Kala Vosinha Tanjung Verde Mengingatkan Dunia pada Lev Yashin yang Pernah Dipecundangi Ramang
AS Kambie July 04, 2026 10:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - "Scripta manent, verba volant." Tulisan menetap, ucapan terbang. Pepatah Latin itu kian teruji di Piala Dunia 2026.

Nama Lev Yashin disebut-sebut komentator pertandingan Argentina vs Cape Verde, Sabtu pagi, 4 Juli 2026. “Hanya Lev Yashin yang pernah bisa melakukan seperti yang dilakukan Vosinha.”

Jika Lionel Messi disebut membombardir Vosinha dalam pertandingan ini, maka pada 70 tahun silam, Ramang, striker Timnas Indonesia dari PSM Makassar. membombardir gawang Lev Yashin.

Sayang, tak sekalipun nama Ramang disebut komentator TVRI itu dalam pertandingan ini. Padahal Ramang tercatat dalam memori FIFA, sebagai pesepakbola yang membuat Lev Yashin kerepotan. Itulah Scripta manent, verba volant.

Di lapangan-lapangan Amerika Utara, banyak bendera berkibar dari negara-negara yang dahulu bernama satu: Uni Soviet atau berada dalam orbit politiknya. 

Ada Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Uzbekistan, Republik Ceko, dan sejumlah negara lain dari kawasan yang pernah berada di bawah bayang-bayang Tirai Besi. 

Uni Soviet memang telah runtuh lebih dari tiga dekade lalu, tetapi pecahan-pecahannya justru semakin banyak menghuni panggung sepak bola dunia. Indonesia masih setia jadi penonton.

Mengapa habitus sepak bola Uni Soviet berhasil bereproduksi ke banyak negara, sementara habitus Ramang belum berhasil direproduksi oleh Indonesia?

Inilah pertanyaan sosiologisnya. Jawaban sosiologisnya, karena Ramang masih selalu dianggap individu. Kesalahan kita selama ini adalah menganggap Ramang sebagai manusia luar biasa. Seperti sebagian orang memandang Lionel Messi. 

Padahal dalam perspektif Pierre Bourdieu, Ramang adalah produk habitus. Ia lahir dari kampung Sumpang Minangae, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan,  24 April 1924. Menangis saat lahir. Disunat. Tertanya. Bermain di tanah. Bertanding tanpa akademi modern.

Tapi Ramang terpenjara dalam Scripta manent, verba volant.

Scripta Vosinha

Sabtu pagi, 4 Juli 2026. Dalam siaran pertandingan Argentina melawan Cape Verde, nama Lev Yashin kembali bergema dari mulut komentator.

Nama penjaga gawang legendaris itu kembali dihidupkan untuk menjelaskan kehebatan seorang kiper masa kini. Lionel Messi terus membombardir gawang Cape Verde, sementara Vosinha berkali-kali melakukan penyelamatan gemilang. Ingatan dunia pun melompat kepada Yashin.

Pada Olimpiade Melbourne 1956, bukan Messi yang membuat Lev Yashin bekerja keras. Melainkan Ramang.

Penyerang bertubuh mungil dari Makassar itu berulang kali menerobos pertahanan Uni Soviet, memaksa Yashin melakukan penyelamatan yang kemudian diabadikan dalam arsip FIFA. Bagi FIFA, Ramang adalah penyerang Indonesia yang membuat kiper terbesar sepanjang masa itu berkeringat menjaga gawangnya.

Sayangnya, ketika nama Lev Yashin kembali disebut dalam siaran Piala Dunia 2026, nama Ramang tidak ikut dipanggil oleh ingatan dunia.

Mungkin memang begitulah nasib legenda dari Timur Indonesia. Mereka lebih dahulu hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya sebelum akhirnya memperoleh tempat dalam arsip dunia.

FIFA telah menuliskannya. Orang-orang Makassar telah lama menceritakannya.

Sejarah kadang memang memilih siapa yang terus diucapkan, dan siapa yang hanya sesekali diingat.

Dan kita diingatkan kembali pada pepatah Latin yang menjadi pembuka tulisan ini: Scripta manent, verba volant. 

Tulisan memang menetap. Ucapan memang terbang. Tetapi Ramang membuktikan bahwa cerita yang terus diwariskan mampu bertahan cukup lama hingga akhirnya memaksa sejarah untuk menuliskannya.

Ramang bukan hasil laboratorium. Ramang hasil kebudayaan. Dia mengasah naluri melalui permainan rakyat. Pada terbukti bahwa habitus menghasilkan kreativitas yang liar.

Artinya, yang hebat bukan hanya Ramang. Yang hebat adalah lingkungan sosial yang mampu melahirkan Ramang.

Uni Soviet tidak mewariskan pemain. Yang diwariskan Uni Soviet bukan Lev Yashin. Bukan Igor Netto. Bukan Eduard Streltsov.  Yang diwariskan Uni Soviet adalah sistem. Akademi. Metode latihan. Sekolah pelatih. Ilmu olahraga. Sports science. Kompetisi usia muda. Budaya disiplin. Cara berpikir. Scripa. 

Dengan kata lain, Uni Soviet tidak mewariskan bintang. Uni Soviet mewariskan cara memproduksi bintang.

Itulah sebabnya setelah negara itu bubar, pemain-pemain hebat tetap bermunculan. Karena pabriknya masih hidup.

Indonesia mempertontonkan sebaliknya. Indonesia justru mewariskan cerita. Kita sangat hafal siapa Ramang. Tetapi kita tidak pernah benar-benar membangun sekolah Ramang. Tidak ada metodologi Ramang. Tidak ada filosofi Ramang. Tidak ada kurikulum Ramang. Yang diwariskan hanyalah nostalgia. Verba. 

Setiap generasi kembali mendengar kisah bagaimana Ramang hampir menjebol gawang Lev Yashin. Tetapi sangat sedikit yang mempertanyakan bagaimana cara melahirkan Ramang berikutnya?

Habitus tidak lahir dari monumen. Habitus tidak diwariskan melalui patung. Tidak pula melalui nama stadion. Habitus diwariskan melalui praktik yang terus diulang. Melalui latihan. Melalui kompetisi. Melalui budaya. Melalui institusi. Melalui keluarga. Melalui sekolah sepakbola. Melalui pelatih. Melalui lapangan-lapangan kecil.

Kalau memakai rumus Pierre Bourdieu:  Praktik = Habitus × Modal + Arena

Uni Soviet berhasil mempertahankan praktik sepakbolanya karena ketiga unsur itu terus direproduksi. Habitus diwariskan. Modal terus diinvestasikan. Arena kompetisinya terus diperbaiki. Negara boleh pecah. Tetapi mesin sosialnya tetap bekerja.

Indonesia memiliki modal besar. Pecinta sepakbola luar biasa. Populasi besar. Bakat melimpah. Tetapi reproduksi habitusnya sering terputus. Liga berhenti. Pembinaan berubah mengikuti pergantian pengurus. Kurikulum berganti. Pelatih berganti filosofi. Akibatnya, setiap generasi seperti memulai lagi dari nol.

Itulah perbedaan paling mendasar antara Uni Soviet dan Indonesia. Uni Soviet mewariskan cara melahirkan pemain hebat: scripta. Indonesia lebih sering mewariskan cerita tentang pemain hebat: verba. Yang satu membangun sistem, yang lain merawat kenangan. Maka ketika Piala Dunia 2026 dipenuhi negara-negara yang mewarisi habitus sepak bola Soviet, kita kembali bertanya kepada diri sendiri: mengapa Ramang belum juga memiliki pewaris yang mampu membuat dunia kembali menoleh ke Indonesia?

Praksis Sosial vs Metode Klement

Pertandingan yang baru saja usai menunjukkan satu hal penting. Hingga babak 32 besar Piala Dunia 2026, belum ada tim yang benar-benar mampu menaklukkan Tanjung Verde dengan mudah. Argentina memang lolos. Tetapi kemenangan itu lahir setelah pertarungan yang nyaris membuat publik dunia terhenyak.

Negeri kepulauan berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa itu hampir saja mempermalukan juara dunia.

Komentator TVRI bahkan spontan berucap, “Terima kasih kepada Tanjung Verde. Kehadirannya di Piala Dunia membuat Piala Dunia semakin hidup dan menarik.”

Kalimat itu sesungguhnya lebih dari sekadar pujian. Ia adalah pengakuan bahwa sepak bola tidak selalu tunduk kepada ukuran wilayah, jumlah penduduk, atau kekuatan ekonomi.

Tanjung Verde nyaris tidak pernah masuk dalam radar favorit juara menurut Metode Joachim Klement. Bahkan Argentina sendiri bukan kandidat utama dalam proyeksi tersebut. 

Namun justru pertandingan inilah yang menunjukkan keterbatasan setiap model prediksi. Statistik mampu menghitung probabilitas kemenangan. Tetapi statistik tidak selalu mampu menghitung keberanian, disiplin, solidaritas, dan keyakinan kolektif yang lahir dari sebuah habitus.

Dalam bahasa Pierre Bourdieu, Tanjung Verde memperlihatkan bahwa praktik sepak bola tidak hanya ditentukan oleh kapasitas struktural, melainkan juga oleh habitus yang telah lama dipupuk. Sebuah negara kecil dapat mengimbangi raksasa dunia ketika praktik sosialnya berhasil mengoptimalkan modal yang terbatas di dalam arena yang sama.

Metode Klement mengajarkan kita siapa yang mungkin menang. Tanjung Verde mengajarkan kita mengapa sepakbola tetap layak ditonton. 

Sebab jika hasil pertandingan hanya ditentukan oleh probabilitas, Piala Dunia tak lebih dari sekadar simulasi komputer. 

Untungnya, sepak bola masih menyisakan ruang bagi habitus, keberanian, dan kejutan.

Di titip ini, “Terima kasih untuk Tanjung Verde” dari komentator TVRI, Bung Ropan dan Bung Nigara itu telah mewakili kita semua 

Tahun 1956, Indonesia juga bukan favorit. Namun melalui Ramang dan racikan Toni Pogacnik, Indonesia membuat Uni Soviet, yang saat itu jauh lebih difavoritkan, berjibaku sepanjang pertandingan. Sepakbola selalu menyisakan ruang bagi mereka yang tidak masuk dalam radar probabilitas.

Mengapa Indonesia belum kembali melahirkan Ramang? Karena kita gagal mewariskan Ramang.

Ramang lebih lama hidup dalam cerita daripada dalam tulisan. Kisah-kisahnya beredar dari mulut ke mulut, dari tribun ke warung kopi, dari orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi cerita saja tidak cukup untuk membangun habitus. Cerita harus berubah menjadi pengetahuan. Pengetahuan harus berubah menjadi kurikulum. Kurikulum harus berubah menjadi latihan. Latihan harus melahirkan generasi baru.

Scripta manent, verba volant. Tulisan menetap, abadi, membumi. Ucapan mengambang, mengawang.

Ramang memang hidup dalam ucapan masyarakat Sulawesi Selatan. Tetapi Indonesia terlambat menjadikannya tulisan, pengetahuan, dan sistem pembinaan. Akibatnya, yang diwariskan lebih banyak kekaguman kepada Ramang daripada cara melahirkan Ramang-Ramang baru.

Ramang tidak kekurangan legenda. Ramang kekurangan reproduksi. Indonesia mengenang Ramang sebagai pahlawan, tetapi belum sepenuhnya mempelajarinya sebagai metode. 

Selama Ramang hanya hidup dalam cerita, kita akan terus merindukannya. Ketika Ramang masuk ke dalam pengetahuan, latihan, dan habitus sepak bola nasional, barulah Indonesia memiliki peluang untuk melahirkan Ramang berikutnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.