Saksi Bisu Era VOC, Ini Rekam Jejak Sejarah Pasar Bogor yang Sudah Berdiri Sejak Tahun 1770 Silam
Tsaniyah Faidah July 03, 2026 08:05 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM – Sebuah babak baru sedang ditulis di jantung Kota Bogor.

Setelah berdiri melintasi berbagai zaman dan generasi, bangunan fisik Pasar Bogor kini tinggal kenangan.

Pusat perdagangan tertua di Kota Hujan tersebut resmi dibongkar untuk dialihfungsikan menjadi pusat ekonomi baru.

Langkah besar ini menandai akhir dari perjalanan panjang sebuah pasar yang telah menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya Bogor.

Akar sejarah Pasar Bogor bermula pada tahun 1745, ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem van Imhoff membeli lahan subur bernama Land Bloeboer di hulu Sungai Ciliwung.

Lahan tersebut dibangun menjadi sebuah vila pribadi, yang di kemudian hari menjadi Istana Bogor.

Sejak era Abraham van Riebeeck (1709–1713), komoditas seperti lada dan kopi sudah mulai ditanam di wilayah ini, memicu pembangunan gudang-gudang penyimpanan hasil bumi.

Dari aktivitas ekonomi di sekitar gudang komoditas itulah, sebuah pasar informal lahir sekitar tahun 1770 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra.

Awalnya, kawasan yang disebut Buitenzorg ini dirancang eksklusif sebagai tempat peristirahatan pejabat tinggi Eropa, di mana masyarakat non-Eropa dilarang menetap.

Namun, demi menggenjot aktivitas ekonomi, Van der Parra membuka penyewaan tanah milik VOC.

Kebijakan ini mengizinkan sebuah pasar pekan berdiri di Handelstraat (sekarang Jalan Suryakencana), tepat di seberang Kebun Raya Bogor dan bersebelahan dengan Vihara Dhanagun (Klenteng Hok Tek Bio).

Pada masa awal, pasar ini hanya beroperasi seminggu sekali, sebelum akhirnya ditambah menjadi dua kali sepekan, yakni setiap Senin dan Jumat.

SEJARAH PASAR BOGOR - Berdiri sejak era VOC tahun 1770, Pasar Bogor berkembang pesat dari pasar informal menjadi pusat ekonomi regional berkat pembangunan Jalan Raya Pos dan jalur kereta api.
SEJARAH PASAR BOGOR - Berdiri sejak era VOC tahun 1770, Pasar Bogor berkembang pesat dari pasar informal menjadi pusat ekonomi regional berkat pembangunan Jalan Raya Pos dan jalur kereta api. (Ist)

Pengungsi Batavia, Jalur Kereta, dan Lahirnya Pecinan Suryakencana

Perkembangan Pasar Bogor tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial politik di Batavia.

Pasca-tragedi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, gelombang pengungsi berdatangan dan menetap di Bogor.

Kehadiran mereka menghidupkan urat nadi perdagangan baru di sekitar pasar, membentuk kawasan Pecinan yang khas dengan deretan ruko berdempetan.

Arsitektur ruko di kawasan ini memiliki ciri khas chimcay, sebuah area terbuka di bagian tengah yang berfungsi sebagai sirkulasi udara, ruang aktivitas harian, sekaligus tempat menjalankan tradisi leluhur.

Titik balik modernisasi pasar terjadi ketika infrastruktur transportasi mulai dibangun.

Kehadiran Groote Postweg (Jalan Raya Pos) oleh Herman Willem Daendels pada tahun 1808 memutus keterpencilan Buitenzorg, membuat hasil bumi dari pedalaman mengalir lebih cepat ke Batavia.

Kepadatan pasar semakin meningkat menyusul rampungnya jalur kereta api Batavia–Buitenzorg pada tahun 1873, yang kemudian diresmikan secara penuh pada 1882.

Transportasi massal ini memangkas waktu tempuh pengiriman komoditas utama seperti kopi, lada, gula, beras, kentang, minyak sayur, dan kina menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca juga: Kisah di Balik Pembangunan Jembatan Paledang Bogor: 4 Kali Ditolak, Kini Dibangun Demi Nyawa Warga

Sejak saat itu, Pasar Bogor naik kelas menjadi pasar lokal dan regional yang beroperasi setiap hari.

Pedagang dari wilayah pelosok seperti Ciampea, Cibinong, hingga dataran tinggi Puncak berbondong-bondong memadati pusat pasar.

Melintasi Rentetan Bencana dan Memori Lintas Generasi

Perjalanan Pasar Bogor tidak selalu mulus. Catatan sejarah menunjukkan kawasan ini berulang kali dihantam bencana besar.

Pada 29 September 1827, kebakaran hebat menghanguskan 90 rumah warga di kawasan Pecinan dekat kelenteng.

Tepat sebulan kemudian, pada 29 Oktober 1827, kebakaran yang lebih besar kembali melanda, meluluhlantakkan 154 rumah dan menyebabkan 700 orang kehilangan tempat tinggal.

Tantangan alam belum selesai. Pada 10 Oktober 1834, gempa tektonik besar mengguncang Bogor, merusak Istana Bogor serta infrastruktur kota.

Meski demikian, aktivitas perdagangan di Pasar Bogor selalu berhasil bangkit.

Untuk menjaga stabilitas, pemerintah kolonial melakukan ratifikasi resmi terhadap Pasar Buitenzorg dan Pasar Parung pada tahun 1829.

SEJARAH PASAR BOGOR - Berdiri sejak era VOC tahun 1770, Pasar Bogor berkembang pesat dari pasar informal menjadi pusat ekonomi regional berkat pembangunan Jalan Raya Pos dan jalur kereta api.
SEJARAH PASAR BOGOR - Berdiri sejak era VOC tahun 1770, Pasar Bogor berkembang pesat dari pasar informal menjadi pusat ekonomi regional berkat pembangunan Jalan Raya Pos dan jalur kereta api. (Ist)

Memasuki abad ke-20, Pasar Bogor bertransformasi menjadi pusat pergerakan transportasi publik kota.

Pada era kolonial hingga awal kemerdekaan, dokar menjadi andalan angkutan barang.

Memasuki periode 1950 hingga 1980-an, giliran bemo roda tiga yang menjadi ikon mobilitas masyarakat, disusul kehadiran bus berukuran medium seperti Robur dan Tan Lux yang mengantarkan warga pinggiran menuju pasar.

Kawasan ini mencapai puncak kejayaannya pada dekade 1970-an hingga 1990-an di era Orde Baru.

Riuh rendah klakson bemo, lorong-lorong pasar yang padat, hingga genangan air saat hujan mengguyur Kota Bogor menjadi pemandangan sehari-hari yang karib dalam ingatan warga.

Pada masa itu, pedagang Tionghoa mendominasi lini bisnis bahan pokok di dalam pasar, sementara area luar pasar, khususnya di sekitar Bioskop Bogor Theatre (BT), menjadi titik kumpul favorit anak muda setempat.

Pembongkaran di Tahun 2025

Setelah ratusan tahun beroperasi, silsilah panjang kegiatan dagang di bangunan fisik tersebut akhirnya selesai.

Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Bogor memutuskan untuk membongkar total bangunan lama Pasar Bogor beserta kompleks Plaza Bogor yang sebelumnya dibangun pada medio 1988–1989.

Operasional pasar resmi ditutup sepenuhnya pada 6 Juni 2025.

KONDISI PASAR BOGOR: Penampakan pembongkaran Pasar Bogor, Minggu (15/3/2026).
KONDISI PASAR BOGOR: Penampakan pembongkaran Pasar Bogor, Minggu (15/3/2026). (TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat)

Proses sterilisasi dilanjutkan dengan pemutusan instalasi listrik dan air bersih secara bertahap pada bulan September hingga Oktober 2025.

Ratusan pedagang yang terdampak kemudian direlokasi dan dipindahkan sementara ke Pasar Jambu Dua dan Pasar Sukasari.

Lahan bekas runtuhan bangunan lama tersebut kini disiapkan Pemkot Bogor untuk dialihfungsikan menjadi fasilitas kantong parkir kendaraan umum yang berskala besar.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menjelaskan bahwa penyediaan fasilitas lahan parkir di pusat kota saat ini menjadi salah satu kebutuhan paling krusial bagi jajaran pemerintah daerah untuk mengurai titik-titik kemacetan.

Lokasi eks Pasar Bogor dinilai sangat strategis karena berada di simpul pertemuan kawasan wisata dan cagar budaya.

"Kebutuhan pemerintah tentu salah satu yang paling utama adalah lahan parkir. Maka Pasar Bogor, selain konsep tambahan yang lainnya, yang paling utama adalah lahan parkir bagi pengunjung Kebun Raya, kendaraan yang masuk ke Suryakencana, termasuk wisata religi di Empang. Target kita parkir semua di situ," jelas Jenal Mutaqin saat memberikan keterangan.

Pembangunan kantong parkir ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah kepadatan lalu lintas di area pintu masuk Kebun Raya Bogor yang kerap mengalami stagnasi, terutama sejak diberlakukannya sistem satu arah dan penyempitan jalur di jembatan Otista.

Mengenai fasilitas penunjang lain di luar area parkir, Jenal menyebut hal tersebut akan disesuaikan dengan nilai investasi dari pihak ketiga selaku kontraktor pembangun gedung.

Pemkot Bogor memberikan keleluasaan bagi investor untuk menyusun konsep bisnis yang menarik, dengan syarat utama fungsi lahan parkir massal bagi wisatawan tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diganggu gugat.

Fasilitas ini nantinya juga disiapkan untuk menampung kendaraan wisatawan yang hendak menuju Alun-alun Empang, kawasan wisata religi yang saat ini sedang dalam tahap awal pembangunan oleh Pemkot Bogor.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.