Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) klaim bertanggung jawab atas penembakan pilot pesawat milik Association Mission Aviation (AMA) serta pembakaran satu unit pesawat di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026).
Informasi yang dihimpun Tribun-Papua.com, pilot pesawat tersebut diketahui bernama Captain Nicholas F. Gosselin, seorang warga negara Amerika Serikat yang selama ini melayani penerbangan misi kemanusiaan di wilayah Pegunungan Papua.
Beberapa jam setelah informasi hilangnya kontak pesawat itu beredar, muncul sebuah video berdurasi sekitar 59 detik yang memperlihatkan seorang pria bersenjata yang mengaku sebagai Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, M. Balingga.
Baca juga: Anggota DPR Papua Sebut FBMW 2026 Perkuat Daya Saing Pariwisata Biak Numfor
M. Balingga mengklaim bahwa aksi penembakan terhadap pilot dan pembakaran pesawat dilakukan atas perintah Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo Brigjen Elkius Kobak. Operasi tersebut dilaksanakan oleh M Balingga bersama pasukan Kompi Pabusil.
"Itu benar kami yang lakukan. Pesawat orang luar yang masuk ke wilayah kami tidak kami butuhkan. Kami patroli selama 24 jam. Kalau kami menemukan pesawat masuk di wilayah operasi kami, akan kami tembak. Ingat itu," ujar M. Balingga dalam video yang diterima Tribun-Papua.com.
Selain video, Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB mengeluarkan siaran pers yang diterima Tribun-Papua.com, Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIT.
Dalam siaran pers, TPNPB mengaku melakukan aksi tersebut karena pesawat yang dioperasikan AMA telah melanggar ultimatum yang sebelumnya mereka keluarkan kepada seluruh maskapai penerbangan sipil yang beroperasi di wilayah Papua.
Baca juga: Kunjungi Lokasi Ledakan Bom Biak, KEPP Otsus Papua Usulkan Program Papua Aman dari Warisan Perang
Kelompok tersebut mengklaim telah melarang seluruh aktivitas penerbangan sipil memasuki wilayah yang mereka sebut sebagai daerah operasi TPNPB yang tersebar di 36 Komando Daerah Pertahanan (Kodap) di seluruh Tanah Papua.
TPNPB menuding pesawat-pesawat sipil selama ini sering digunakan untuk mengangkut personel maupun logistik militer Indonesia ke wilayah pedalaman Papua guna mendukung operasi militer.
Mereka menyatakan aktivitas tersebut menjadi alasan utama dilakukannya penembakan dan pembakaran pesawat.
"Pembakaran tersebut kami lakukan karena melanggar ultimatum TPNPB," demikian isi siaran pers.
Baca juga: Korupsi Jalan Kantor Bupati Jayawijaya: Kejari Buru Tersangka Baru dan Telusuri Aliran Dana
Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Brigjen Elkius Kobak mengaku memerintahkan penembakan dan pembakaran itu.
Dalam pernyataan yang sama, Elkius Kobak menyampaikan bahwa pihaknya menganggap insiden tersebut sebagai tanggung jawab Pemerintah Indonesia, Amerika Serikat, Belanda dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena belum menyelesaikan konflik bersenjata di Papua yang telah berlangsung puluhan tahun.
TPNPB mendesak Presiden Prabowo Subianto agar membuka ruang perundingan internasional dalam penyelesaian konflik Papua. Mereka juga meminta PBB segera memfasilitasi dialog antara Pemerintah Indonesia, TPNPB dan masyarakat Papua sebagai upaya mencari penyelesaian konflik.
TPNPB mengklaim pasukan yang terlibat penembakan dan pembakaran pesawat telah bergerak menuju pusat Kota Dekai setelah kejadian berlangsung.
Mereka meminta aparat keamanan tidak melakukan operasi terhadap warga sipil di lokasi kejadian, dan meminta apabila aparat hendak melakukan pengejaran, maka datang ke markas mereka di wilayah Dekai.
Baca juga: Kejari Jayawijaya Tetapkan Tersangka Korupsi Jalan Kantor Bupati Senilai Rp7,3 Miliar
Siaran pers tersebut ditandatangani oleh diketahui oleh Panglima Tinggi TPNPB-OPM Goliath Tabuni, Wakil Panglima Melkisedek Awom, Kepala Staf Umum Terianus Satto, serta Komandan Operasi Umum Lekagak Telenggen.