— HUT 67 Tahun Kabupaten Maros
Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI
TRIBUN-TIMUR.COM - “ANDAI Maros itu seperti sebatang tubuh, maka ijinkan saya untuk mendekapnya lagi dan lagi. Mendekap artinya berkarya untuknya, mendekap artinya memberikan kehangatan dengan pengabdian yang bermakna”.
Pernyataan Chaidir Syam, dalam bukunya berjudul “Mendekap Maros”, penulis kembali kutip sebagai pengingat bahwa tepat pada Sabtu Tgl 4 Juli 2026 adalah Hari Jadi Kabupaten Maros yang ke 67 tahun dan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Maros, Chaidir Syam dan Muetazim Mansyur, genap berusia satu tahun lebih pasca dilantik pada 20 Februari 2025 di Jakarta.
Penulis kembali teringat tentang kepemimpinan Chaidir Syam sebagai Bupati Maros tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.
Sebut saja pasca dilantik menjadi Bupati Maros di periode pertama awal 2021, tepatnya 26 Februari 2021, Chaidir Syam harus berhadapan dengan ujian berat yaitu Covid-19 ujungnya membuat porak-poranda perekonomian daerah.
Ujian ini kembali dialami Chaidir Syam pada periode keduanya yaitu berhadapan dengan efisiensi anggaran besar-besaran yang membuat pergerakan mesin birokrasi mengalami pemangkasan anggaran dari Pemerintah Pusat.
Dari berbagai tantangan dan ujian yang dialami Chaidir Syam, tidak membuat dirinya ciut, apalagi berhenti berinovasi. Kendatipun keterbatasan anggaran, namun stamina mesin birokrasi terus dijaga ritmenya dengan baik.
Dari berbagai ujian inilah yang kemudian membuat Chaidir Syam sebagai pemimpin daerah memiliki kekuatan Strong Brand istilahnya Pemerintah Kabupaten Maros terus bergerak memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
Didampingi oleh Wakil Bupati bertipe pekerja keras dan memahami betul tentang fisik jalanan dan bangunan, membuat Chaidir Syam semakin yakin, bisa berbuat banyak untuk masyarakat Maros.
Baginya waktu satu tahun lebih bersama Muetazim Mansyur yang telah lewat ini masih terbilang singkat untuk menyempurnakan bentangan sajadah pengabdian.
Masih ada daftar impian dan cita-cita masyarakat Maros yang belum terwujud. Kerja sama dan kerja kompak antara Bupati, Wakil Bupati, dan seluruh Forkopimda yang ada, menunjukkan buah hasilnya mulai tampak.
Satu persatu prestasi mulai diraih oleh Kabupaten Maros. Bahkan beberapa diantaranya bagi Chaidir Syam adalah pencapaian yang mencengangkan.
Di bagian ini kita mencoba meneropong bagaimana kualitas pembangunan bidang literasi di Maros.
Tolok ukurnya ada dua yaitu Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPML) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM).
Kalau dibuatkan grafik IPML dan TGM meningkat bahkan menukik tajam.
Contohnya untuk Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat pada 2022, IPLM Kabupaten Maros berada pada kategori sedang dengan nilai 71,80 jika dibandingkan IPLM pada 2021 berada pada posisi 29, 90.
Tingkat Kegemaran Membaca pada 2022, Maros ada di angka 61, 78 kategori tinggi.
Sementara TGM Kabupaten Maros di 2021 berada di angka 53, 79 Kategori Sedang.
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Maros pada 2024 berada diangka 91,04 dan Tingkat Kegemaran Membaca diangka 90.94 persen.
Berikutnya, sehat modal utama. Di masa kepemimpinan Chaidir Syam dan Mansyur ini, kesehatan masyarakat harus bisa terjamin.
Masyarakat tidak mungkin bahagia, tidak mungkin sejahtera kalau tidak sehat.
Kalau melihat pada RPJMD Kabupaten Maros, yang menjadi sasaran utama adalah menciptakan kualitas sumber daya manusia masyarakat yang berdaya saing.
Para ahli sudah mengkaji bagaimana mengukur angka harapan hidup.
Selanjutnya menggunakannya sebagai panduan dalam menentukan terget-target pembangunan.
Angka harapan hidup sudah mulai berlaku sejak lahir. Istilahnya life expectancy at birth.
Artinya angka harapan hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada tahun tertentu.
Seperti banyak pemerintahan daerah yang lain.
Kabupaten Maros menggunakan angka harapan hidup sebagai sarana untuk mengukur kinerja pemerintah.
Kalau kinerjanya bagus, tentu angka harapan hidup akan meningkat.
Artinya umur masyarakat lebih panjang. Dan Chaidir Syam berkomitmen untuk meningkatkannya di setiap tahun.
Dari berbagai catatan prestasi Pemerintah Kabupaten Maros pada 2025-2026 memeroleh Opini WTP berturut-turut, Pembinaan Haji terbaik 2026, Penurunan Angka Stunting, sertifkat Adipura, menunjukkan bahwa ada tren peningkatan prestasi yang direngkuh Bupati Chaidir Syam dan Wakil Bupati Muetazim Mansyur.
Dari prestasi tersebut disimpulkan, kalau program pemerintah khususnya di bidang kesehatan, kesejahteraan rakyat dan pembangunan agama sudah tepat.
Tinggal perlu ditingkatkan lagi. Memberikan inovasi, tentu menjadi keniscayaan. Jangan pernah berharap hasil yang lebih, kalau usahanya masih sama.
Kata Einstein, ciri-ciri orang gila adalah mengharapkan hasil yang lebih dengan usaha yang sama. Penulis menegaskan bahwa program Pemerintah Kabupaten Maros menunjukkan keberhasilan, ditandai dengan angka harapan hidup yang meningkat, bukan bermaksud jumawa.
Apalagi untuk menepuk dada lalu bilang, “Siapa dulu dong bupatinya.” Sama sekali bukan untuk itu.
Klaim keberhasilan ini adalah cara untuk menumbuhkan optimisme semua pihak, bahwa Kabupaten Maros sedang melangkah menuju hari depan yang lebih baik.
Pelan namun pasti, amanah yang tertuang dalam RPJMD berangsur mulai terpenuhi. Kalimat itu tak sekadar tulisan, tetapi sebuah komitmen. Tanggung jawab bersama, terutama pemerintah.
Indikator pemenuhan janji itu adalah meningkatnya ketersediaan kebutuhan barang dan jasa kebutuhan konsumsi masyarakat dan terpenuhinya standar pelayanan minimum masyarakat, utamanya kesehatan dan pendidikan.
Chaidir Syam menjadikan data statistik sebagai salah satu masukan dalam mengambil kebijakan. Namun tetap mendengarkan langsung keluh kesah masyarakat.
Terutama masyarakat kecil. Dan seorang pemimpin yang bertanggung jawab harus sering-sering mendatangi tempat di mana rakyatnya hidup.
Visi Kabupaten Maros adalah menjadi Maros Sejahtera, Maju dab Berkelanjutan. Visi ini yang selalu saya ulang-ulang dalam berbagai kesempatan.
Untuk menjadikan Maros sejahtera, sangat ditentukan dengan kualitas sumber daya manusianya.
Kalau manusianya unggul, maka akan cenderung menerapkan nilai-nilai religiusitas.
Masyarakat yang religius tidak pernah muncul dari pribadi-pribadi yang kacau.
Benarlah kata Mark Levy dalam bukunya “Menjadi Genius dengan Menulis” atau judul aslinya Accidental Genius, menegaskan kalau pembangunan saat ini tidak lagi semata membangun fisik jalanan, gedung dan perkantoran mewah, melainkan pembangunan sumber daya manusia yang kekal abadi.
Karena itu, apa yang diletakkan Chaidir Syam dengan fokus membangun sumber daya manusia masyarakat Maros sesungguhnya membangun kekuatan manusia yang akan bertahan lama.
Jadi benarlah jika pada sisi lain, Muetazim Mansyur yang ahli perencana bangunan fokus memerhatikan pembangunan sarana fisik di Maros, sementara Chaidir Syam memusatkan diri pada penataan sumber daya manusia yang kuat.
Jadi, tidak heran jika di tengah efesiensi anggaran, Chaidir Syam dan Muetazim Mansyur tetap menjaga ritme dan semangat birokrasi Pemerintahan di Kabupaten Maros. Selamat HUT 67 Tahun Kabupaten Maros, jayalah Marosku...(*)