TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Guna mengurai kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan, Pemprov DKI berencana membangun beberapa flyover di beberapa titik kemacetan Ibu Kota.
Tiga lokasi yang masuk dalam kajian yaitu kawasan Pejompongan, Pancasila, Bintaro.
Pembangunan jalan layang tersebut diproyeksikan menjadi langkah lanjut Pemprov DKI untuk mengurai kemacetan kronis akibat adanya perlintasan sebidang di lokasi tersebut.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pihaknya akan segera menentukan titik mana yang paling mendesak untuk dibangun setelah proyek Flyover Latumenten selesai.
“Berkaitan dengan flyover yang belum dibangun, yang menjadi prioritas memang ada. Nanti kami akan segera putuskan mana yang memang sudah menjadi kebutuhan, termasuk apakah yang di Pejompongan ataukah yang di Pancasila, atau yang di Bintaro,” ucapnya dikutip Jumat (3/7/2026).
Pramono menjelaskan, Pemprov DKI saat ini masih memfokuskan penyelesaian Flyover Latumenten karena kawasan tersebut menjadi salah satu titik kemacetan terparah di Jakarta.
Menurutnya, kepadatan lalu lintas di kawasan Grogol-Latumenten terjadi hampir sepanjang hari, baik pagi, siang, maupun sore.
“Memang ada, tapi yang paling prioritas sekarang ini memang di tempat ini karena di tempat ini begitu menjadi kebutuhan,” ujarnya.
Pramono mengaku langsung menjadikan proyek Flyover Latumenten sebagai prioritas setelah menerima usulan pembangunan dari masyarakat.
“Karena di sini ini kalau dilihat pagi, sore, siang selalu kemacetannya tinggi sekali. Maka ketika saya mendapatkan usulan tentang Flyover Latumenten untuk segera dikerjakan, saya menyampaikan bahwa ini menjadi prioritas utama untuk mengurai kemacetan di daerah Grogol, Pluit, Slipi, dan sebagainya,” jelas Pramono.
Pemprov DKI mencatat progres pembangunan Flyover Latumenten kini telah mencapai 55,2 persen dengan nilai proyek sebesar Rp259 miliar.
Konstruksi ditargetkan selesai pada 15 Desember 2026.
Flyover yang mengarah ke Slipi memiliki panjang 435 meter dan lebar 11 meter dengan kapasitas dua lajur kendaraan umum dan satu lajur busway.
Sementara jalur menuju Grogol memiliki panjang 420 meter dengan spesifikasi yang sama.
Setelah jalan layang beroperasi, perlintasan sebidang kereta api di bawahnya akan ditutup sehingga seluruh kendaraan akan melintas melalui flyover.
Langkah tersebut diharapkan mampu menghilangkan antrean akibat buka-tutup perlintasan kereta sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
“Saya sungguh berharap penyelesaian Flyover Latumenten ini segera bisa diselesaikan tepat waktu dan mudah-mudahan ini akan membuat Jakarta konektivitas transportasinya menjadi lebih baik,” kata Pramono.
Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengatakan, kehadiran Flyover Latumenten diproyeksikan mampu mengurangi kemacetan hingga 40 persen.
“Flyover Latumenten ini progresnya masih on the track, mudah-mudahan bisa selesai Desember 2026 nanti,” kata Kenneth.
Politikus PDI Perjuangan itu mengungkapkan, proyek tersebut bermula dari aspirasi warga saat dirinya melakukan reses di kawasan Latumenten pada 2024 lalu.
“Pada 2024 lalu saya ada kunjungan kerja ke daerah sini saat reses. Warga lalu meminta dibangunkan flyover untuk mengurai kemacetan imbas perlintasan kereta yang padat,” ujarnya.
Setelah melalui proses kajian dan lelang, proyek Flyover Latumenten akhirnya mulai dikerjakan pada penghujung 2025.
Jika rampung, jalan layang tersebut juga akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum, mulai dari KRL Commuter Line hingga Transjakarta.
Baca juga: Disebut Tebang Pilih, Aturan Potongan 8 Persen Dinilai Abaikan Nasib Pengemudi Taksi Online
Baca juga: Teror Bom Molotov di Ciracas, Rumah Pengacara Jadi Target Serangan Misterius
Baca juga: Mahasiswa Unpam dan HMI Unas Gelar Demo di Lokasi Berbeda Siang Ini, 1.074 Personel Polisi Siaga