Dibangun Megah dengan Sarana Lengkap, Siapa Berminat Masuk Sekolah Rakyat Banyumas
khoirul muzaki July 03, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO -  Kementerian Sosial mempercepat penyelesaian pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas agar dapat digunakan tepat pada awal tahun ajaran baru.

Progres pembangunan sudah mencapai sekitar 90 persen. Kontrak pekerjaan masih berlangsung hingga Agustus 2026.

Seluruh fasilitas ditargetkan rampung pada Juli sehingga kegiatan belajar mengajar bisa dimulai pada 13 Juli mendatang.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, saat meninjau perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat Banyumas, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya, percepatan dilakukan agar para siswa dapat langsung menempati sekolah berasrama tersebut sejak hari pertama masuk sekolah.

"Target kami seluruh pembangunan selesai pada Juli sehingga saat tahun ajaran baru dimulai, siswa sudah bisa belajar di sini," katanya kepada Tribunbanyumas.com.

Sekolah Rakyat Banyumas akan menjadi sekolah berasrama yang menampung tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni SD, SMP, dan SMA.

Masing-masing jenjang disiapkan dengan kapasitas 90 peserta didik sehingga total daya tampung mencapai 270 siswa.

Kompleks sekolah tersebut dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari ruang kelas, asrama siswa, ruang makan, laboratorium, perpustakaan, fasilitas olahraga, tempat ibadah, kantin hingga gedung pertemuan.

Bangunan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA dibuat terpisah, sedangkan sejumlah fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga, dan gedung pertemuan digunakan secara bersama.

Meski demikian, Dwi Asih mengungkapkan kuota peserta didik jenjang SD hingga kini belum terpenuhi.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan minimnya minat masyarakat, melainkan karena banyak orangtua belum siap melepas anak-anak mereka yang masih berusia kecil untuk tinggal di asrama.

"Anak-anak SD usianya masih kecil sehingga banyak orangtua yang belum siap melepas mereka tinggal di asrama," ujarnya.

Ia menjelaskan Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi masyarakat Kabupaten Banyumas, khususnya warga di sekitar lokasi sekolah.

Namun apabila kuota masih tersedia, kesempatan juga diberikan kepada masyarakat dari wilayah lain di Banyumas sesuai ketentuan yang berlaku.

Dwi Asih juga mengajak masyarakat berperan aktif melaporkan keberadaan anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama yang berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2 serta belum bersekolah, agar dapat mengikuti program tersebut.

Menurutnya, Sekolah Rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin, termasuk mereka yang sempat putus sekolah namun masih memiliki keinginan melanjutkan pendidikan.

"Sepanjang memenuhi persyaratan, anak-anak yang putus sekolah tetap bisa bersekolah di sini. Yang penting mereka memiliki semangat belajar dan berasal dari keluarga sasaran program," katanya.

Ia menambahkan minat masyarakat terhadap jenjang SMP dan SMA cukup tinggi.

Namun karena daya tampung terbatas, proses seleksi akan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati.


Selain menyediakan asrama siswa, sekolah tersebut juga memiliki asrama bagi guru.

Guru yang berdomisili jauh dapat tinggal di lingkungan sekolah, sedangkan guru yang rumahnya dekat tetap bisa pulang setiap hari.

Sementara pengawasan siswa dilakukan selama 24 jam oleh wali asrama.

Baca juga: Oknum Polisi di Tegal Aniaya Istri Siri hingga Cekoki Sabu, Hotman Paris Turun Tangan

Kepala SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah, mengatakan pada tahun ajaran perdana Sekolah Rakyat Banyumas menargetkan menerima 270 peserta didik yang terbagi masing-masing 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.

Ia menyebut proses penjangkauan calon peserta didik untuk jenjang SMP dan SMA telah selesai dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.
Untuk jenjang SMP, sekitar 360 calon peserta didik berhasil dijangkau, namun hanya 90 siswa yang diterima sesuai kapasitas.

Kondisi serupa terjadi pada jenjang SMA, dengan sekitar 360 peminat dan hanya 90 siswa yang ditetapkan sebagai peserta didik.

Berbeda dengan dua jenjang tersebut, hingga kini baru sekitar 25 calon peserta didik SD yang berhasil terdata.

"Anak-anak SD masih membutuhkan pengasuhan orangtua. 


Banyak orangtua yang merasa belum tega melepas anaknya tinggal di asrama. Jadi bukan karena tidak ada calon siswa, tetapi lebih karena faktor kesiapan orang tua dan anak," ujar Siti.

Meski demikian, proses penjangkauan peserta didik SD masih terus dilakukan hingga batas waktu yang ditentukan.

Apabila kuota SD tetap tidak terpenuhi, pihak sekolah telah mengusulkan kepada Kementerian Sosial agar sisa kuota dialihkan ke jenjang SMP dan SMA sehingga seluruh kapasitas sekolah tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.