Usaha Hidroponik Will da Costa Tumbuh Bersama Pariwisata Labuan Bajo Manggarai Barat NTT
Hilarius Ninu July 03, 2026 05:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUN FLORES. COM, TARI RAHMANIAR

TRIBUNFLORES.COM- LABUAN BAJO- Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai barat kebutuhan pasokan bahan pangan segar ikut meningkat. 

Peluang itu dibaca jeli oleh Will Da Costa lewat Green Floreska, usaha kebun hidroponik yang ia rintis sejak September 2022.

Lokasinya berada di  Waembeleng, Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 


Berawal dari kebun kecil dengan kapasitas hanya 200 lubang tanam di halaman belakang rumahnya, Green Floreska kini berkembang menjadi dua lokasi kebun dengan total kapasitas mencapai 6.200 lubang tanam.

 

 

Baca juga: Lirik Lagu Dajo Ku Gao, Lagu Daerah Ende Lio NTT Ciptaan Alfredo Palle Wora

 

 

Will Da Costa mengatakan, ide membangun usaha hidroponik muncul setelah melihat adanya kesenjangan antara permintaan sayuran segar dari sektor pariwisata dengan ketersediaan pasokan di Labuan Bajo.

“Waktu itu saya lihat pariwisata di Labuan Bajo terus bertumbuh. Hotel, restoran, dan kafe semakin banyak, sementara kebutuhan sayur segar juga meningkat,” ujar Will kepada TRIBUNFLORES.COM, Kamis (2/06/2026). 

Dengan latar belakang di bidang pertanian dan memanfaatkan lahan milik sendiri, ia memulai usaha tersebut dengan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Saat itu, Green Floreska hanya menanam satu jenis sayuran, yakni selada keriting.

Panen pertama menjadi titik awal perjalanan bisnisnya. Dari satu pelanggan, Green Foreska perlahan mendapat kepercayaan pasar.

Pada 2023, kapasitas tanam meningkat menjadi sekitar 1.000 lubang. Pertumbuhan itu berlanjut pada 2024 dengan total kapasitas mencapai 2.000 lubang tanam.

Seiring meningkatnya pembangunan hotel dan restoran baru di Labuan Bajo, permintaan sayuran hidroponik pun ikut melonjak.

Green Floreska mulai memperkuat posisi pasar melalui kualitas produk dan promosi di media sosial. Langkah itu membuka jalan kerja sama dengan berbagai hotel, restoran, kafe, hingga kapal wisata.

“Puji Tuhan, banyak hotel dan restoran yang langsung ajak kerja sama. Sekarang kami sudah punya sekitar 30 mitra,” ujarnya.

Melihat peluang yang semakin besar, Wilfridus memutuskan membeli lahan tambahan di kawasan Batu Cermin dan membuka kebun kedua pada pertengahan 2024.

Saat ini, Green Floreska membudidayakan sekitar 10 hingga 12 jenis sayuran, menyesuaikan kebutuhan pasar.

Dalam sepekan, produksi sayuran mereka mencapai sekitar 150 hingga 200 kilogram, dengan 95 persen hasil panen disuplai ke sektor perhotelan, restoran, kafe, kapal wisata, dan UMKM di Labuan Bajo.

Meski tumbuh pesat, Will Da Costa mengaku usaha hidroponik punya tantangan tersendiri, terutama dalam mendapatkan benih berkualitas yang sebagian besar didatangkan dari Jakarta dengan merek luar negeri.

Baginya, kualitas menjadi kunci agar produk mampu bersaing dan memenuhi standar pasar pariwisata.

Dalam proses budidaya, benih disemai menggunakan media rockwool selama dua minggu, lalu dipindahkan ke instalasi pembesaran hingga siap panen dalam waktu 30 hingga 45 hari.

Ke depan, Green Floreska menargetkan menjadi usaha hidroponik terbesar, terbaik, dan terpercaya di Labuan Bajo dalam lima tahun mendatang.

Pertumbuhan Green Floreska menjadi gambaran bagaimana sektor pertanian lokal ikut bergerak seiring berkembangnya industri pariwisata di Labuan Bajo. (Iar) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.