Harga Ayam Potong di Kota Madiun Anjlok Jadi Lebih Murah Efek MBG Berhenti, Konsumen Semringah
Alga W July 03, 2026 04:33 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Belakangan ini, harga daging ayam di Kota Madiun, Jawa Timur, anjlok signifikan.

Pantauan TribunJatim.com, di Pasar Besar Kota Madiun, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, harga daging ayam berada di angka Rp30 ribu per kilogram, Jumat (3/7/2026).

Baca juga: Bimteknas di Pacitan, AHY Instruksikan Fraksi Demokrat di Daerah Terus Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Angka tersebut jauh dari dua pekan lalu, yang mana harga ayam potong bisa mencapai Rp35 ribu bahkan Rp37 ribu per kilogram.

Turunnya harga ayam potong ini disambut baik oleh masyarakat konsumen daging ayam, karena bisa menyisihkan uang sisa belanja untuk keperluan lainnya.

Seorang pedagang ayam potong, Eva Wiji Lestari mengatakan, harga ayam turun semenjak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sementara selama momentum libur sekolah.

Ia mengatakan, biasanya saat ada MBG, harganya bisa Rp35 ribu sampai Rp37 ribu per kilogram.

"Sekarang terus turun karena MBG libur, ditambah libur sekolah juga mempengaruhi permintaan di pasar," ujarnya.

Menurut Eva, penurunan harga bukan disebabkan melimpahnya pasokan ayam.

Ia memastikan jumlah pasokan dari pemasok relatif normal seperti hari-hari biasa.

"Kalau pasokan sama saja. Yang enggak menentu itu harganya, bisa naik turun," katanya.

Ia juga mengungkapkan,harga ayam hidup di tingkat pemasok ikut mengalami penurunan.

Saat ini harga ayam hidup berkisar Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, tergantung pemasok.

Padahal ketika program MBG masih berjalan, harga ayam hidup sempat berada di kisaran Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Meski harga daging ayam turun, kondisi tersebut tidak serta merta mendongkrak penjualan.

Menurut Eva, daya beli masyarakat masih relatif sama, sehingga volume penjualan tidak mengalami peningkatan berarti.

"Pembelinya sama saja. Bukan berarti ayam murah terus orang beli banyak atau menyetok, enggak. Penjualannya tetap," ungkapnya.

Eva menambahkan, turunnya harga juga tidak membuat keuntungan pedagang bertambah.

Sebab harga beli dari pemasok juga ikut turun sehingga margin keuntungan tetap relatif sama.

"Kalau dari sananya turun, kami jualnya juga ikut turun. Jadi keuntungannya ya sama saja," jelasnya.

Ia memperkirakan harga ayam akan kembali merangkak naik pada pertengahan Juli, seiring dimulainya kembali program MBG dan berakhirnya masa libur sekolah.

"Nanti habis Juli atau paling pertengahan Juli sudah naik lagi. Biasanya kalau naik langsung Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilogram, bahkan pernah langsung naik Rp5.000," katanya.

Pembeli senang

Sementara itu, turunnya harga ayam disambut positif oleh para pembeli.

Salah satunya Yulia, warga Kota Madiun, yang mengaku senang karena harga kebutuhan pokok menjadi lebih terjangkau.

"Sekarang harganya sekitar Rp32 ribu, sebelumnya Rp35 ribu. Ya senang, jadi bisa lebih hemat," ujarnya.

Menurut Yulia, harga pangan yang stabil dan terjangkau sangat membantu masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

"Kalau bisa ya tetap murah. Sekarang cari kerja susah, pendapatan juga susah."

"Kalau harga kebutuhan pokok stabil dan tidak mahal, kan masyarakat bisa membagi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.