TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Hasil tangkapan ikan para nelayan di Kabupaten Trenggalek hingga pertengahan tahun 2026 dilaporkan masih jauh dari target.
Faktor cuaca yang tidak menentu hingga hilangnya rumpon nelayan menjadi pemicu utama tidak memuaskannya hasil produksi perikanan tangkap tahun ini.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kabupaten Trenggalek, Syamsu Rijal, menerangkan penurunan volume tangkapan tersebut terlihat sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
"Untuk tangkapan nelayan dari Januari sampai Mei memang masih sedikit, sekitar 1.500-an ton. Dominasi tangkapannya yaitu ikan petek dan tongkol lisong atau yang biasa dikenal dengan nama lokal rengis," ulas Syamsu Rijal saat dikonfirmasi di kantornya, Jum'at (3/7/2026).
Baca juga: 6.896 Batang Rokok Ilegal Disita, Operasi Gabungan Ungkap Peredaran di Tiga Kecamatan Kota Kediri
Ia menambahkan, pihak TPI baru saja mendapatkan pembaruan data untuk bulan Juni sebesar 639 ton.
Dengan tambahan tersebut, total keseluruhan hasil produksi tangkapan dari Januari hingga Juni baru menyentuh angka 2.016,9 ton.
Angka ini merosot tajam jika disandingkan dengan perolehan tahun lalu. Rijal memperkirakan penurunan produksi ikan di seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek mencapai 60 hingga 70 persen.
"Kalau dibandingkan periode yang sama tahun kemarin, turunnya cukup banyak. Mungkin (hasil saat ini) masih sekitar 30 atau 40 persen dari periode yang sama tahun kemarin," jelasnya
Sebagai perbandingan, dirinya membeberkan bahwa total tangkapan produksi perikanan tangkap dalam satu Kabupaten Trenggalek pada tahun lalu mampu menembus angka 12 ribu ton dalam setahun.
Sementara tahun ini, capaiannya tergolong sangat lambat.
Ketika ditanya mengenai penyebab merosotnya hasil laut tersebut, Rijal menjelaskan ada dua faktor utama yang mengadang para nelayan.
Faktor pertama menyangkut kondisi alam yang tidak bersahabat di perairan selatan.
"Yang pertama kondisi cuaca yang kurang menentu, ombak tinggi, dan curah hujan cukup tinggi," tuturnya.
Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah hilangnya rumpon yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya ikan target tangkapan nelayan.
Menurut Rijal, ketiadaan rumpon ini merupakan imbas dari aktivitas survei seismik yang dilakukan pada akhir tahun lalu.
"Sebagai informasi, akhir tahun 2025 lalu rumpon nelayan itu terkena imbas survei seismik dua dimensi dari Pertamina Hulu Energi. Itu semua rumpon diambil karena letaknya berada di posisi kawasan yang dilintasi oleh kapal survei tersebut," ungkapnya.
Akibat hilangnya titik-titik kumpul ikan tersebut, tangkapan yang mendominasi saat ini hanya berkisar pada jenis ikan layang, rengis, dan petek.
Menyikapi situasi paceklik yang serbasult ini, mayoritas nelayan di Trenggalek memilih untuk tidak berspekulasi tinggi demi menghindari kerugian operasional yang lebih besar.
Ia mengaku posisi para nelayan saat ini masih dalam tahap saling memantau perkembangan situasi atau wait and see.
Mereka lebih mengandalkan sistem berbagi informasi antarkelompok nelayan sebelum memutuskan melaut.
"Jadi, mereka melihat temannya yang berangkat ada yang dapat apa tidak, kondisi cuacanya seperti apa. Mereka saling memberi informasi ke teman yang lainnya. Jadi masih menunggu musim ikan yang diharapkan oleh nelayan," imbuhnya.
Hukum ekonomi pun berlaku di dermaga dan pasar ikan Trenggalek saat ini. Minimnya pasokan ikan segar otomatis mengerek harga jual ke tingkat yang sangat tinggi.
Rijal mengungkapkan, kelangkaan komoditas laut ini memicu lonjakan harga yang dirasakan langsung oleh konsumen dan pedagang.
Salah satu contoh yang paling mencolok terjadi pada komoditas ikan tongkol lisong.
"Karena kondisi produksi tangkapan yang sedikit, harganya tinggi sekali. Bisa tongkol lisong yang biasanya harga normal Rp12 ribu sampai Rp18 ribu, ini kemarin informasi terakhir bisa sampai Rp30.000 per kilogram," bebernya.
Pihak UPT TPI Trenggalek sendiri belum bisa memastikan sampai kapan kondisi paceklik ikan ini akan berlangsung, mengingat faktor utamanya dikendalikan oleh alam.
"Nah, ini karena kondisi cuaca, kita tidak bisa memprediksi. Ya, kita cuma bisa berharap kondisi segera membaik dan tangkapan ikan segera meningkat," tandasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)