TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tingginya angka kematian ibu dan bayi menjadi perhatian serius Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
IBI yang berdiri 24 Juni 1951 sebagai organisasi profesi resmi yang menaungi bidan di Indonesia memang kehadirannya bertujuan mewujudkan bidan profesional berstandar global serta bermitra dengan pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mengatasi stunting.
Data dari tahun 2024 Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan mencapai 129 per 100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) berada di angka 5 per 1.000 kelahiran hidup.
Kasus kematian ibu dan bayi ini pun menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Sehari Penguatan Kompetensi Bidan Kota Makassar di Hotel Four Point by Sheraton Makassar, Jl Andi Djemma, Jumat (3/6/2026).
Agenda digelar sebagai rangkaian akhir peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
Saat ini IBI memiliki kepengurusan di daerah yang mencakup 34 provinsi dan berbagai cabang di kota/kabupaten.
Dilansir dari laman resmi IBI, jumlah anggota IBI di Sulawesi Selatan mencapai 24.657 bidan.
Saat acara Seminar IBI yang diselenggarakan di Hotel Four Point, para bidan kompak menggunakan seragam persatuan bermotif hitam putih.
Baca juga: Di Perayaan HUT IBI, Aliyah Mustika Minta Bidan Bersinergi Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Mereka antusias mengikuti setiap sesi yang membahas penguatan kapasitas profesi di tengah tantangan kesehatan ibu dan anak yang semakin kompleks.
Seminar dihadiri pengurus IBI, ratusan bidan dari Kota Makassar, Staf Ahli Pemkot Makassar Akhmad Namsum,, serta Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.
Ketua PC IBI Kota Makassar, Emilia Hernani, mengatakan rangkaian peringatan HUT telah dimulai sejak Mei melalui berbagai kegiatan sosial yang dilaksanakan di seluruh ranting.
Sebanyak 25 pengurus ranting IBI Kota Makassar terlibat dalam pelayanan kesehatan yang menyasar langsung masyarakat.
Kegiatan tersebut meliputi pelayanan keluarga berencana (KB), imunisasi, pemeriksaan kesehatan gratis, serta berbagai layanan kesehatan lainnya.
Selain itu, pada 20 hingga 28 Juni juga digelar kegiatan jalan sehat yang melibatkan para bidan bersama berbagai unsur masyarakat sebagai bagian dari semarak peringatan HUT IBI.
Emilia menilai seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian profesi bidan kepada masyarakat.
"Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Makassar dan Wali Kota Makassar atas dukungan yang diberikan sehingga IBI dapat terus bersinergi menjalankan program-program kesehatan," kata Emilia.
Ia menegaskan bidan merupakan garda terdepan dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi sejak masa kehamilan hingga persalinan.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka kematian ibu dan bayi sangat bergantung pada peran aktif bidan di lapangan.
"Tugas utama bidan adalah memastikan ibu dan bayi tetap selamat. Karena itu kami juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh bidan, khususnya di Kota Makassar, atas dedikasi luar biasa yang telah diberikan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua IBI Sulawesi Selatan, Mardiana Ahmad, mengingatkan bahwa tantangan kesehatan ibu dan anak masih sangat besar.
Ia menyebut angka kematian ibu dan bayi, stunting, masalah gizi, hingga komplikasi kehamilan seperti preeklamsia dan diabetes gestasional masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Menurut Mardiana, kondisi tersebut menuntut kehadiran bidan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin perubahan.
"Bidan harus naik kelas, bukan hanya sebagai pemberi layanan, tetapi menjadi pemimpin perubahan yang menggunakan praktik berbasis bukti dalam setiap keputusan klinis," tegasnya.
Ia juga mendorong para bidan berani menyuarakan kepentingan perempuan dan anak dalam setiap proses pengambilan kebijakan.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi dinilai menjadi kunci memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.
Mardiana menegaskan fondasi menuju Indonesia Emas 2045 dibangun dari kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dimulai sejak masa kehamilan.
"Generasi Emas 2045 dibangun hari ini di ruang antenatal, ruang bersalin, kelas ibu hamil, hingga di tengah masyarakat. Di situlah bidan hadir setiap hari tanpa henti," katanya.
Ia menambahkan organisasi profesi harus menjadi rumah besar yang mampu memperkuat kepemimpinan bidan melalui pendidikan berkelanjutan, pelatihan, dan transformasi digital.
Pada usia ke-75, menurutnya, IBI harus melahirkan komitmen baru bagi seluruh anggotanya.
"Bidan tidak boleh lagi hanya menjadi pelaksana. Bidan harus menjadi pengarah, tidak cukup hanya hadir tetapi juga harus bersuara dan memimpin," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, membuka peluang kerja sama di bidang kebidanan antara Australia dengan Sulawesi Selatan.
Ia memperkenalkan program beasiswa Australian Awards yang memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan, termasuk bidan, untuk melanjutkan studi di Australia.
Program tersebut mencakup pendidikan magister, doktor, hingga kursus singkat di berbagai universitas di Australia.
Todd menjelaskan penerima beasiswa memperoleh fasilitas lengkap, mulai dari biaya pendidikan, tiket pesawat, visa, pelatihan bahasa Inggris, tunjangan hidup, hingga dukungan selama masa studi.
"Kami ingin semakin banyak pelamar dari Indonesia Timur, termasuk Makassar dan Sulawesi Selatan, memanfaatkan kesempatan ini agar setelah kembali mereka bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat," katanya.
Ia juga menyebut pemerintah Australia memberikan dukungan khusus bagi perempuan dari kelompok rentan agar memiliki kesempatan lebih besar mengakses pendidikan tinggi.
Melalui seminar tersebut, IBI berharap lahir bidan-bidan yang semakin adaptif, berdaya saing global, serta mampu menjadi motor penggerak peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar maupun Sulawesi Selatan. (*).