TRIBUNBANTEN.COM - Gunung Anak Krakatau resmi dinaikkan statusnya menjadi Level III (Siaga) setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan status ini dipicu lonjakan gempa, emisi gas, hingga erupsi yang terekam pada awal Juli 2026.
Gunung Anak Krakatau, berada di Selat Sunda, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia.
Badan Geologi mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah.
Warga juga diminta selalu mengikuti informasi resmi karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif selama 24 jam.
Imbauan tersebut demi keselamatan, serta terus memantau informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
Dalam rilis resmi Badan Geologi, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ditandai dengan bertambahnya emisi gas sulfur dioksida (SO₂), munculnya anomali panas, hingga titik api di kawah yang terpantau sejak awal Juni 2026.
Kondisi tersebut kemudian diikuti peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik dangkal yang mengindikasikan adanya pergerakan magma menuju permukaan.
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkal menjadi salah satu indikator utama yang mendasari kenaikan status Gunung Anak Krakatau.
"Peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau di bagian permukaan," ujar Lana Saria dalam rilis resmi Badan Geologi.
Baca juga: Nelayan Sumur dan Panimbang Pandeglang Nyaris Bentrok di Laut, Dipicu Rumpon Rusak Tersangkut Jaring
Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, Badan Geologi mencatat 740 gempa hembusan, 520 gempa hybrid/fase banyak, 247 gempa low frequency, 24 gempa harmonik, 16 gempa tremor menerus, serta sejumlah gempa vulkanik dan tektonik lainnya.
Sementara itu, hasil pemantauan deformasi memperlihatkan Stasiun Tiltmeter Tanjung mengalami kecenderungan inflasi dalam skala rendah yang mengindikasikan masih adanya suplai magma di bawah permukaan.
Peningkatan aktivitas tersebut mencapai puncaknya ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB.
Erupsi menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal teramati bergerak ke arah barat laut.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama kurang lebih 20 detik.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data visual, kegempaan, deformasi, dan pengamatan satelit, Badan Geologi akhirnya menetapkan status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III (Siaga).
"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB," kata Lana Saria.
Masyarakat Diminta Jauhi Radius 3 Kilometer
Menindaklanjuti kenaikan status tersebut, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi mengimbau masyarakat agar mematuhi seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan Badan Geologi.
"Sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, status Gunung Anak Krakatau resmi naik menjadi Level III atau Siaga. Kami mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung," ujar Andi.
Ia juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
"Silakan beraktivitas seperti biasa, namun tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, maupun Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. Jangan mudah terpancing isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Andi.
Badan Geologi menegaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dipantau selama 24 jam.
Evaluasi terhadap status gunung api akan dilakukan secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan.