Respons Balai TNGM Soal Aktivitas Pendakian Gunung Merapi
Hari Susmayanti July 03, 2026 07:14 AM

YOGYA, TRIBUN - Pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menanggapi maraknya aktivitas pendakian Gunung Merapi. Tanggapan tersebut disampaikan melalui video yang diunggah melalui akun instagram resmi TNGM, Kamis (2/7) malam.

“Bahwa pendakian tersebut sebenarnya tidak direkomendasikan berdasarkan surat kami nomor S. 359/T.36/TU/KSA. 02.01/06/2026 tanggal 30 Juni 2026 atas respons dari surat kelompok warga nomor 005/MS/VII/2026 tanggal 30 Juni 2026 yang ternyata tidak diindahkan,” kata Kepala Balai TNGM, T. Heri Wibowo, memberikan keterangannya dalam video tersebut di akun instagram @btn_gn_merapi.

Heri menjelaskan bahwa kelompok masyarakat mengajukan permohonan untuk pembukaan pendakian berdasarkan surat nomor 001/MS/VII/2025 11 Juli 2025. Atas permohonan tersebut, pihak TNGM melakukan tindak lanjut dengan membuat kajian sosial dan ekonomi di Selo, webinar membedah pendakian Merapi, konsultasi BPPTKG, diskusi dan musyawarah bersama.

“Hasil yang didapat, tetap keselamatan jadi hal paling utama karena status level III atau siaga berdasarkan kajian, analisis, dan rekomendasi BPPTKG karena itu menjadi landasan utama kami,” terang Heri.

Heri menjelaskan bahwa jarak puncak sampai ke gerbang sekitar 2,3 kilometer (km), jarak puncak ke Pos I 1,64 km, jarak puncak ke Pos II 1,25 kilometer, dan jarak puncak ke Pasar Bubrah 0,7 km.

“Batas aman radius lebih dari 3 km jadi dasar kami berdasarkan BPPTKG karena dalam proses keluarnya material gunung api terdiri dari aliran lava panas dan lontaran material yang jangkauannya sampai 2,5 km sehingga batas aman lebih dari 3 km berdasarkan BPPTKG,” katanya.

Terkait aktivitas tambang pasir yang dikeluhkan warga, Heri menjelaskan bahwa tambang pasir tetap dilarang keras. “Kami tetap mencegah dan patroli bersama penegak hukum. Saat ini ada beberapa pihak yang diproses pengadilan dan penyelidikan kejaksaan,” katanya.

“Sementara untuk wisata alam sisi selatan dan barat daya yakni Kalitalang, Plunyon, dan Jurang Jero semuanya berada pada radius di atas 3 km bahkan 5 km,” lanjut Heri.

Untuk itu, pihak TNGM mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi rekomendasi level 3 Siaga dengan tidak melakukan pendakian Merapi. “Kami tetap mengedepakna musyawarah untuk jalan terbaik sambil pemda aparat penegak hukum dan elemen lain untuk solusi terbaik semata-mata keselamatan dan keamanan bersama karena itu menjadi prioritas,” jelas Heri.

Potensi bahaya
Sementara itu, Kepala Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso menyebut, aktivitas pendakian di Gunung Merapi sangat tidak disarankan, mengingat potensi bahaya saat ini.

Agus mengatakan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

"Aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 kilometer dari puncak," katanya, Kamis (2/7).

"Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," sambungnya.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Saat ini Merapi sedang berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi.

"Masyarakat dan para pendaki juga perlu memahami dinamika aktivitas gunung saat ini. Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba. Sumbatan tersebut akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah, yang pada akhirnya dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak," terangnya.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Selain karena potensi bahaya, secara historis Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda dalam tiga abad terakhir.

"Faktanya, tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pascaerupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik. Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," katanya.    

Beri peringatan
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X secara tegas juga memperingatkan wisatawan dan pendatang untuk tidak memaksakan diri naik ke puncak Merapi. Peringatan ini disampaikan mengingat gunung api aktif tersebut hingga saat ini masih berstatus Level III atau Siaga, sehingga ketidaktahuan pelancong akan potensi bahaya vulkanis dapat berakibat sangat fatal bagi keselamatan jiwa mereka.

"Tapi ya harapan saya bagi turis, ya bagi pendatang, dalam arti dia memang mau berwisata, nah itu saya mohon memang jangan naik ke atas (Gunung Merapi)," kata Sultan saat ditemui di Gedung DPRD DIY, Kamis (2/7).

Sultan menilai terdapat perbedaan pemahaman dan literasi kebencanaan antara warga lokal dengan para wisatawan. "Kalau masyarakat sekitarnya kan sudah paham. Tapi pendatang yang belum, ya sekadar mau bervakansi, berlibur, lah belum tentu tahu kalau ada aktivitas Merapi. Ya hati-hati, sementara ini jangan naik, gitu aja," ujarnya.

Sultan melanjutkan bahwa pihak yang paling otoritatif dan mengetahui kondisi terkini Gunung Merapi secara pasti adalah Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Ia menekankan bahwa ketenangan warga di lereng gunung didasari oleh pemahaman mereka terhadap pola aktivitas alamiah Merapi serta mitigasi yang tepat.

"Ya memang sebetulnya kalau masyarakat sekitar Merapi itu paham. Iya kan? Dia pun juga tidak mau turun karena hanya mengalir aja (guguran dan awan panas) paling-paling dari atas 2 kilometer, 2,5 kilometer. Berarti tidak sampai permukiman. Mereka sudah tahu sebetulnya," ujarnya menambahkan.

Peringatan dari Raja Keraton Yogyakarta ini mengemuka di tengah ramainya jagat media sosial oleh unggahan yang menyuarakan rencana pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Merapi secara mandiri.

Unggahan dari akun Instagram @laharbara mengklaim bahwa warga setempat di sekitar Selo, Jawa Tengah, telah mencapai kesepakatan untuk membuka jalur pendakian setelah delapan tahun ditutup dengan dalih membangkitkan kembali roda ekonomi kawasan. (han/maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.