TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Lingkungan Apoleang Utara, Kelurahan Mosso Dua, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut mengusung tema "Peningkatan Kapasitas Peternak Ayam Kampung melalui Teknologi Penetasan, Pakan Lokal, dan Pengelolaan Keuangan Usaha."
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 ini melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Peternakan serta Program Studi Akuntansi Unsulbar.
Tim pengabdian diketuai Khatifah, S.Pt., M.Si., dengan anggota Ir. Agni Ayudha Mahanani, S.Pt., M.Pt., IPP., dan Sari Fatimah Mus, S.Ak., M.Ak.
Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Kelompok Tani/Ternak Surya serta mendapat dukungan dari Pemerintah Kelurahan Mosso Dua.
Baca juga: Dosen Unsulbar Dampingi Peternak: Ubah Limbah Perikanan Jadi Pakan, Jaga Populasi Betina Produktif!
Baca juga: Dosen Unsulbar Latih Warga Desa Limboro Rambu-rambu Manfaatkan Limbah Aren Jadi Pakan & Pupuk Kompos
Khatifah mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dalam membuat mesin tetas, memanfaatkan pakan lokal, serta menyusun pencatatan keuangan usaha.
"Pendekatan yang diterapkan mengedepankan teknologi penetasan dan pakan lokal, di mana teknologi penetasan digunakan untuk menetaskan telur ayam kampung, sedangkan bahan lokal yang tersedia dimanfaatkan menjadi pakan ternak ayam kampung," kata Khatifah dalam rilis yang diterima Tribun-Sulbar.com.
Sebelumnya, tim telah melaksanakan tiga rangkaian kegiatan, yakni sosialisasi pada 21 Juni 2026, pelatihan pembuatan mesin tetas pada 24 Juni 2026, serta pelatihan pembuatan pakan lokal dan pencatatan keuangan sederhana pada 29 Juni 2026 di kediaman Ketua Kelompok Tani/Ternak Surya.
Khatifah menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas peternak ayam kampung secara mandiri dan berkelanjutan.
Program itu mendapat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
"Melalui teknologi penetasan, pakan lokal, dan pengelolaan keuangan usaha, masyarakat tidak hanya dapat menekan biaya produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Khatifah, teknologi tersebut memungkinkan telur ayam kampung yang sebelumnya hanya ditetaskan secara alami kini dapat ditetaskan menggunakan mesin dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Selain itu, bahan-bahan lokal yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi pakan berkualitas bagi ayam kampung.
Pelatihan meliputi pembuatan mesin tetas otomatis, pembuatan pakan berbasis bahan lokal, serta penyusunan pencatatan keuangan sederhana guna meningkatkan populasi ayam kampung dan efisiensi usaha peternakan.
Ketua Kelompok Tani/Ternak Surya, Kurniadi, S.Pt., menyampaikan apresiasi atas kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.
"Kami sangat terbantu dengan adanya program ini," ujarnya.
Kurniadi mengatakan sebelumnya jumlah ayam kampung yang dipelihara terbatas karena penetasan masih dilakukan secara alami.
Dengan adanya mesin tetas otomatis, telur ayam kampung dapat ditetaskan dalam jumlah lebih banyak.
"Hasil anak ayam lebih banyak dan biaya pakan lebih berkurang dengan adanya pelatihan pembuatan pakan dari bahan lokal. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut," ungkapnya.
Pada tahap awal pelaksanaan, masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi.
Sejumlah anggota kelompok tani/ternak telah berhasil mempraktikkan penetasan telur menggunakan mesin tetas otomatis serta membuat pakan berbahan lokal.
Program pengabdian kepada masyarakat di Lingkungan Apoleang Utara diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi penetasan, pakan lokal, dan pengelolaan keuangan usaha yang dapat diterapkan di wilayah lain di Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, maupun di Provinsi Sulawesi Barat.
Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, program tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas peternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak lokal. (*)