POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Dinas Pertanian dan Pangan (Distangan) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) merespons cepat perkembangan budidaya madu trigona atau kelulut yang dikembangkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Berijo di HKM Dusun Tanah Tebok, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Kamis (7/7/2026).
Melalui Bidang Peternakan, Distangan menilai komoditas madu kelulut tersebut memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan, bahkan berpotensi menembus pasar luar daerah hingga internasional.
Kepala Bidang Peternakan Distangan Beltim, Therissia Hati atau Temi menjelaskan bahwa potensi pasar madu kelulut ini sejatinya sangat besar. Terlebih, kelompok tani di bawah kepemimpinan Norvyandi tersebut sudah berhasil melakukan hilirisasi produk dalam bentuk kemasan botol bermerek, bahkan mampu menembus pasar e-commerce lewat Shopee.
"Potensinya sebenarnya sangat luar biasa untuk pengembangan ke arah luar daerah. Apalagi katanya tadi mengabarkan mereka sudah punya produk kemasan sendiri dan terjual ke luar daerah lewat Shopee. Malah bagus kalau begitu," ujar Therissia kepada Posbelitung.co, Kamis (2/7/2026).
Temi kemudian memberikan catatan. Menurutnya, sebagian besar pembudidaya madu di Beltim saat ini masih banyak yang menjual hasil panennya dalam bentuk literan atau jerigenan polos tanpa adanya standardisasi mutu yang jelas.
Padahal, untuk bisa menembus pasar lebih jauh bahkan ekspor ke luar negeri, sebuah produk bersumber hewan wajib mengantongi sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
"Kendalanya selama ini memang banyak pembudidaya yang belum fokus, sehingga produk madunya belum ber-NKV. Seharusnya produk itu sudah ber-NKV karena itu adalah bukti jaminan standar higiene dan sanitasi produk peternakan paling minimal yang harus mereka miliki jika mau dikirim ke luar negeri," jelasnya.
Lebih lanjut, Temi mengungkapkan bahwa urusan pengembangan ekosistem budidaya madu saat ini memang masuk ke ranah bidang peternakan.
"Kalau dulu urusan madu ini memang melekat di dinas kehutanan. Namun, sekarang untuk sektor pengembangan dan pembinaan madunya sudah bergeser masuk ke ranah bidang peternakan," ucapnya.
Oleh karena itu, Distangan Beltim siap menjemput bola. Mereka berencana segera meluncur ke lokasi guna melakukan penelusuran dan koordinasi langsung bersama Norvyandi, yang juga diketahui menjabat sebagai Ketua BPD Desa Burung Mandi.
Distangan berjanji akan membantu memfasilitasi proses pengajuan audit sertifikasi NKV bagi kelompok tani tersebut demi mendongkrak nilai jual produk mereka.
"Nanti kita bisa bantu audit karena di kabupaten kita punya tim auditornya. Kita jadwalkan dan sinergikan dengan tim auditor dari pihak provinsi. Kebetulan ketuanya adalah ketua BPD, jadi nanti sangat gampang bagi kami untuk menelusuri ke lokasi," ungkapnya.
Namun, Temi secara terbuka mengakui adanya keterbatasan anggaran terkait penambahan komoditas.
Temi menjelaskan bahwa saat ini kas daerah Belitung Timur belum mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan langsung bibit lebah trigona. Meski begitu, dinas tak akan tinggal diam.
"Kalau untuk bantuan bibit dari anggaran daerah kita memang belum ada. Paling arahnya ke pembinaan audit NKV dulu. Tapi kalau kualitas produksinya konsisten bagus pasca audit, kami siap bantu buatkan proposal untuk diusulkan ke kementerian pusat," katanya.
Temi pun mencontohkan bahwa pola serupa pernah sukses diterapkan dan akhirnya dinikmati oleh kelompok peternak lebah madu yang berada di wilayah Kecamatan Dendang.
"Yang waktu itu pernah dapat bantuan alat dan sarang di Kecamatan Dendang itu juga murni anggarannya kami kejar dari pusat. Jadi peluang itu sangat terbuka lebar untuk KTH Berijo ke depannya," pungkasnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)