Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Jakarta
TribunGayo.com, JAKARTA - Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) secara resmi mengusulkan penyair besar Indonesia, Taufiq Ismail, sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra.
Deklarasi usulan tersebut dibacakan oleh Sastri Sunarti Sweneey pada peringatan Hari Sastra Indonesia yang dirangkaikan dengan kegiatan Sasana Sastra Klasik Indonesia di Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Acara tersebut dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Taufiq Ismail, Putu Wijaya, para akademisi, sastrawan, penulis, dan pegiat sastra dari berbagai daerah di Indonesia.
Usulan tersebut merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi panjang Taufiq Ismail terhadap perkembangan sastra Indonesia.
Melalui karya-karya puisinya yang telah menginspirasi lintas generasi, Taufiq Ismail dinilai memiliki pengaruh yang kuat dalam khazanah sastra Indonesia dan layak memperoleh pengakuan di tingkat internasional melalui Hadiah Nobel Sastra.
Pengajuan Taufiq Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra sebelumnya juga telah dilakukan oleh Minang Diaspora Global Network, jaringan diaspora Minangkabau yang memiliki cabang di 22 negara.
Dukungan dari berbagai kalangan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya aspirasi agar sastrawan Indonesia memperoleh pengakuan di panggung sastra dunia.
Baca juga: Lintas Generasi Penyair Aceh Rayakan Hari Puisi Nasional
Taufiq Ismail adalah seorang penyair dan penulis esai terkenal di Indonesia.
Lahir pada 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia disebut sebagai salah satu tokoh utama dalam sastra Indonesia modern.
Ia juga dikenal sebagai seorang penyair besar Indonesia, aktivis budaya, dan tokoh penting Angkatan ’66 yang dikenal lewat karya-karya puisinya yang kritis terhadap tirani dan penuh semangat kebangsaan.
Karyanya sering kali menggambarkan keprihatinan terhadap masalah sosial dan politik, serta keindahan alam Indonesia.
Namun, Taufiq dikenal luas bukan hanya karena puisi-puisinya yang menyentuh, tetapi juga peran pentingnya dalam membangun infrastruktur sastra nasional.
Salah satu tonggak sejarahnya adalah pendirian majalah Horison tahun 1966 bersama Mochtar Lubis, Arif Budiman, Zaini, dan PK Ojong.
Edisi perdana Horison menampilkan puisi Taufiq Ismail yang legendaris, “Karangan Bunga”, sebagai sampul utama.
Karya-karya Taufiq Ismail, yang berakar pada realitas sosial dan berjiwa nasional, tetap menjadi inspirasi lintas generasi.
Selain menulis puisi, Taufiq juga aktif dalam pendidikan dan pernah mendirikan Yayasan Indonesia Menulis.
Ia juga berperan besar dalam menghidupkan sastra bagi generasi muda melalui karya-karya puisinya.
Taufiq Ismail dikenal aktif mendorong minat baca dan pengajaran sastra di sekolah maupun masyarakat.
Pada Senin (27/4/2026), ia menunjukkan perannya dalam menghidupkan sastra bagi generasi muda di Provinsi Aceh.
Taufiq Ismail hadir di Masjid Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, dan membacakan enam puisi bertema Aceh, Palestina, dan nasihat kehidupan di hadapan para siswa.
Acara yang diikuti sekitar dua ratus pelajar dari berbagai sekolah di Banda Aceh berlangsung khidmat.
Suara Taufiq yang tetap jernih di usia 91 tahun membuat puisi terasa hidup dan menyentuh para siswa.
Kehadirannya disambut hangat oleh Dinas Pendidikan Aceh serta pihak sekolah, yang menilai momen tersebut sebagai dorongan penting bagi semangat literasi dan sastra di kalangan pelajar.
Deklarasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra, menjadi salah satu agenda penting dalam kegiatan Sasana Sastra Klasik Indonesia, yang juga diisi dengan peluncuran enam buku terjemahan sastra klasik Indonesia hasil Laboratorium Penerjemah Sastra.
Peluncuran dilakukan Menteri Kebudayaan Fadli Zon didampingi para ahli waris.
Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya memajukan ekosistem sastra nasional sekaligus menduniakan karya-karya lokal agar dapat diakses oleh pembaca global.
Enam buku tersebut diterjemahkan melalui Laboratorium Penerjemah Sastra sebagai bagian dari strategi memperluas jangkauan sastra Indonesia ke berbagai bahasa asing.
Program ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Indonesia ke-13, yang menjadi momentum penting untuk memperkuat perhatian terhadap perkembangan sastra tanah air.
Fadli Zon menegaskan bahwa Sasana Sastra dirancang untuk memperkuat ekosistem sastra dari hulu ke hilir, mulai dari penciptaan karya, penerjemahan, penerbitan, hingga distribusi ke pasar internasional.
Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi karya sastra Indonesia untuk dikenal di tingkat dunia.
Selain peluncuran enam buku terjemahan, pemerintah juga menyiapkan Translation Funding Program (TFP) guna mendukung penerbit asing dalam membeli hak cipta karya lokal.
Skema pendanaan ini diharapkan dapat mempercepat proses alih bahasa sekaligus memperluas peluang penerbitan karya Indonesia di luar negeri.
Program Sasana Sastra juga terhubung dengan pengembangan bakat melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN), yang mendorong lahirnya ribuan talenta baru di bidang sastra dan kebudayaan.
Dengan dukungan berbagai program tersebut, pemerintah berharap ekosistem sastra Indonesia semakin kuat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di panggung internasional.
Keenam karya sastra klasik yang diterjemahkan merupakan tonggak penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, berasal dari periode, genre, dan latar yang berbeda.
Keenam karya klasik tersebut adalah:
Baca juga: Rindu Penyair Besar Indonesia Taufiq Ismail Tumpah Gunongan, Puitika Tanah Rencong