Mengusung Tema Atma Kerthi, Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Rambah Ranah Nasional
Ngurah Adi Kusuma July 03, 2026 05:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Geliat aktivitas budaya di Pulau Dewata dipastikan tidak akan kendor. Begitu tirai Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 ditutup, Pemerintah Provinsi Bali langsung tancap gas menggelar Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. 

Perhelatan akbar yang menjadi panggungnya seni modern, kontemporer, dan inovatif ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 11 hingga 25 Juli 2026, bertempat di Taman Budaya (Art Center) Provinsi Bali dengan melibatkan sedikitnya 2.649 seniman.

Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali saat ini tengah sibuk merampungkan segala persiapan teknis. 

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengungkapkan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan demi menyempurnakan jalannya festival, termasuk mengurasi kelompok seni yang terlibat.

Baca juga: Pendaftaran Jalur Domisili SMA/SMK Negeri di Bali Resmi Berakhir, Diikuti 16.559 Peserta

"Penutupan PKB sekalian pembukaan FSBJ. Sanggar atau kelompok yang akan tampil dikurasi," ujar Alit Suryana didampingi Kepala Bidang Kesenian Disbud Bali Putu Agus Yudiantara saat rapat persiapan FSBJ di Kantor Disbud Bali, Kamis 2 Juli 2026. 

Festival tahun ini mengusung tema besar ‘Atma Kerthi: Kembara Sukma Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci, yang dimaknai sebagai perjalanan jiwa menuju kemahardikaan yang suci. 

Tema tersebut diterjemahkan ke dalam lima konsep utama penyelenggaraan, yakni eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi. 

Melalui konsep tersebut, FSBJ diharapkan menjadi ruang lahirnya karya-karya baru yang tetap berakar pada nilai dan budaya Bali.

Landasan yuridis pelaksanaan FSBJ merujuk pada Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. 

Alit Suryana menegaskan adanya garis pembatas yang jelas namun saling melengkapi antara karakter PKB dan FSBJ.

Baca juga: Hanya Satu Laporan Terkait SPMB SMA/SMK 2026 di Bali yang Masuk Tahap Pemeriksaan Ombudsman

"Kalau Pesta Kesenian Bali yang tampil adalah seni-seni tradisi, seni klasik, juga seni kerakyatan khas kabupaten dan daerah. Sedangkan Festival Seni Bali Jani ini adalah seni modern, kontemporer, dan juga inovatif," katanya.

Dengan fokus pada ranah kontemporer, festival ini secara otomatis menjadi magnet sekaligus ruang regenerasi bagi kreator-kreator muda Bali yang aktif di berbagai bidang seni kreatif.

"Yang jelas, Bali Jani ini kan pementasan seni modern. Tentunya mungkin banyak nanti yang akan menonton kalangan generasi muda karena juga berkaitan dengan teater dan seni modern, dan itulah dunia mereka,”

“Kita juga ingin meregenerasi kepada generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang memang sebagian pesertanya berasal dari generasi muda. Yang jelas Bali Jani ini pementasan seni modern,”

“Tentunya banyak nanti yang akan menonton kalangan generasi muda karena juga berkaitan dengan teater dan seni modern, dan itulah dunia mereka,”

“Kita juga ingin meregenerasi generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang memang sebagian pesertanya berasal dari mereka," ujarnya.

Ada yang berbeda pada pelaksanaan FSBJ ke-8 ini. Pihak panitia melakukan gebrakan dengan memperluas jangkauan kompetisi tertentu ke tingkat nasional yang diadakan secara daring (online).

"Yang tentunya baru sekarang berkaitan dengan tema. Tampilan sajian seni itu mengacu dengan tema. Ada beberapa lomba yang dulu regional Bali, sekarang sudah kita perluas, dibuka secara umum secara online," terangnya.

Empat cabang lomba berskala nasional tersebut meliputi penulisan cerita pendek, penulisan naskah drama, pembuatan film pendek, serta kompetisi konten kreatif. 

Baca juga: Vaksinasi di Banjar Tangi Diperluas, Kecamatan Negara Sumbang 15 Kasus Positif Rabies Pada Hewan

Selebihnya, kategori lomba lain tetap dikhususkan bagi peserta lokal Bali.

Tak hanya itu, diversifikasi genre musik juga dilakukan secara berani dengan menyertakan panggung musik cadas lewat Pergelaran Band Rock oleh Pregina Production untuk memperkuat posisi festival sebagai ruang ekspresi generasi muda lintas genre. 

Alit Suryana menyebut langkah ini sebagai bentuk pengakuan atas keberagaman ekspresi anak muda.

“Itulah dunia mereka. Kita juga beri ruang kepada generasi muda, kegiatan-kegiatan yang kita laksanakan ada beberapa yang memang khusus,” katanya.

Melalui strategi promosi yang masif di media sosial dan kolaborasi bersama media massa, Pemprov Bali mematok target kunjungan yang cukup optimistis, yakni mencapai 23 ribu penonton selama pelaksanaan festival. 

Angka ini meningkat signifikan dari total 18.178 pengunjung dalam 10 hari kegiatan pada edisi tahun lalu.

Selama 15 hari penuh, jalannya FSBJ VIII akan ditopang oleh delapan materi utama kegiatan yang dinamis, yaitu Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Utsawa (Parade), Beranda Pustaka atau Bursa Buku, Aguron-guron (Lokakarya), Timbang Rasa (Sarasehan), Pameran Megarupa, dan penghargaan Bali Jani Nugraha. 

Secara keseluruhan, total keterlibatan seniman mencapai 2.649 orang, yang terbagi ke dalam 1.365 seniman pergelaran, 375 peserta parade, 745 peserta lomba, 76 peserta Beranda Pustaka, 76 peserta pameran megarupa, 150 peserta lokakarya, dan 300 peserta sarasehan.

Pada kategori Pawimba atau perlombaan, panitia menetapkan dewan juri dari berbagai kalangan akademisi, seniman, dan praktisi seni untuk menjaga kualitas kompetisi pada sembilan cabang yang disediakan. 

Berdasarkan peta peminat, ajang menulis cerpen menjadi primadona utama dengan total 242 peserta, disusul oleh cabang baca puisi sebanyak 88 peserta, dan menulis naskah drama dengan 66 peserta. 

Sementara itu, kategori berskala nasional berupa film pendek berhasil menjaring 57 peserta, diikuti oleh kompetisi menyanyi lagu pop Bali dengan 43 peserta. 

Untuk cabang perlombaan modern lainnya, tari modern mencatatkan 18 peserta, sedangkan musikalisasi puisi serta konten kreatif masing-masing diikuti oleh 12 peserta, dan dilengkapi oleh cabang teater se-Bali yang diikuti oleh sembilan kelompok peserta.

Beralih ke panggung pertunjukan, kategori Adilango atau pergelaran siap memukau penonton melalui 21 paket pementasan yang terdiri atas tiga pergelaran kolosal kolaborasi, 11 pergelaran kolosal, dan tujuh pergelaran sedang. 

Pada panggung kolosal kolaborasi, penonton akan disuguhkan aksi dari Sanggar Teater Mini saat seremoni pembukaan, Musika Jani oleh Sanggar Rare Angon Sejati, serta penampilan dari Sanggar Seni Kokar Bali pada malam penutupan. 

Panggung kolosal lainnya dihiasi oleh keterlibatan kolektif dari Teater Selem Putih, Teater Agustus, PT Kuta Tunas Visual, Teater Kini Berseri, Komunitas Kertas Budaya, Komunitas Mahima, Orkestra ISI Bali, Naluri Manca, Kuta Kumara Agung, CV Pregina Production, hingga IODI Provinsi Bali. 

Sementara untuk pergelaran berskala sedang, kemeriahan akan diisi oleh Sekolah Musik Sangaji, Lawak STI Bali, Sanggar Kertha Art, Eternals Community, Teater ISI Bali, Sanggar Eka Mahardika, serta Komunitas Dermaga Seni Buleleng.

Untuk kategori Utsawa atau parade, panggung ekspresi pelajar diberikan penuh kepada sembilan sekolah menengah atas dan kejuruan dari berbagai wilayah di Bali. 

Sekolah-sekolah yang siap unjuk kebolehan tersebut adalah SMA Negeri 1 Denpasar, SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar, SMA Negeri 3 Denpasar, SMA Negeri 1 Tabanan, SMA Negeri 1 Gianyar, SMA Negeri 1 Semarapura, SMA Negeri 1 Amlapura, SMA Negeri 2 Kuta Selatan, dan SMK Negeri 4 Bangli.

Sektor literasi dan seni rupa juga mendapatkan ruang apresiasi yang mendalam. 

Melalui agenda Beranda Pustaka yang dikelola oleh Komunitas Aghumi di Gedung Putri Taman Budaya Bali, pengunjung tidak hanya disuguhkan bursa atau pameran buku nasional dan buku penerima Bali Jani Nugraha, tetapi juga pameran kartun, dialog bersama penulis, sketsa mural, hingga berbagai aktivitas literasi lainnya. 

Sementara itu, representasi seni rupa diwakili lewat Pameran Megarupa yang digelar melalui kolaborasi apik Komunitas Nata Citta Krama bersama ISI Bali di Gedung Kriya serta beberapa lokasi strategis lainnya.

Tak ketinggalan, ruang tajam berpikir dihadirkan melalui dua lokakarya Aguron-guron dan dua sarasehan Timbang Rasa. 

Topik-topik yang dibedah sangat kekinian dan relevan, seperti lokakarya bertema Sastra Masuk Kurikulum: Di Mata Para Guru dan Kreasi Ogoh-ogoh di Era AI. 

Sedangkan untuk sesi sarasehan, diskusi akan menitikberatkan pada tema Karya Seni di Era Kecerdasan Buatan (Kolaborasi) dan Etika serta Dekolonisasi Narasi Lokal untuk memposisikan sastra maupun seni lokal di tengah pasar nasional.

Sebagai bentuk penghargaan tinggi kepada insan kreatif, Pemprov Bali kembali menganugerahkan Bali Jani Nugraha kepada 10 penerima yang dinilai memiliki prestasi, dedikasi, serta kontribusi nyata terhadap perkembangan seni modern, kontemporer, dan seni inovatif di Bali, di mana proses penilaiannya saat ini masih berlangsung.

Guna melengkapi ekosistem festival, kawasan sisi selatan Taman Budaya Bali akan disulap menjadi pusat kuliner yang diisi oleh 25 stan UMKM. 

Kehadiran pasar kuliner ini menjadi ruang promosi strategis sekaligus penggerak roda ekonomi bagi pelaku usaha lokal di tengah perhelatan budaya.

Masyarakat akan disuguhi berbagai pertunjukan teater, musik, tari modern, lawak, wayang boneka, orkestra, parade seni pelajar, pameran seni rupa, hingga berbagai forum diskusi setiap hari dari tanggal 11 hingga 25 Juli 2026. 

Rangkaian panjang FSBJ VIII ini nantinya akan resmi ditutup pada 25 Juli 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra yang dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan Bali Jani Nugraha, penyerahan hadiah bagi juara pertama seluruh cabang lomba, serta pergelaran pamungkas dari Sanggar Seni Kokar Bali sebagai puncak penutupan. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.