BPBD Jatim dan BNPB Rintis Program UMKM Tangguh Bencana di Surabaya
Cak Sur July 02, 2026 07:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi merintis program inovatif bertajuk UMKM Tangguh Bencana.

Langkah strategis ini diinisiasi untuk memperkuat ketahanan, serta menjaga keberlangsungan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah dari berbagai risiko kebencanaan.

Sebagai langkah awal, BPBD Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kajian UMKM Tangguh di Ruang Siaga Kantor BPBD Jatim, Surabaya pada Kamis (2/7/2026). 

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari unsur pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, hingga para pelaku UMKM sendiri.

Diskusi ini dihadiri secara daring oleh Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo.

Sementara itu, hadir secara langsung Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, Koordinator Program SIAP SIAGA Jawa Timur Mambaus Su’ud, serta perwakilan asosiasi UMKM dari berbagai wilayah.

Mengapa Program UMKM Tangguh Bencana Sangat Krusial?

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa dampak bencana alam tidak hanya merusak sektor infrastruktur dan lingkungan, melainkan juga memukul langsung aktivitas ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Keterbatasan modal dan kerusakan sarana produksi sering kali membuat UMKM lambat untuk bangkit.

“Bencana tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada keberlangsungan usaha masyarakat. Karena itu, membangun ketangguhan tidak cukup hanya fokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan,” ujar Gatot Soebroto.

Strategi Mitigasi, Diversifikasi, dan Digitalisasi

Untuk meminimalkan potensi kerugian ekonomi, Gatot menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan solusi konkret untuk UMKM. Beberapa strategi utama yang dibahas meliputi:

  • Penguatan Mitigasi Risiko: Edukasi dini mengenai potensi bahaya di wilayah usaha.
  • Diversifikasi Usaha: Fleksibilitas model bisnis agar tetap bertahan di masa darurat.
  • Pemanfaatan Teknologi Digital: Digitalisasi sistem transaksi, pemasaran daring, serta pengelolaan rantai pasok agar bisnis tidak lumpuh total saat akses fisik terputus.

Memahami Dua Kategori Dampak Bencana bagi UMKM

Berdasarkan identifikasi awal dalam kajian BPBD Jatim, dampak bencana yang dirasakan oleh pelaku UMKM terbagi menjadi dua kategori utama:

  1. Dampak Langsung: Meliputi kerusakan aset fisik, kerusakan bangunan tempat usaha, hilangnya alat produksi, hingga terhentinya operasional kerja.
  2. Dampak Tidak Langsung: Terputusnya rantai pasok bahan baku, terganggunya jalur distribusi produk, hilangnya pendapatan harian, beban finansial (cicilan modal), hingga trauma psikologis pascabencana.

Melalui pemetaan masalah ini, BPBD Jatim dan BNPB berharap hasil kajian dapat dijadikan dasar rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam merancang skema perlindungan ekonomi yang komprehensif.

UMKM yang tangguh menjadi fondasi utama, agar masyarakat Jawa Timur dapat pulih dan bangkit lebih cepat pascabencana demi pembangunan berkelanjutan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.