Dihantam Kaki Meja Besi dan Golok, Keluarga Korban Penyekapan di Bandung Sebut Taufik Hidayat Biadab
Weni Wahyuny July 03, 2026 11:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM - Suasana emosional menyelimuti jalannya rekonstruksi kasus penganiayaan berat yang menimpa YTR (29), perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (2/7/2026). 

Pihak keluarga korban sama sekali tidak habis pikir melihat kesadisan yang diperagakan oleh tersangka, Taufik Hidayat (30), di tiga lokasi berbeda.

Kakak korban, Afif Shandy, bahkan secara terbuka meluapkan kekesalannya dan mempertanyakan pola asuh orang tua tersangka hingga tega membentuk karakter yang begitu kejam.

"Sampein ke bapaknya, bapaknya ngasih makan apa ke anaknya sampai biadab kayak gini," ujar Afif dengan nada geram saat menyaksikan rekonstruksi, dilansir dari Tribunnewsbogor.com.

Baca juga: Taufik Hidayat Akui Siksa dan Sekap YTR Saat Jalani Adegan Rekonstruksi, Bantah Soal Gunting Bibir

Afif mengatakan tindakan paling ringan yang dilakukan Taufik yakni saat memukul pakai helm.

"Yang paling enteng helm ke kepala adik saya," kata Afif.

21 Adegan Sadis: Dipukul Helm hingga Kaki Meja Besi

Dalam rekonstruksi tersebut, Taufik Hidayat memperagakan sebanyak 21 adegan. 

Polisi mengungkapkan bahwa seluruh reka adegan tersebut berjalan sangat sinkron dan matching dengan kesaksian yang pernah disampaikan oleh korban.

Berikut rincian tindakan kekerasan luar biasa yang dilakukan tersangka terhadap YTR:

Penganiayaan Awal: Tersangka memukul muka korban menggunakan helm hingga memar dan melemparkan botol saat keduanya berselisih paham di dalam kamar kos.

Tersangka terbukti memukulkan sebilah golok tanpa gagang tepat ke arah kepala korban.

Di TKP terakhir, tersangka menghantam korban menggunakan kaki meja besi yang mengakibatkan luka paling fatal.

Tersangka juga berulang kali melayangkan pukulan keras menggunakan telapak tangan ke arah pelipis dan wajah korban.

"Diantaranya memukuk dengan helm, dengan kaki meja besi di TKP terakhir, ada dengan golok," Kata Direktur PPA-PPO Polda Jawa Barat, Kombes Rumi Untari.

Baca juga: Dikawal Hotman Paris, Ini Kekejaman Oknum Aparat Tega Siram Air Keras dan Dicekoki Wanita Narkotika

"Korban tidak terlampu mengingat ya karena dalam kondisi buta dia bilangnya seperti benda tajam tapi dengan TKP yang kita temukan matching itu dengan meja yang ada kakinya besi," sambungnya.

Polisi Luruskan Isu "Gunting Bibir" dan Fakta di Balik Tato Wajah

Rumi memberikan klarifikasi penting untuk meluruskan simpang siur informasi terkait luka berat pada bagian mulut korban.

Rumi menegaskan bahwa tidak ada adegan atau tindakan menggunting bibir dalam kasus ini.

Kerusakan parah pada bibir dan rontoknya gigi korban murni terjadi akibat pukulan benda tumpul secara bertubi-tubi yang dibiarkan tanpa penanganan medis.

"Tidak ada menggunting bibir itu. bibir atau gigi rontok karena pukulan berkali-kali sehingga rontok dan rusak bibirnya karena kan tidak diobati jadi lama-lama rusak bibirnya," jelas Kombes Rumi.

Selain itu, pihak kepolisian juga mengungkap fakta mengenai keberadaan sejumlah tato bermotif wajah dan nama Taufik Hidayat di tubuh YTR.

Tato tersebut dibuat dalam kondisi korban sehat jauh sebelum penganiayaan ekstrem terjadi, dipicu oleh rasa cemburu tersangka yang besar.

"Kalau berdasarkan investigasi tato itu sebenanrya pada saat mereka masih dalam kondisi sehat," katanya.

Korban membuat tato tersebut sebagai pembuktian lisan bahwa dirinya benar-benar mencintai tersangka.

"Sehingga untuk meyakinkan pelaku pada korban kamu cinta sama saya kalau indikasi cemburu, sebagai bentuk dia cinta dia tato. Tato itu benar diakuin, dan sudah dikonfirmasi," katanya.

Walau secara lisan tidak ada paksaan fisik saat pembuatan tato, polisi menilai korban mau tidak mau menuruti keinginan tersangka karena berada di bawah bayang-bayang ketakutan dan ancaman kekerasan.

"Tidak ada paksaan, namun dengan kondisi seperti itu tentunya korban mau tidak mau mengikuti karenakan takut dipukul walaupun memang secara lisan tidak ada paksaan, tapi kalau melihat kondisi psikis ya pasti ada ketakutan kalau menolak nanti dilakukan kekerasan," katanya.

Disinggung soal pelaku sempat memberikan obat dari apotek lantaran khawatir atau takut korban ini meninggal.

"Dia sempat beli obat di apotek karena takut korban meninggal, maka dia mencoba mengobatinya sendiri," katanya.

Diketahui, kasus ini pun terungkap ketika korban diketahui saat dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dalam kondisi mengalami sejumlah luka serius hingga buta permanen, dan memerlukan penanganan medis intensif.

Melihat kondisi itu, keluarga korban kemudian melaporkan dugaan tindak pidana tersebut ke Mapolda jabar pada Jumat (12/6/2026).

Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/1145/VI/2026/SPKT/POLDA JAWA BARAT. 

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.