Cristiano Ronaldo kembali menjadi perbincangan netizen usai Portugal mengalahkan Kroasia 2-1 di Piala Dunia 2026. Sebuah video viral memperlihatkan CR7 diduga mengucap "Bismillah" sebelum mengeksekusi penalti ke gawang Dominik Livakovic.
Momen itu terjadi saat Portugal mendapat hadiah penalti pada menit ke-66. Kapten timnas Portugal itu sukses melepaskan tendangan datar yang sukses merobek jala lawan.
Cuplikan close-up Cristiano tersebut langsung viral di media sosial. Dan, ini bukan kali pertama Ronaldo diduga mengucapkan "Bismillah" sebelum eksekusi. Sebelumnya, momen serupa juga viral saat ia membela Al-Nassr di Saudi Pro League beberapa waktu lalu.
Fight or Flight di Balik Ucapan CR7
Terlepas dari dugaan ucapan 'Bismillah' atau 'Wish Me Luck' dari CR7, saat seorang pemain berdiri di titik 12 pas, banyak pemain sepakbola merasa kesulitan karena adanya tekanan yang luar biasa.
Bahkan, eksekusi penalti di Piala Dunia 2026 ini sudah memakan banyak korban pemain-pemain yang berasal dari tim besar yang notabene kemampuan sepakbolanya tidak perlu diragukan.
Ambil contoh saja Timnas Jerman dan Belanda yang harus tersingkir dari ajang Piala Dunia 2026 secara dramatis setelah masing-masing menelan kekalahan dalam babak adu penalti di babak 32 besar.
Terlepas apa yang sebenarnya diucapkan oleh Ronaldo, kata-kata yang keluar dari mulutnya merupakan cara untuk membangkitkan fokus, percaya diri, dan mencoba keluar dari tekanan pertandingan.
Saat Ronaldo berdiri di titik putih, ia tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Terlebih ia sedang bermain di kompetisi sepakbola paling besar di Bumi.
Hasil tendangannya tidak hanya menentukan pertandingan, namun bagaimana publik menilainya, sehingga otak membaca ini sebagai situasi yang penting banget.
Di saat-saat ini peran mekanisme pertahanan diri biasanya aktif yang bernama 'fight or flight response' dan Ronaldo memilih untuk 'fight' dengan menjadi algojo.
Respons fisiologis ini memicu pelepasan adrenalin, meningkatkan detak jantung, ketegangan otot, dan kewaspadaan, yang bertujuan untuk bertahan hidup, baik dengan menghadapi bahaya atau melarikan diri.
Pelepasan hormon secara tiba-tiba mengaktifkan sistem saraf simpatik tubuh sebagai respons terhadap stres akut. Hormon fight or flight meliputi hormon adrenokortikotropik dan hormon pelepas kortikotropin.
Meskipun respons fight or flight terjadi secara otomatis, bukan berarti respons tersebut selalu akurat. Terkadang kita merespons dengan cara ini bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.





