TRIBUNJAMBI.COM – Kondisi arus lalu lintas di koridor utama jalan nasional yang menghubungkan Kota Jambi menuju kawasan pendidikan di Mendalo hingga Pijoan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi kian mengkhawatirkan.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jambi, Edi Purwanto, menyampaikan peringatan keras terkait tingginya angka kecelakaan maut yang terjadi di jalur tersebut, terutama di area sekitar pembangunan jalan tol yang baru selesai di Pijoan.
Kawasan Pijoan bukan lagi sekadar jalur perlintasan biasa, melainkan pusat pendidikan yang sangat padat.
Di wilayah ini berdiri dua perguruan tinggi besar, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifuddin Jambi dan Universitas Jambi (Unja), dengan total mahasiswa mencapai 57.000 orang.
Selain itu, terdapat tiga sekolah menengah atas, yakni SMA 1 Muaro Jambi, SMA Titian Teras, dan MAN Cendekia, ditambah dengan keberadaan sebuah stadion internasional.
Kondisi jalan yang sempit di tengah masifnya aktivitas puluhan ribu pelajar dan mahasiswa ini dinilai memicu kerawanan tinggi.
Edi Purwanto mengungkapkan situasi di lapangan sudah sangat semrawut (crowded) dan telah merenggut puluhan korban jiwa.
Masalah ini bahkan memicu gelombang protes dari kalangan mahasiswa, di mana Presiden BEM Unja dan Presiden BEM UIN sampai harus turun tangan menghadiri rapat bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk menyuarakan keresahan mereka.
Baca juga: Megaproyek Jalan Simpang Rimbo-Mendalo Jambi: Pusat Garap Desain, Daerah Bebaskan Lahan
Baca juga: Analis Beberkan Misi Safari Jokowi: Demi Selamatkan Gibran dan Kaesang
"Jadi itu rawan sekali kecelakaan, bahkan terakhir kami rapat didatangi presiden-presiden BEM, Presiden BEM UNJA, Presiden BEM UIN ikut rapat di situ, karena sudah puluhan yang meninggal dunia. Kalau tidak dilakukan pelebaran atau jalan dua jalur, itu bahaya Pak. Crowded sekali tempat itu," ujar Edi Purwanto saat rapat di DPR RI.
Edi Purwanto menegaskan bahwa jika pemerintah tidak segera melakukan pelebaran jalan atau membangun jalur ganda (dua jalur), ancaman kecelakaan fatal akan terus menghantui.
Menurutnya, pembiaran kondisi ini sangat kontraproduktif dengan tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, karena energi masyarakat justru habis untuk mengurus hal-hal tragis yang seharusnya bisa dicegah.
Dia mendesak pihak terkait agar pembangunan infrastruktur jalan ini menjadi prioritas utama demi menghentikan jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Rencana megaproyek pelebaran jalan dari Simpang Rimbo menuju Desa Mendalo, hingga ke depan kampus UIN STS Jambi di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, kini terus digodok intensif di tingkat pusat.
Proyek strategis ini diproyeksikan membentang sepanjang 8 hingga 10 kilometer.
Namun, realisasi fisik di lapangan belum bisa dieksekusi dalam waktu dekat.
Kepastian detail konstruksi serta ornamen pendukungnya masih harus menunggu rampungnya perencanaan makro oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Muaro Jambi, Anjar Prabowo, sebelumnya menegaskan seluruh kewenangan desain teknis, baik berupa studi kelayakan (feasibility study) maupun Detail Engineering Design (DED), mutlak berada di bawah kendali penuh pihak Balai Jalan Nasional.
Saat ini, Pemkab Muaro Jambi berada dalam posisi pasif menunggu instrumen desain tersebut selesai disusun.
"Kami masih menunggu feasibility study dan DED dari Balai Jalan Nasional. Berdasarkan hasil rapat beberapa minggu lalu, kawan-kawan dari pihak balai memang masih menyusun instrumen desain tersebut," ujar Anjar Prabowo.
Baca juga: Jalan Simpang Rimbo-Mendalo Bakal Dilebarkan Jadi 10 Meter. Pemkab Tunggu Desain Pusat
Baca juga: Aset Pemkab Merangin Jambi Dijarah OTK Jadi Lokasi Tambang Emas Ilegal
Meskipun porsi pendanaan fisik sepenuhnya ditanggung pusat melalui Balai Jalan Nasional, tanggung jawab yang tidak kalah berat justru dibebankan langsung kepada pemerintah daerah.
Berdasarkan data koordinasi terakhir, luasan lahan milik warga yang wajib dibebaskan dan diselesaikan status hukumnya oleh Pemda tergolong sangat fantastis, yakni mencapai kurang lebih 20,5 hektare di sepanjang koridor Mendalo.
Secara gambaran kasar di lapangan, jalan nasional eksisting yang saat ini hanya memiliki lebar sekitar 7 meter rencananya akan diperlebar oleh pihak BPJN menjadi total lebar 10 meter.
Pola pelebaran ini diproyeksikan bakal menambah ruang gerak kendaraan sekitar 1,5 hingga 2 meter di masing-masing sisi kiri dan sisi kanan bahu jalan.
Meskipun cetak biru kasar sudah mulai dipaparkan, pihak Pemda menegaskan belum bisa bergerak melangkah lebih jauh terkait penentuan patok lajur maupun tata letak ruko warga yang terdampak sebelum dokumen resmi diterbitkan oleh pusat.
"Desain resminya belum disampaikan ke kami. Kalau melihat konsepnya, kemungkinan besar kelanjutan dari Simpang Rimbo yang menggunakan median di tengah. Namun, kami tetap harus menunggu keputusan dan desain final dari kawan-kawan balai," pungkas Anjar secara diplomatis.
Pelebaran jalan ini direncanakan membangun jalur dua mulai dari pintu keluar Tol Pijoan hingga Mendalo Darat yang menjadi perbatasan Kota Jambi.
Ruas tersebut merupakan bagian penting dari jalur Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan akses menuju Provinsi Riau dan Lintas Tengah Sumatera ke arah Sumatera Barat.
Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi pun menyatakan dukungan penuh terhadap proyek strategis ini.
Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno, mengatakan pemerintah daerah siap membantu proses pembebasan lahan dengan melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat terdampak untuk menghindari penolakan warga seperti yang sempat terjadi pada periode 2021–2022.
"Pemkab sangat mendukung. Untuk aset seperti pagar, Pemda siap ganti rugi. Namun untuk bangunan ruko, akan dibicarakan lebih lanjut secara teknis. Saya sendiri akan turun langsung sosialisasi karena ini menyangkut kepentingan orang banyak," tegas Bupati.
Urgensi pelebaran jalan ini didukung oleh data teknis dari lapangan.
Baca juga: Update Padamnya Listrik di Jambi, Sungai Duren Padam, Simpang Rimbo Menyala
Baca juga: Balita Terkunci di Kamar di Alam Barajo Jambi, Damkartan Bobol Teralis untuk Evakuasi
Kepala BPJN Jambi, Dedy Hariadi, menjelaskan bahwa penanganan jalan nantinya akan dibagi ke dalam beberapa segmen, di antaranya ruas Batas Kota Jambi–Simpang Rimbo sepanjang 2,26 kilometer serta segmen utama lainnya sepanjang 7,80 kilometer.
Sementara itu, Dirlantas Polda Jambi, Kombes Pol Edi Benny Cahyono, menyebut kondisi ruas Mendalo hingga batas Kota Jambi saat ini telah mengalami over capacity atau melebihi kapasitas jalan.
Volume kendaraan yang tidak sebanding dengan lebar jalan memicu tingginya potensi kecelakaan lalu lintas serta kemacetan hebat, terutama di titik-titik padat seperti depan Kampus Unja, UIN STS Jambi, dan Simpang Sungai Duren.
"Risiko kecelakaan tinggi karena volume kendaraan yang tidak sebanding dengan lebar jalan. Pembangunan jalur dua adalah kebutuhan mutlak untuk keselamatan," kata Benny.
Melihat kondisi tersebut, Edi Purwanto kembali menekankan pentingnya manajemen keselamatan terpadu yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap proses pembebasan lahan seluas 20,5 hektare tersebut dapat diselesaikan secara klir pada tahun ini agar konstruksi fisik dari pusat dapat segera dimulai demi menyelamatkan nyawa para pelajar dan pengguna jalan.