semakin sulit untuk dikendalikan.
Rapid respon perlu dipersiapkan dengan baik, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Rapid respon yang paling Utama adalah pembentukan tim reaksi cepat yang handal dan terlatih.
Dengan adanya tim ini akan memastikan semua kegiatan tata air akan berjalan dengan tepat dan cepat.
Kondisi gambut yang kering harus segera dilakukan mitigasi termasuk pembasahan atau rewetting. Bisa juga dilakukan buka tutup sekat kanal atau tanggul.
Selain itu bisa dilakukan pemasangan pompa-pompa untuk membasahi gambut dalam skala tertentu.
Beberapa scenario perlu disiapkan untuk mengantisipasi kekeringan yang cukup Panjang. Kanal-kanal dan embung air juga harus dipastikan berfungsi dengan baik dan cukup untuk persediaan air untuk kegiatan pemadaman.
PT. RHM juga menyiapkan unit helicopter untuk persiapan pemadaman via udara atau water bombing maupun untuk melakukan patrol rutin dan mobilisasi peralatan dan personel di areal yang tidak terjangkau.
Empat pilar water management tersebut di atas, merupakan pilar-pilar yang sangat penting dalam pengelolaan tata air di lahan gambut. Keempatnya harus dijalankan dengan serius dan berkelanjutan.
Inti dari keberhasilan pengelolaan gambut adalah diperlukan Langkah cepat dan tepat sasaran. Dengan perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, harus segera menyesuaikan agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dengan penerapan pilar tersebut diatas diharapkan dapat menjaga ekosistem gambut tetap Lestari dan terhindar dari bencana kebakaran lahan dan hutan yang selama ini senantiasa menjadi momok dan mengancam setiap saat.