TRIBUNJATENG.COM - Video yang memperlihatkan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) terlibat adu mulut dengan seorang pengendara sepeda motor di Jalan Aroepala, perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, viral di media sosial.
Insiden tersebut terjadi saat arus lalu lintas padat akibat penyempitan jalan karena proyek peningkatan infrastruktur yang masih berlangsung.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (3/7/2026) ketika petugas Dishub tengah mengatur arus kendaraan di salah satu titik kemacetan yang setiap hari dipadati kendaraan dari arah Makassar maupun Gowa.
Dalam rekaman video yang beredar, seorang pengendara menghentikan sepeda motornya di dekat petugas sebelum keduanya terlibat perdebatan di tengah badan jalan.
Pengendara beberapa kali menyampaikan keberatan dengan nada tinggi, sementara petugas terlihat berusaha memberikan penjelasan mengenai pengaturan lalu lintas yang sedang diberlakukan.
"Saya mantan Brimob," teriaknya kepada petugas sambil melepas helm.
Meski sempat menarik perhatian pengguna jalan lain, adu mulut tersebut tidak berkembang menjadi aksi fisik dan arus kendaraan tetap dikendalikan oleh petugas yang berada di lokasi.
Baca juga: Buntut Panjang Baliho Ultah Jokowi di Solo, Wali Kota Respati Dilaporkan ke Kejaksaan
Kemacetan di kawasan Jalan Aroepala dan Jalan Letjen Hertasning telah menjadi kondisi yang hampir terjadi setiap hari dalam beberapa bulan terakhir.
Selain tingginya volume kendaraan, kepadatan juga dipicu penyempitan badan jalan akibat proyek peningkatan ruas jalan yang sedang dikerjakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Jalan Inspeksi Kanal yang selama ini menjadi jalur alternatif bagi pengendara roda dua untuk menghindari kemacetan juga ikut dipenuhi kendaraan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 217.000 angkatan kerja yang berdomisili di Kabupaten Gowa.
Sekitar 25 hingga 30 persen di antaranya bekerja di Kota Makassar sehingga mobilitas harian di jalur perbatasan kedua wilayah tersebut sangat tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian pengendara dilaporkan masih nekat melawan arus maupun menerobos jalur yang telah ditutup demi menghindari antrean kendaraan.
Situasi itu membuat petugas Dishub tidak hanya bertugas mengurai kemacetan, tetapi juga memastikan pengguna jalan mematuhi rekayasa lalu lintas yang telah diterapkan.
Kepala Dinas Perhubungan Makassar, Muhammad Rheza, mengatakan petugas di lapangan hampir setiap hari menghadapi pengendara yang tidak mematuhi arahan saat pengaturan lalu lintas.
Menurutnya, sebagian pengendara hanya berdebat, namun tidak sedikit pula yang melakukan tindakan yang membahayakan petugas.
"Petugas kami hampir setiap hari berhadapan dengan pengendara yang tidak mau diatur.
Ada yang hanya membantah atau berdebat, tetapi ada juga yang sampai melakukan tindakan kekerasan," ungkap Rheza.
Ia mengungkapkan bahwa pernah terjadi petugas Dishub dipukul ketika menjalankan tugas. Dalam kejadian lain di kawasan belakang Tello, petugas bahkan sempat dikejar oleh seseorang yang membawa parang.
Meski menghadapi berbagai risiko, Rheza menegaskan para petugas tetap menjalankan tugas mengatur lalu lintas demi menjaga keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat.
"Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati petugas di lapangan dan mematuhi arahan yang diberikan.
Semua yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan bersama agar lalu lintas tetap aman, tertib, dan lancar," katanya.
Kemacetan di ruas Jalan Letjen Hertasning hingga Jalan Aroepala dipengaruhi proyek peningkatan jalan yang menjadi bagian dari Program Multi Years Project (MYP) 2025–2027 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Paket pekerjaan tersebut memiliki nilai kontrak sekitar Rp430 miliar dan mencakup peningkatan sejumlah ruas jalan strategis, termasuk Jalan Letjen Hertasning dan Jalan Aroepala sepanjang sekitar 1,8 kilometer pada masing-masing ruas.
Selain peningkatan badan jalan, proyek juga meliputi pembangunan dan pembenahan drainase untuk mengurangi genangan yang selama ini kerap terjadi di kawasan tersebut.
Selama proses pengerjaan berlangsung, sebagian badan jalan ditutup sehingga kapasitas lalu lintas berkurang dan memicu antrean kendaraan, terutama pada jam-jam sibuk.