Ribuan Warga Berebut Gunungan dalam Tradisi Kebur Ubalan di Kabupaten Kediri
Titis Jati Permata July 04, 2026 01:49 PM

 

SURYA.co.id, KEDIRI - Ribuan warga tumpah ruah di kawasan Wisata Sumber Ubalan, Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2026).

Mereka datang bukan sekadar menyaksikan tradisi tahunan Kebur Ubalan, tetapi ikut berburu berkah dari ribuan hasil bumi yang diperebutkan dalam ritual adat yang kini berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya terbesar di Kabupaten Kediri.

Sejak pukul 08.00 WIB, kawasan sumber mata air alami itu telah dipadati masyarakat dari berbagai daerah.

Mereka rela menunggu berjam-jam demi menyaksikan kirab gunungan hasil bumi hingga momen paling ditunggu, yakni berebut isi gunungan yang dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga maupun usaha.

Lima Gunungan Hasil Bumi

Tahun ini, panitia menyiapkan lima gunungan hasil bumi.

Empat gunungan berukuran sedang dikirab mengelilingi Desa Jarak menuju kawasan sumber mata air, sementara satu gunungan utama setinggi sekitar lima meter berdiri megah di pusat kawasan wisata Sumber Ubalan.

Baca juga: Tradisi Jamasan di Ndalem Pojok Kediri, Ada Dua Pusaka Milik Bung Karno

Jagung, kubis, cabai, kacang panjang, bawang merah, terong hingga nanas tersusun rapi menghiasi gunungan.

Seluruh hasil bumi tersebut merupakan panen warga Desa Jarak sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil pertanian yang mereka peroleh.

Kirab berlangsung meriah dengan iringan musik tradisional dan warga yang mengenakan pakaian adat.

Rombongan melintasi jalan-jalan lingkungan sebelum akhirnya berkumpul di kawasan Sumber Ubalan yang menjadi pusat pelaksanaan ritual.

Keseruan Warga Berebut Gunungan

Sebelum gunungan diperebutkan, para sesepuh desa memimpin doa bersama.

Tujuh kendi berisi air dari sumber mata air Ubalan kemudian dituangkan ke kolam sebagai simbol permohonan agar hujan tetap turun, hasil pertanian melimpah, serta masyarakat dijauhkan dari bencana.

Tak lama setelah doa usai, ribuan warga langsung berhamburan menuju gunungan.

Dalam hitungan menit, seluruh hasil bumi ludes diperebutkan masyarakat yang meyakini hasil panen tersebut membawa keberuntungan.

Penghormatan pada Para Pendiri Desa

Kepala Desa Jarak, Mohamad Toha, mengatakan rangkaian Kebur Ubalan diawali dengan sedekah leluhur yang dilaksanakan di Balai Desa Jarak dan kawasan Sumber Ubalan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri desa.

Menurutnya, empat gunungan dikirab menuju kawasan sumber, sedangkan satu gunungan utama disiapkan di lokasi acara. Seluruh gunungan merupakan hasil gotong royong RT, RW, dan masyarakat Desa Jarak.

Toha menjelaskan ritual di Sumber Ubalan memiliki makna khusus sebagai doa bersama agar musim tanam berjalan baik dan para petani dijauhkan dari gangguan hama maupun kekeringan.

"Harapannya petani aman dari hama, hasil panennya melimpah, sehingga kesejahteraan warga Desa Jarak bisa terus meningkat," jelasnya.

Selain prosesi adat, panitia juga membagikan lebih dari seribu gelas dawet, seribu cangkir kopi, dan nasi pecel secara gratis kepada para pengunjung.

Sajian tersebut menjadi pelengkap suasana kebersamaan sekaligus memperkuat nuansa sedekah bumi yang menjadi ruh tradisi Kebur Ubalan.

Menurut Toha, antusiasme masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.

Ia memperkirakan jumlah pengunjung tahun ini mencapai sekitar 10 ribu orang, tidak hanya berasal dari Kabupaten Kediri tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.

Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal Wisata Sumber Ubalan melalui penyelenggaraan tradisi tersebut.

Seluruh pelaksanaan Kebur Ubalan, kata dia, lahir dari semangat gotong royong masyarakat, sementara pengelolaan kawasan wisata berada di bawah Pemerintah Kabupaten Kediri.

"Semuanya gotong royong dari masyarakat Desa Jarak," ungkapnya.

Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Dukungan terhadap pelestarian tradisi itu juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Adi Prayitno, melalui sambutan yang dibacakan Staf Bidang Museum dan Purbakala Ahmad Kudhori.

Mustika mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Jarak dalam menjaga tradisi Kebur Ubalan. 

Menurutnya, sedekah bumi yang diramaikan dengan pembagian 1.000 gelas dawet, 1.000 cangkir kopi, serta nasi pecel gratis menjadi bukti pelestarian budaya lokal mampu dikemas menjadi atraksi wisata yang sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Perkenalkan Potensi Wisata Sumber Ubalan

Ia menilai tradisi tersebut bukan hanya mempererat silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi media efektif untuk memperkenalkan potensi Wisata Sumber Ubalan kepada masyarakat yang lebih luas.

Wisata berbasis kearifan lokal seperti Kebur Ubalan, menurutnya, perlu terus dikembangkan agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat desa sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Kediri.

"Acara ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi warga, tetapi juga menjadi magnet pariwisata untuk mengenalkan potensi Wisata Sumber Ubalan kepada masyarakat luas," jelasnya.

Pihaknya berharap Kebur Ubalan terus berkembang sebagai agenda budaya tahunan yang semakin dikenal secara nasional.

Dengan pengemasan yang baik, potensi wisata alam dan budaya di Sumber Ubalan diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Jarak.

"Potensi budaya yang dimiliki Sumber Ubalan layak terus dikembangkan agar semakin banyak wisatawan datang ke Kabupaten Kediri," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.