Gubernur Khofifah Dorong Birokrasi Inovatif dalam PKN II 2026 di Surabaya
Cak Sur July 03, 2026 12:32 AM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan inovatif guna meningkatkan kinerja organisasi dan kualitas pelayanan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam penutupan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan II Tahun 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM)  Provinsi Jawa Timur, Surabaya pada Kamis (2/7/2026).

Menurut Khofifah, pemimpin birokrasi saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi administrasi. Mereka dituntut mampu membaca perubahan, memahami kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan solusi nyata.

Mengukur Keberhasilan Birokrasi dengan Dampak Nyata

Dalam arahannya, Khofifah menyoroti paradigma baru dalam birokrasi. Ia menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan bukan lagi tentang seberapa banyak regulasi yang dibuat.

“Keberhasilan birokrasi bukan diukur dari banyaknya regulasi yang diterbitkan, tetapi dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat melalui pelayanan publik yang semakin cepat, mudah, berkualitas, transparan, dan berkeadilan,” tegas Khofifah.

Pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Proses pembelajaran berlangsung selama empat bulan dengan metode blended learning, yang dinilai memperkuat jejaring nasional.

Bukti Nyata Kepemimpinan di Jawa Timur

Khofifah memberikan contoh keberhasilan implementasi kebijakan adaptif di Jawa Timur. Beberapa indikator capaian strategis meliputi:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Mencapai 5,96 persen pada Triwulan I 2026, melampaui capaian nasional 5,39 persen.
  • Penurunan Pengangguran: Tingkat Pengangguran Terbuka tercatat 3,55 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional.
  • Ketahanan Pangan: Mempertahankan posisi sebagai produsen padi terbesar nasional.
  • Inovasi Layanan: Pengembangan sistem digital seperti TRANS JATIM AJAIB 2.0, JOSS GANDOS, dan MAJADIGI.

Implementasi Proyek Perubahan sebagai Mahkota PKN II

Khofifah menekankan bahwa esensi dari pelatihan ini akan sia-sia jika tidak diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan.

Ia mendorong seluruh peserta untuk segera mengimplementasikan proyek perubahan yang telah disusun selama masa pendidikan.

“Menurut saya, mahkota PKN II adalah ketika proyek perubahan itu benar-benar diimplementasikan,” pungkasnya.

Sebagai penutup, Khofifah berpesan agar para alumni mampu membangun kolaborasi dan merangkul masyarakat sebelum mengandalkan kewenangan formal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.