Agungkan Bulan Suro, Dua Pusaka Presiden Soekarno Dijamas di Situs Ndalem Pojok Kediri
Rendy Nicko July 04, 2026 12:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Situs Cagar Budaya Ndalem Pojok Persada Soekarno di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Jawa Timur kembali menggelar tradisi Nyuci dan Jamasan Pusaka, Jumat (3/7/2026) malam. Tradisi tahunan ini menjadi bentuk pelestarian warisan budaya sekaligus penghormatan terhadap peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi bangsa.

Prosesi jamasan tahun ini terasa istimewa karena turut dilakukan terhadap dua pusaka peninggalan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang selama ini disimpan dan dirawat di Situs Ndalem Pojok.

Dua pusaka tersebut berupa sebilah tombak dan Keris Kiai Gadakan. Keduanya menjadi bagian dari koleksi bersejarah yang hingga kini tetap dirawat sebagai pengingat perjalanan sejarah bangsa.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok bersama Pelestari Sejarah dan Budaya Kadiri (PASAK) yang bersinergi dengan Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia.

Baca juga: Viral Copet Saat Kirab Suro di Semen Kediri, Polisi Berjibaku Amankan Pelaku dari Amukan Massa

Tradisi jamasan tahunan ini tidak hanya dimaknai sebagai proses membersihkan pusaka, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Prosesi dimulai sejak dua hari sebelumnya dengan merendam pusaka untuk menghilangkan karat dan kotoran. Selanjutnya, pada Jumat Legi dilakukan prosesi penyucian pusaka yang kemudian ditutup dengan doa bersama dan slametan pada malam harinya sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kushartono mengatakan tradisi jamasan merupakan salah satu cara menjaga keberlangsungan budaya sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya merawat sejarah.

"Melestarikan budaya luhur bangsa sangat penting karena budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa. Tradisi jamasan di Bulan Suro menjadi salah satu cara merawat nilai-nilai tersebut. Di antara pusaka yang dijamas tahun ini terdapat dua pusaka milik Presiden Soekarno yang tersimpan di Ndalem Pojok," paparnya.

Menurutnya tombak dan Keris Kiai Gadakan merupakan pusaka peninggalan Bung Karno yang diperoleh saat melakukan kunjungan ke wilayah Grobogan, Jawa Tengah. Hingga kini, kedua pusaka tersebut tetap dirawat dan disimpan di Situs Ndalem Pojok sebagai bagian dari koleksi sejarah yang dapat dipelajari masyarakat.

Tradisi jamasan juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa. Tidak sedikit pelajar maupun mahasiswa yang hadir untuk menyaksikan secara langsung prosesi tersebut.

Bagi pengelola Situs Ndalem Pojok, pelaksanaan jamasan setiap Bulan Suro tidak hanya merawat kondisi fisik pusaka, namun juga menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap perjalanan sejarah bangsa. 

Melalui tradisi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa benda-benda pusaka merupakan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai kekayaan sejarah Indonesia.

Pemimpin prosesi jamasan, Jeje mengatakan setiap Bulan Suro masyarakat selalu menitipkan pusaka mereka untuk mengikuti ritual jamasan sebagai bentuk kepedulian dalam merawat peninggalan leluhur.

"Total ada sekitar 70 pusaka dan benda-benda bersejarah lainnya yang mengikuti prosesi jamasan tahun ini," katanya.

Tradisi tersebut juga terbuka bagi masyarakat umum. Tahun ini, sekitar 70 pusaka mengikuti prosesi jamasan, terdiri dari sekitar 20 pusaka milik keluarga besar Ndalem Pojok dan sekitar 50 pusaka milik masyarakat maupun komunitas budaya.

Satu di antara peserta Firdaus, mahasiswa dari Universitas Brawijaya Malang menyebut tradisi jamasan memiliki nilai pendidikan yang penting karena mengajarkan generasi muda agar lebih menghargai warisan budaya Indonesia.

"Banyak generasi muda yang belum memahami makna jamasan. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat mengenalkan bagaimana cara merawat warisan budaya. Jangan sampai kita kehilangan budaya sendiri, sementara di sisi lain kita marah ketika budaya Indonesia diklaim oleh negara lain," ucapnya.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.