WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Menjelang fajar, denyut nadi Jakarta mulai berpacu lebih cepat.
Gelombang manusia dari kota-kota penyangga tumpah ruah memadati setiap jengkal jalanan ibu kota.
Ironisnya, mayoritas dari mereka masih terjebak di dalam kungkungan kendaraan pribadi, merayap perlahan dalam ritual kemacetan yang seolah tanpa akhir.
Potret muram mobilitas kaum komuter ini diakui secara gamblang oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Saat ditemui di Balai Kota Jakarta pada Jumat (3/7/2026), Pramono mengungkapkan bahwa tingginya pergerakan masyarakat dari Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) ke Jakarta menjadi salah satu pemicu utama mengapa Jakarta belum bisa sepenuhnya merdeka dari kemacetan.
Baca juga: Wisata Gratis HUT ke-499 Jakarta Picu Macet ke Ragunan, Antrean Mengular di TB Simatupang
Berdasarkan data yang dikantonginya, tak kurang dari 3,5 hingga 4 juta orang atau komuter masuk ke Jakarta setiap pagi untuk mengais rezeki dan beraktivitas, lalu kembali pulang saat matahari terbenam.
"Kemacetan di Jakarta terjadi karena banyak faktor. Tapi yang paling utama adalah ketika pada pagi hari kurang lebih 3,5 sampai 4 juta orang datang bekerja di Jakarta, beraktivitas di Jakarta, dan ketika sore atau malam hari kembali ke kediamannya masing-masing," ujar Pramono.
Menyadari beban berat yang dipikul jalanan ibu kota, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini tengah berpacu dengan waktu untuk mengubah kultur berkendara masyarakat.
Targetnya jelas: memaksa warga berpaling dari kenyamanan semu kendaraan pribadi menuju angkutan massal.
Memutus Kemacetan Sejak dari Kota Penyangga
Strategi utama yang kini digenjot adalah "menjemput bola" hingga ke luar batas administratif Jakarta.
Pemprov DKI secara masif memperluas jaringan layanan Transjabodetabek untuk mengintersepsi para komuter sejak mereka keluar dari pintu rumah.
Sejumlah rute strategis baru telah dioperasikan, mulai dari koridor Blok M menuju kawasan hunian dan bisnis seperti Alam Sutera, PIK 2, hingga rute penghubung jarak jauh menuju Bogor, Bekasi, dan Karawang.
Langkah ini diharapkan mampu mereduksi ribuan mobil dan motor pribadi yang masuk ke jantung kota setiap harinya.
"Transportasinya tidak lagi menggunakan pribadi, tetapi bagaimana orang kemudian menggunakan transportasi umum," tegas Pramono.
Paradoks Konektivitas: Jalur Tersedia, Minat Minim
Namun, perjuangan membenahi transportasi publik di Jakarta menyisakan sebuah paradoks yang cukup menggelitik.
Di satu sisi, Pramono membeberkan bahwa tingkat konektivitas moda transportasi di Jakarta sebenarnya sudah sangat prima, yakni menyentuh angka 93 persen.
Sayangnya, fasilitas yang nyaris sempurna itu belum berbanding lurus dengan kesadaran warga.
Baca juga: Sering Bikin Macet, Sistem Parkir di Badan Jalan Berlaku di Jalan Mayjen Sutoyo Cawang Jakarta Timur
Angka pengguna rutin transportasi publik di Jakarta hingga saat ini masih mandek di angka kritis.
"Konektivitas Jakarta sebenarnya sudah 93 persen. Tetapi yang menggunakan terus-menerus, menurut saya data terakhir mungkin baru sekitar 27 hingga 28 persen," ungkapnya.
Meski menghadapi tantangan berat dalam mengubah kebiasaan masyarakat, kerja keras Pemprov DKI mulai mendapat pengakuan di panggung global. .
Berdasarkan penilaian lembaga transportasi dunia yang kredibel, wajah transportasi Jakarta kini berada di peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura, menempati posisi ke-8 di Asia, dan melesat ke peringkat 17 di dunia.
Sebuah prestasi prestisius, yang sayangnya, masih harus dibuktikan keampuhannya di atas aspal jalanan Jakarta yang masih sering terkunci.(m27)