SRIPOKU.COM, BATURAJA - Minggu pertama bulan Juli 2026, harga karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami penurunan sedikit menjadi Rp 20.000 per kilogram untuk penjualan dwi mingguan.
Harga karet ini untuk di kawasan hilir (Kecamatan Peninjauan dan sekitarnya) Kabupaten OKU, harga karet yang dijual mingguan ada perubahan sejak bulan Juni lalu dari Rp 18.400 menjadi Rp 18.000 per kilogram.
Untuk penjualan dua mingguan juga ada perubahan dari Rp 20.500 per kilogram turun menjadi Rp 20.000 per kilogram.
Begitu juga untuk harga karet yang ditimbang bulanan ada perubahan dari Rp 25.000 menjadi Rp 24.500 per kilo gram.
Baca juga: Akhir Bulan Harga Karet di Sumsel Ditutup Naik Tipis, Dapat Membangkitkan Optimisme Petani
Pengusaha karet di Peninjauan, Mardani kepada awak Sripoku.com Kamis (2/7/2026) mengatakan, harga karet di Peninjauan biasanya selalu di bawah harga kawasan Ulu.
Namun untuk bulan ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan di atas harga karet di kawasan Ulu.
Sedangkan di kawasan Ulu, (Kecamatan Semidang Aji dan sekitarnya) dan Kecamatan Lengkiti, harga mingguan di bulan sebelumnya Rp 17.500 per kilogram memasuki minggu pertama bulan Juli ini menjadi Rp 17.000 per kilogram.
Harga dua mingguan sebelumnya Rp 20.400 per kilogram turun menjadi Rp 18.400 per kilogram.
Lalu harga karet yang ditimbang bulanan sebelumnya Rp 22.500 dan bulan Juli ini turun menjadi Rp 20.500 per kilo gram.
Meskipun ada kenaikan dan penurunan sedikit harga karet, namun setidaknya sejak tahun 2025 lalu harga getah karet di tingkat petani lumayan stabil, bahkan cenderung naik.
Sehingga petani merasa sangat senang meskipun harga ini belum menggembirakan karena hasil getah karet sangat sedikit dan harga-harga bahan pokok di pasaran mengalami kenaikan yang sangat tajam.
Baca juga: Update Harga Karet 19 Juni, Masih Bertahan di Atas Rp40 Ribuan per Kilogram
Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti dituturkan Mardani (60), petani karet di Kecamatan Peninjauan mengaku hingga saat ini masih akan bertahan di komoditas karet.
Alasannya karena karet sudah menjadi tanaman primadona sejak zaman nenek moyang karena diyakini komoditas andalan ini memang cocok ditanam di Kabupaten berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang ini.
Di sisi lain meskipun harga karet mengalami kenaikan sedikit, namun memasuki musim yang kurang menentu ini produksi getah karet berkurang.