TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah optimistis neraca perdagangan Indonesia akan kembali mencatatkan surplus dalam beberapa bulan ke depan setelah sempat mengalami defisit pada Mei 2026.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, defisit yang terjadi lebih disebabkan oleh tingginya impor minyak dan gas (migas), sementara neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus.
"Sehingga hitungan kita sih di bulan-bulan depan seharusnya bisa balik lagi ke surplus. Seharusnya ya, karena harga minyaknya sudah mulai turun," kata Susiwijono kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.950 per Dolar AS, Tertekan Defisit Neraca Perdagangan RI
Ia menjelaskan, defisit neraca perdagangan pada Juni mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020.
Menurut dia, penyebab utama adalah defisit neraca migas yang mencapai sekitar 3,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan neraca nonmigas masih mencatatkan surplus sekitar 2 miliar dolar AS.
Susiwijono mengatakan, meski harga minyak dunia kini telah turun ke kisaran 73 dolar AS per barel, impor migas yang tercatat pada Juni masih menggunakan kontrak dengan harga bulan sebelumnya yang lebih tinggi.
Akibatnya, nilai impor migas masih besar sehingga menekan neraca perdagangan secara keseluruhan.
"Dengan impor migas yang tinggi ya kemarin akhirnya defisitnya migas jauh lebih tinggi daripada surplusnya non-migas. Sehingga kemarin defisit," ujar Susiwijono.
"Nah kedepan mudah-mudahan kan ini harga minyaknya akan turun. Sehingga defisit migasnya mudah-mudahan mulai berkurang," imbuhnya.
Sementara itu, terkait inflasi Juni 2026 ini, Susiwijono menilai kondisinya masih berada dalam rentang sasaran pemerintah meski mencapai 3,34 persen secara tahunan.
Ia menjelaskan, kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh komponen administered prices, seperti penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan kenaikan tarif tiket pesawat selama masa libur sekolah.
Sedangkan inflasi inti atau core inflation masih berada di kisaran 2,7 persen yang dinilai mencerminkan daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Tapi juga daya beli kan masih ada, masih cukup kuat. Nah kalau dari sisi keseluruhan nilai inflasi memang akan di range-nya kan antara 2,5 plus 1 persen. Jadi kan antara 1,5 sampai 3,5 persen," tegas dia.
Baca juga: Neraca Dagang RI Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, Dipicu Impor Migas
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 milair dolar Amerika Serikat (AS). Defisit dipicu oleh masih tingginya defisit perdagangan migas.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pada Mei 2026 neraca perdagangan migas mengalami defisit 3,76 miliar dolar AS terutama berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah.
"Pada Mei tahun 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS atau minus 1,61 miliar dolar AS," ujar Ateng saat Rilis BPS, Rabu (1/7/2026).
Meski demikian, perdagangan non-migas masih mencatat serplus sebesar 2,15 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15) serta besi dan baja (HS 72).
Secara kumulatif, kondisi perdagangan Indonesia masih mencatat kinerja positif. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan barang Indonesia masih surplus sebesar 4,03 miliar dollar AS.
Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas yang membukukan surplus 16,31 miliar dollar AS, meski masih tertahan oleh defisit migas sebesar 12,28 miliar dollar AS.
"Hingga bulan Mei tahun 2026 neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS. Surplus sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas sebesar 16,31 miliar dolar AS," tutur Ateng.
BPS juga mencatat, tiga negara yang menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar Indonesia selama Januari-Mei 2026 adalah Amerika Serikat dengan surplus 7,03 miliar dollar AS, India sebesar 5,29 miliar dollar AS, dan Filipina sebesar 3,58 miliar dollar AS.
Sementara itu, defisit perdagangan terbesar terjadi dengan Tiongkok sebesar 10,17 miliar dollar AS, disusul Australia sebesar 3,99 miliar dollar AS, serta Singapura sebesar 3,83 miliar dollar AS.
Pada kelompok nonmigas, komoditas penyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan surplus 13,92 miliar dollar AS, diikuti bahan bakar mineral sebesar 10,88 miliar dollar AS, dan besi dan baja sebesar 7,09 miliar dollar AS.
Di sisi lain, komoditas penyumbang defisit nonmigas terbesar masih berasal dari mesin dan peralatan mekanik (HS 84) yang mencatat defisit 12,74 miliar dollar AS.
Diketahui impor Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 111,33 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini meningkat 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor terjadi baik pada komoditas migas maupun non-migas.
Nilai ekspor Indonesia pada bulan Mei 2026 mencapai 23,20 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau turun 5,73 persen dari periode yang sama tahun 2025. Penurunan nilai ekspor ini utamanya didorong oleh penurunan nilai ekspor non-migas.
Ekspor migas senilai 0,76 miliar dolar AS atau turun sebesar 31,76 persen. Sedangkan nilai ekspor non-migas tercatat mengalami penurunan sebesar 4,50 persen dengan nilai 22,45 miliar dolar AS pada kondisi Mei tahun 2026.