TRIBUNNEWS.COM, KOTA BHARU – Kelantan selama ini lebih dikenal sebagai gerbang menuju destinasi bahari Pulau Perhentian.
Namun, negara bagian di Pantai Timur Malaysia tersebut juga menyimpan beragam destinasi wisata yang memadukan keindahan alam, budaya Melayu, wisata religi, sejarah, hingga wisata kuliner.
Kini, seluruh destinasi tersebut semakin mudah dijangkau wisatawan Indonesia setelah AirAsia Malaysia membuka penerbangan langsung Jakarta-Kota Bharu yang beroperasi empat kali dalam sepekan sejak 16 Juni 2026.
Penerbangan ini menjadi akses baru yang mempermudah wisatawan menjangkau Kelantan tanpa perlu transit di Kuala Lumpur.
Selama mengikuti Fam Trip Jakarta–Kota Bharu, Tribunnews berkesempatan menjelajahi sejumlah destinasi unggulan yang menjadi daya tarik wisata Kelantan.
Susur Sungai Kelantan hingga Floating Market
Perjalanan diawali dengan menyusuri Sungai Kelantan menggunakan perahu.
Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat itu menawarkan panorama kampung tradisional, hutan bakau, hingga aktivitas masyarakat yang masih menggantungkan hidup dari hasil sungai.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pulau Suri, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Kelantan yang menjadi salah satu destinasi wisata berbasis komunitas.
Di pulau ini terdapat Pulau Suri Floating Market, pasar terapung dengan nuansa tradisional yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Deretan perahu dan stan di tepian sungai menjual aneka makanan khas Kelantan, jajanan pasar, minuman segar, buah-buahan, hingga berbagai kerajinan tangan hasil karya masyarakat setempat.
Suasananya masih relatif tenang sehingga wisatawan dapat menikmati kuliner sambil melihat aktivitas masyarakat di sepanjang sungai.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pulau Sri Tanjung Floating Market.
Berbeda dengan Pulau Suri, floating market ini memiliki kawasan yang lebih luas dengan jumlah pedagang yang jauh lebih banyak sehingga suasananya terasa lebih ramai.
Puluhan stan dan perahu menawarkan aneka kuliner khas Kelantan, makanan laut segar, buah-buahan, minuman tradisional, hingga berbagai produk UMKM lokal.
Laman Warisan Kampung Laut dan Jejak Sejarah Islam
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Laman Warisan Kampung Laut, kawasan wisata budaya yang memperkenalkan sejarah dan tradisi masyarakat Melayu Kelantan.
Di kawasan tersebut berdiri Masjid Kampung Laut, salah satu masjid tertua di Malaysia yang diperkirakan telah berdiri sejak lebih dari 300 tahun lalu.
Masjid berbahan kayu dengan arsitektur Melayu klasik itu menjadi simbol penyebaran Islam di Pantai Timur Malaysia.
Bangunannya didominasi material kayu tanpa penggunaan paku modern dan masih mempertahankan bentuk aslinya meski telah beberapa kali dipindahkan untuk proses konservasi.
Tak hanya menikmati bangunan bersejarah, Tribunnews juga berkesempatan menyaksikan pertunjukan seni tradisional Kelantan yang memadukan tarian Melayu, atraksi silat, serta alunan musik tradisional yang dimainkan secara langsung.
Tak jauh dari lokasi pertunjukan, wisatawan juga dapat melihat demonstrasi pembuatan serunding, kuliner khas Kelantan berbahan dasar daging sapi maupun ayam yang dimasak bersama rempah-rempah hingga menghasilkan tekstur lembut dan cita rasa gurih.
Serunding menjadi salah satu oleh-oleh khas Kelantan yang banyak diburu wisatawan. Tribunnews pun membawa pulang satu kemasan serunding seharga 25 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp97 ribu.
Menjelajahi Wisata Religi di Rantau Panjang
Perjalanan berikutnya membawa rombongan menuju Rantau Panjang, kawasan di perbatasan Malaysia dan Thailand yang dikenal sebagai salah satu pusat wisata religi sekaligus budaya di Kelantan.
Meski mayoritas penduduk Kelantan beragama Islam, kawasan ini menjadi simbol keberagaman dengan berdirinya sejumlah kuil Buddha yang berdampingan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Destinasi pertama adalah Wat Photivihan, kuil yang terkenal dengan Sleeping Buddha sepanjang sekitar 40 meter dan menjadi salah satu patung Buddha tidur terbesar di Asia Tenggara.
Patung berwarna oranye tersebut membentang hampir memenuhi bangunan utama kuil, sehingga langsung menjadi pusat perhatian setiap pengunjung yang datang. Suasana di dalam kuil terasa tenang dengan berbagai ornamen khas Buddhis yang menghiasi sekeliling patung.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Wat Machimmaram, rumah bagi Sitting Buddha atau Patung Buddha Duduk raksasa.
Patung berwarna coklat keemasan itu menjulang tinggi di tengah kompleks kuil dan menjadi salah satu ikon wisata religi di Kelantan.
Dari area pelataran, pengunjung dapat menikmati kemegahan patung sekaligus melihat arsitektur bangunan bergaya Thailand yang mengelilinginya.
Destinasi terakhir adalah Wat Phothikyan Phuttakhamtham, kuil yang terkenal dengan Standing Buddha setinggi sekitar 30 meter.
Patung Buddha berdiri berwarna putih tersebut menjadi landmark ikonik Rantau Panjang dan dapat terlihat dari kejauhan.
Kompleks kuil yang luas dengan taman, bangunan ibadah, serta ornamen khas Buddhis menjadikan tempat ini tidak hanya sebagai lokasi peribadatan, tetapi juga destinasi wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mengenal keberagaman budaya di Kelantan.
Batik Kelantan di Ayu Fashion
Sebelum meninggalkan kawasan tersebut, Tribunnews juga berkesempatan mengunjungi Ayu Fashion, salah satu sentra batik khas Kelantan.
Di tempat ini, wisatawan tidak hanya dapat berbelanja batik, tetapi juga menyaksikan demonstrasi pembuatan batik secara langsung.
Mulai dari proses menggambar motif, mencanting menggunakan malam, hingga pewarnaan kain dilakukan secara manual oleh para perajin. Motif yang dihasilkan didominasi corak flora khas Melayu dengan warna-warna cerah yang menjadi ciri batik Kelantan.
Setelah melihat proses pembuatannya, pengunjung dapat langsung berbelanja berbagai produk batik yang dijual di galeri Ayu Fashion, mulai dari kain, kemeja pria, dress, tunik, hingga berbagai aksesori berbahan batik.
Harganya bervariasi, mulai sekitar 80 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp312 ribu hingga 400 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp1,56 juta, tergantung jenis produk dan tingkat kerumitan motif.
Berburu Kuliner Khas di Pasar Siti Khadijah
Tak lengkap mengunjungi Kota Bharu tanpa mampir ke Pasar Siti Khadijah, pasar tradisional yang menjadi ikon wisata sekaligus pusat kuliner dan oleh-oleh khas Kelantan.
Pasar bertingkat tersebut hampir seluruh pedagangnya merupakan perempuan dan menjadi salah satu simbol aktivitas ekonomi masyarakat Kelantan.
Di lantai dasar, wisatawan dapat menemukan beragam jajanan pasar tradisional, aneka kue khas Melayu, hingga kuliner legendaris Kelantan seperti Nasi Lemak, Nasi Dagang, Nasi Kerabu, aneka Laksa, serta berbagai makanan tradisional lainnya.
Aroma rempah-rempah khas Melayu berpadu dengan ramainya aktivitas jual beli menciptakan pengalaman kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain.
Selain berburu kuliner, Tribunnews juga membeli sejumlah oleh-oleh khas Kelantan, termasuk 30 bungkus keropok seharga 36 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp140 ribu, celana batik seharga 16 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp62 ribu, serta kemeja batik seharga 25 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp97 ribu.
Menyaksikan Kemegahan Kesultanan Kelantan
Tak jauh dari Pasar Siti Khadijah berdiri Istana Jahar, bekas kediaman keluarga Kesultanan Kelantan yang kini difungsikan sebagai museum budaya.
Bangunan yang didominasi material kayu dengan ukiran khas Melayu tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 dan menjadi salah satu ikon sejarah di Kota Bharu.
Di dalam museum, wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Melayu Kelantan melalui beragam koleksi yang dipamerkan.
Mulai dari replika prosesi adat istiadat, busana kebesaran keluarga kerajaan, perhiasan, senjata tradisional, hingga perlengkapan yang digunakan dalam upacara penobatan Sultan.
Setiap ruangan menghadirkan gambaran mengenai tradisi, seni, dan kehidupan Kesultanan Kelantan yang masih dijaga hingga kini.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Istana Balai Besar, salah satu bangunan paling penting dalam sejarah Kesultanan Kelantan. Istana ini hingga kini masih digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai upacara adat dan acara resmi kerajaan.
Memasuki bangunan utama, perhatian langsung tertuju pada ruang singgasana kerajaan yang didominasi warna kuning sebagai simbol kebesaran Kesultanan Kelantan.
Ruangan tersebut dihiasi lampu kristal berukuran besar, ukiran kayu bermotif flora khas Melayu, serta ornamen tradisional yang memperlihatkan kemegahan arsitektur istana.
Dari pemandu setempat, rombongan juga mendapat penjelasan mengenai sejarah Kesultanan Kelantan, tata cara pelaksanaan upacara adat, hingga fungsi setiap ruangan di dalam kompleks istana.
Usai berkeliling, rombongan mendapat jamuan minum teh lengkap dengan aneka kue tradisional khas Kelantan.
Sajian tersebut menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu sekaligus memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk mencicipi kuliner khas masyarakat Melayu.
Perjalanan wisata sejarah kemudian ditutup di Rumah 12 Tiang, rumah tradisional Melayu yang telah berusia lebih dari satu abad.
Rumah kayu yang dipugar dan dipindahkan ke kawasan Laman Warisan Kampung Laut itu mempertahankan bentuk arsitektur aslinya, mulai dari konstruksi panggung, ukiran kayu, hingga tata ruang khas rumah Melayu tempo dulu.
Kini, Rumah 12 Tiang menjadi salah satu destinasi edukasi yang memperkenalkan kehidupan masyarakat Kelantan pada masa lampau sekaligus melengkapi pengalaman menjelajahi warisan budaya dan sejarah negeri tersebut.
Kelantan Kini Semakin Mudah Dijangkau
Beragam destinasi tersebut menunjukkan bahwa Kelantan menawarkan pengalaman wisata yang lengkap: floating market, wisata religi, kuliner, hingga sejarah Kesultanan Kelantan.
Dengan hadirnya penerbangan langsung Jakarta-Kota Bharu oleh AirAsia sebanyak empat kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu, seluruh pengalaman tersebut kini dapat dinikmati wisatawan Indonesia tanpa harus transit di Kuala Lumpur.
Untuk rute Jakarta-Kota Bharu, AirAsia mengoperasikan penerbangan AK2354 yang berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 12.10 WIB dan tiba di Bandara Sultan Ismail Petra pukul 15.50 waktu Malaysia.
Sementara itu, untuk rute Kota Bharu–Jakarta, penerbangan AK2353 berangkat pukul 10.00 waktu Malaysia dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 11.40 WIB.
Kelantan pun menjadi alternatif destinasi wisata di Malaysia yang menawarkan perpaduan wisata alam, budaya, sejarah, religi, kuliner, dan kehidupan masyarakat lokal dalam satu perjalanan.(*)