TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Koreksi harga emas dalam beberapa waktu terakhir menjadi sentimen positif bagi penjualan perhiasan di Kota Semarang.
Penurunan harga itu dimanfaatkan masyarakat untuk menambah koleksi emas, baik sebagai investasi jangka panjang maupun memenuhi kebutuhan perhiasan.
Hal itu seperti dilakukan Dini Andari (38), warga Semarang Timur, yang datang ke gerai The Palace Jeweler di Mal Ciputra Semarang, , Jumat (3/7), untuk mencari anting bagi anaknya, dan perhiasan lain.
Dini mengatakan, kebiasaan membeli emas sudah dilakukannya sejak pandemi covid-19. Baginya, emas bukan sekadar perhiasan, tetapi juga menjadi cara menyimpan uang agar tidak habis untuk kebutuhan konsumtif.
"Awalnya memang mau beli anting untuk anak saya, tapi sekalian beli emas juga buat nabung, daripada uangnya habis buat jajan," katanya.
Perempuan itu mengaku tidak khawatir dengan penurunan harga emas saat ini. Sebaliknya, ia menganggap kondisi itu justru menjadi kesempatan menambah koleksi.
"Kalau buat jangka panjang enggak masalah. Saya beli di banyak harga. Saat turun saya beli lagi, jadi rata-rata harga belinya ikut turun," bebernya.
Dini bahkan telah merasakan keuntungan dari investasi emas yang dibelinya sejak beberapa tahun lalu.
"Waktu 2021 saya beli masih sekitar Rp 900 ribuan per gram. Sekarang waktu dijual sudah di atas Rp 1 juta. Jadi menurut saya emas tetap antiinflasi," ucapnya.
Selain membeli langsung, ia juga memanfaatkan program cicilan emas agar dapat mengunci harga pembelian.
"Saya juga ikut cicil emas. Enaknya harga sudah dikunci dari awal sampai lunas. Jadi nanti bisa ditukar jadi perhiasan tanpa khawatir harga naik," jelasnya.
Dongkrak penjualan
Sementara, General Manager The Palace Jeweler, Jelita Setifa menyatakan, penurunan harga emas justru menjadi momentum mendongkrak penjualan di tengah meningkatnya minat masyarakat.
"Kalau harga emas turun, biasanya masyarakat justru berbondong-bondong membeli. Momentum seperti ini selalu dimanfaatkan konsumen untuk mencari emas, baik 18 karat, 22 karat, maupun 24 karat," tuturnya.
Menurut dia, lonjakan penjualan saat harga emas melemah bisa mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kondisi normal. Besarnya peningkatan bergantung pada seberapa dalam penurunan harga emas di pasaran.
"Kalau penurunannya cukup besar seperti sekarang, peningkatannya bisa lebih dari dua kali lipat dari biasanya. Masyarakat memang cenderung menunggu momen harga turun untuk berbelanja emas," tukasnya.
Jelita menuturkan, musim pernikahan justru tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penjualan.
Ia menyebut, pasangan yang hendak menikah tetap membeli cincin atau perhiasan emas sebagai bagian dari mahar maupun seserahan, terlepas dari kondisi harga emas yang sedang naik ataupun turun.
"Kalau untuk kebutuhan pernikahan, orang tetap membeli. Karena cincin kawin, mahar, atau seserahan sudah menjadi kebutuhan, jadi tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi harga emas," terangnya.
Adapun, The Palace Jeweler terus memperluas jaringan bisnisnya di kota ini. Gerai di Mal Ciputra Semarang itu merupakan menjadi gerai ke-88 The Palace Jeweler sekaligus toko ke-154 milik PT Central Mega Kencana di Indonesia.
Pembukaan gerai tersebut menjadi bagian dari strategi ekspansi perusahaan di Jateng yang dinilai masih memiliki potensi pasar perhiasan cukup besar. (Rezanda Akbar D)