LIPSUS: Pemerintah Jangan Anak Tirikan PTS, Gencarkan Sosialisasi dan Jual Kualitas
OMDSMY Novemy Leo July 04, 2026 02:19 PM

 

POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA - Rektor Universitas Katolik (Unika) Weetebula Sumba Barat Daya (SBD),  Dr. Wilhelmus Yape Kii, S.Pt., M.Phil., M.A mengatakan pihaknya selalu menjaga kualitas saat menghadapi persaingan terutama dengan perguruan tinggi negeri baik di NTT maupun Indonesia umumnya. 

“Setiap lulusan harus bermanfaat dan dirasakan langsung masyarakat. Dengan demikian, masyarakat atau orangtua tertarik untuk membiayai pendidikan tinggi anaknya ke Unika Weetabula, SBD,” ujar Wilhelmus Yape Kii, Kamis (2/7).

Wilhelmus Yape Kii juga menyoroti kebijakan pemerintah membolehkan perguruan tinggi negeri membuka penerimaan mahasiswa baru cukup.banyak dengan pola penerimaan yang bervariasi . 

“Perguruan tinggi negeri sebagian besar dibiayai pemerintah. Kondisi itu berbeda dengan perguruan tinggi swasta yang sepenuhnya mandiri.  Mestinya pemerintah lebih bijaksana karena kita sama-sama mendidik anak bangsa ini,” ujar Wilhelmus Yape Kii. 

Wilhelmus Yape Kii menjelaskan, untuk tahun 2026 ini, Unika Weetabula menargetkan menerima mahasiswa baru sebanyak 800-1000 orang.  Panitia telah membuka penerimaan mahasiswa baru gelombang I,II dan III di mana terdapat 900-an calon mahasiswa baru mendaftar. 

Berdasarkan hasil seleksi panitia, hanya 500-an calon mahasiswa baru dinyatakan diterima. Dari jumlah tersebut prodi PGSD, Agama Katolik, PAUD, Pertanian dan Pertenakan paling banyak diminati calon mahasiswa baru itu.  

Kini tambahnya, panitia penerimaan mahasiswa baru kembali membuka gelombang IV sampai akhir Juli 2026. Kampus Unika Weetabula memiliki 10 prodi yakni Prodi PGSD,  Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Fisika, pendidikan Matematika, pendidikan Agama Katolik, pendidikan Ipa, pendidikan guru usia dini (PAUD), Prodi Agroteknologi, prodi Peternakan dan Prodi Pertanian.

Wilhelmus Yape Kii Kaka, salah seorang calon mahasiswa baru Unika Weetabula kepada Pos Kupang mengaku akan mendaftar pada gelombang IV setelah mengambil formulir pendaftaran. 

Dirinya ingin kuliah di Unika Weetabula agar lebih irit. Selain dekat dengan orangtua juga biaya kuliah agak murah ketimbang  kuliah keluar Sumba. " Kalau kuliah di luar Sumba pasti mahal. Mulai biaya berangkat keluar Sumba, biaya kos dan biaya kuliah serta lainnya. Kalau kuliah di Sumba Barat Daya lebih hemat," ujar Wilhelmus Yape Kii.


Jual Kualitas

Untuk menarik minat mahasiswa baru, STIKOM Uyelindo Kupang tekankan kualitas lulusan. Selain itu didukung sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

“STIKOM Uyelindo Kupang menekankan kualitas lulusan terbaik sebagai bagian dari merawat keunggulan kampus. Hal ini merupakan 'jualan' STIKOM Uyelindo saat membuka pendaftaran calon mahasiswa baru. Kampus menawarkan lulusan bermutu baik melalui pembelajaran yang sepadan,” ujar Ketua STIKOM Uyelindo Kupang Dr. Reimerta N. Natonis.

Dikatakan Reimerta Natonis, STIKOM Uyelindo telah membentuk tim yang bertugas untuk proses penerimaan mahasiswa baru. Termasuk sosialisasi dan penyampaian informasi tentang apa saja yang ada di kampus itu. 

Reimerta Natonis menjelaskan, STIKOM Uyelindo terus melaksanakan rekruitmen bagi calon mahasiswa baru. Sekalipun Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sedang melakukan hal yang sama. 

"Pada prinsipnya proses ini terus berjalan. Ibaratnya kita punya pasar tersendiri. Masyarakat sudah punya pola pikir, anaknya itu harus berkuliah, kami terus buka sesuai periode penerimaan mahasiswa baru sesuai kalender akademik," ujar Reimerta Natonis, Kamis (2/7) di ruang kerjanya. 

Sampai sekarang tambah Reimerta Natonis, STIKOM Uyelindo sudah membuka pendaftaran untuk gelombang kedua hingga Agustus 2026. Secara keseluruhan, ada lebih dari 400 calon mahasiswa baru yang telah mendaftar ke STIKOM Uyelindo. 

Menurut Reimerta Natonis, pendaftaran gelombang ketiga dibuka pada September 2026. Volume penerimaan mahasiswa baru meningkat ketika pendaftaran di PTN resmi ditutup. "Memang tidak bisa dipungkiri karena persepsinya masyarakat mereka lebih mengejar PTN," kata Reimerta Natonis. 

Meski demikian, setiap Perguruan Tinggi pasti memiliki nilai tersendiri sebagai bagian dari upaya menarik peminat calon mahasiswa baru. Tim bentukan STIKOM Uyelindo sejauh ini terus melakukan sosialisasi ke tengah masyarakat. 

Memang, kata Reimerta Natonis, Perguruan Tinggi ini sangat kecil ruang lingkupnya. Dengan empat ratus lebih peminat itu, pihaknya mengedepankan perbandingan jumlah mahasiswa dan dosen. Minimal, perbandingannya adalah satu dosen mengajar untuk 30 mahasiswa. 

"Penerimaan mahasiswa baru kami tidak boleh melebihi jumlah rasio dari jumlah dosen kami. Ini berdampak ke mutu dan kualitas Perguruan Tinggi kami," ujar Reimerta Natonis. 

Tahun ini, STIKOM Uyelindo menerima 300-400 mahasiswa baru. Meski nanti akan ada penambahan lebih dari kuota yang ada, pihaknya telah menyiapkan strategi agar pengajar dan jumlah mahasiswa tiap kelas tetap rasional. 

Bahkan, STIKOM Uyelindo merekrut tambahan dosen baru dalam upaya penyeimbang jumlah mahasiswa dan tenaga dosen. Baginya itu adalah komitmen agar pembelajaran bagi mahasiswa bisa tercapai. 

Reimerta Natonis mengatakan, kampus ini juga telah terakreditasi baik sekali dari LAM Infokom. Sementara ini, kampus itu terus berbenah agar menjadi kampus dengan akreditasi unggul. Selain itu, STIKOM Uyelindo saat ini memiliki 5 dosen bergelar doktor, dan menargetkan 15 doktor dari 30 dosen pada tahun 2028 nanti. 

Secara keseluruhan, tercatat 1.115 mahasiswa aktif tersebar di tiga program studi. Biasanya, setiap program studi memiliki peminat lebih dari lima kelas. Khusus di teknik informatika diploma tiga, yang peminatnya tidak cukup banyak. Program studi ini, dirancang sebagai lulusan siap kerja. 

Reimerta Natonis berharap, saat masyarakat hendak menentukan pilihan masuk Perguruan Tinggi, agar memperhatikan kualitas, sarana prasarana, dan sumber daya manusia di kampus yang akan dituju. 


Gencarkan Sosialisasi

Wakil Rektor III Universitas Karyadarma (Undarma) Kupang, Pither Yesend Boimau saat diwawancarai Pos Kupang, Kamis (2/7) menjelaskan, saat ini lembaganya telah mengantongi 130-an mahasiswa baru dan akan menargetkan peningkatan pada gelombang ketiga. 

Pihaknya masih optimistis angka tersebut akan terus bertambah selama gelombang ketiga berlangsung. “Saat ini mahasiswa yang sudah terdaftar ada seratus lebih belum mencapai seratus lima puluh, mungkin saat ini seratus tiga puluhan,” kata Pither Yesend Boimau.

Pither Yesend Boimau menjelaskan, sejak semester ganjil lalu, Universitas Karyadarma Kupang terus menggencarkan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru dengan menawarkan 12 program studi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan di NTT.

“Kami menargetkan sebanyak mungkin masyarakat NTT, tanpa dibatasi usia, dapat melanjutkan pendidikan S1 di Undarma Kupang. Sebagai kampus berbasis penelitian, program studi yang kami buka disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ucap Pither Yesend Boimau.

Pither Yesend Boimau menyebut, 12 program studi yang tersedia di Undarma meliputi S1 Kebidanan yang dilanjutkan dengan Program Profesi Bidan, Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Informatika, Agribisnis, Agroteknologi, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR), Ilmu Hukum, serta Ilmu Pemerintahan.

Meski seluruh program studi memiliki peminat, kata Pither, program studi yang berkaitan dengan ketahanan pangan seperti Agribisnis dan Agroteknologi masih kurang diminati. Kondisi tersebut dipengaruhi belum optimalnya kesinambungan minat siswa sejak di bangku sekolah menengah.

Banyak lulusan SMK jurusan Agribisnis maupun Hortikultura justru memilih program studi lain ketika melanjutkan ke perguruan tinggi.

Lebih lanjut, Pither Yesend Boimau mengatakan, saat ini Undarma Kupang telah memasuki penerimaan mahasiswa baru gelombang ketiga yang berlangsung hingga Agustus 2026. Yang mana, sebelumnya, gelombang pertama dibuka pada Desember hingga Maret, sedangkan gelombang kedua berlangsung April hingga Juni.

“Kami melihat banyak calon mahasiswa yang sebelumnya mendaftar di dua kampus. Setelah pengumuman perguruan tinggi negeri, mereka yang belum diterima kembali menghubungi kami. Karena itu kami optimistis gelombang ketiga masih akan menambah jumlah mahasiswa baru,” ucap Pither Yesend Boimau.

Untuk memperluas jangkauan informasi, kata Pither Yesend Boimau, Undarma Kupang memanfaatkan berbagai media promosi seperti Facebook, TikTok, jaringan relawan, hingga alumni yang turut memperkenalkan kampus kepada masyarakat.

Pither juga menyampaikan bahwa secara institusi Undarma Kupang telah berstatus terakreditasi hingga tahun 2028. Dari 12 program studi yang dimiliki, sebagian besar telah terakreditasi, sementara beberapa lainnya masih dalam proses asesmen lapangan.

Dalam upaya memperluas akses pendidikan, Undarma Kupang turut memberikan dukungan pembiayaan melalui program beasiswa pihak ketiga, yakni Beasiswa CF2 Kuliah.

Untuk Program Studi Kebidanan dan Profesi Bidan, UKT sebesar Rp10.250.000 memperoleh bantuan beasiswa sebesar Rp4.750.000 sehingga mahasiswa hanya menanggung sekitar Rp5.500.000. Sementara untuk 10 program studi lainnya, UKT sebesar Rp5.714.000 mendapat bantuan Rp4.000.000 sehingga mahasiswa cukup membayar sekitar Rp1.714.000 yang dapat dicicil dua hingga tiga kali.

Rektor UPG 1945 NTT, Uly J. Riwu Kaho, mengatakan, selama sekitar satu dekade terakhir PTS di Indonesia menghadapi tantangan serius karena jumlah mahasiswa baru terus mengalami penurunan, sementara perguruan tinggi negeri (PTN) justru mengalami peningkatan.

Kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah karena dapat berdampak terhadap masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.

BUKAN PILIHAN KEDUA - Rektor UPG 1945 NTT Uly Riwu Kaho. 
UPG 1945 NTT Buktikan PTS Bukan Lagi Pilihan Kedua, Pendaftar Mahasiswa Baru Tembus 1.000 Orang
BUKAN PILIHAN KEDUA - Rektor UPG 1945 NTT Uly Riwu Kaho. UPG 1945 NTT Buktikan PTS Bukan Lagi Pilihan Kedua, Pendaftar Mahasiswa Baru Tembus 1.000 Orang (POS-KUPANG.COM/RAY REBON/Ray Rebon)

"Karena itu kami melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta telah menyampaikan kepada pemerintah agar persoalan ini mendapat perhatian. Namun di sisi lain, kami sebagai PTS juga tidak boleh hanya menunggu. Kami harus terus berbenah dan melakukan perubahan," ujar Uly Riwu Kaho,  Kamis (2/7) di ruang kerjanya.

Upaya tersebut, kata Uly Riwu Kaho, mulai membuahkan hasil. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UPG 1945 NTT terus meningkat. Bahkan tahun ini terjadi lonjakan yang cukup besar. 

"Kalau tahun lalu peminat sekitar 700 sampai 800 orang, tahun ini sampai gelombang pertama dan kedua sudah lebih dari 1.000 calon mahasiswa yang mendaftar dan mengikuti seleksi. Bahkan untuk gelombang ketiga, hingga saat ini sudah hampir 300 orang mendaftar," jelas Uly Riwu Kaho.

Uly Riwu Kaho menegaskan peningkatan tersebut membuktikan bahwa anggapan perguruan tinggi swasta hanya menerima mahasiswa yang tidak lolos di PTN sudah tidak relevan lagi. Meningkatnya kepercayaan masyarakat tidak terlepas dari berbagai program unggulan yang berpihak kepada mahasiswa, terutama masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Salah satu program yang paling diminati adalah Gong Prestasi, yaitu jalur penerimaan khusus bagi calon mahasiswa yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik, seperti olahraga, seni musik, dan budaya. 

Mahasiswa yang lolos melalui jalur tersebut memperoleh penghargaan berupa pembebasan biaya SPP. Bahkan jika mampu mempertahankan prestasi di tingkat daerah, nasional maupun internasional, pembebasan SPP diberikan hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan studi.

Tak hanya itu, jelas Uly Riwu Kaho, UPG 1945 NTT juga menghadirkan program yang disebut belum dimiliki perguruan tinggi lain, yakni Jaminan Kesehatan dan Wafat bagi Mahasiswa (Jamkesmawa). Melalui program tersebut, seluruh mahasiswa aktif memperoleh perlindungan kesehatan. 

Apabila mahasiswa mengalami sakit yang membutuhkan penanganan medis serius, seluruh biaya pengobatan, perawatan rumah sakit, tindakan dokter hingga operasi ditanggung oleh kampus. (fan/pet/mey/rey)

Pilih Kampus Karena Kualitas

WAKIL Ketua Komisi V DPRD NTT Winson N. Rondo meminta publik agar memilih kampus karena kualitas, bukan alasan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS). 

Sebab, menurut Winston Rondo, kecenderungan calon mahasiswa enggan mendaftarkan diri langsung ke PTS. Kalaupun mendaftar, momen itu baru dilakukan setelah dinyatakan tidak lolos di PTN. 

Politikus Demokrat itu mengatakan, fenomena semacam ini memang sudah berlangsung cukup lama. Artinya, banyak orang menempatkan PTS sebagai pilihan kedua.  

"Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi kita masih menempatkan PTS sebagai pilihan kedua," kata Winston Rondo, Kamis (2/7). 

Menurut Winston Rondo, yang perlu diperbaiki adalah membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adil. Pemerintah, PTN, dan PTS harus memiliki ruang promosi yang setara sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai kualitas setiap perguruan tinggi. 

Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo (POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI)

Selain itu, kata Winston Rondo, akses beasiswa juga perlu diperluas agar tidak hanya terkonsentrasi di PTN. Paling penting adalah kualitas program studi, akreditasi, dan kompetensi lulusan harus menjadi pertimbangan utama, bukan semata-mata status negeri atau swasta.

"PTS harus berani membangun keunggulan yang berbeda. Persaingan hari ini bukan lagi sekadar soal status, tetapi soal kualitas dan kepercayaan masyarakat," ujar Winston Rondo. 

Winston Rondo mendorong PTS terus meningkatkan mutu dosen, kurikulum yang sesuai kebutuhan dunia kerja, fasilitas pembelajaran, kerja sama dengan dunia usaha dan industri, serta memperkuat program magang dan penempatan kerja lulusan. 


Di sisi lain, ujar Winston Rondo, promosi juga harus lebih kreatif dengan menampilkan prestasi mahasiswa, kisah sukses alumni, dan bukti nyata bahwa lulusan PTS mampu bersaing di dunia kerja maupun menjadi wirausaha.

"Jika masyarakat melihat kualitas dan prospek lulusan yang baik, maka PTS akan menjadi pilihan pertama, bukan sekadar alternatif," kata Winston Rondo. 

Winston Rondo mengajak seluruh perguruan tinggi di NTT untuk menjadikan peningkatan mutu sebagai prioritas utama. Semua pihak juga perlu  membangun persaingan yang sehat, berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NTT, dan melahirkan lulusan yang berintegritas, kompeten, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Winston Rondo mengatakan, Komisi V DPRD Provinsi NTT, berkomitmen terus mendorong kebijakan yang mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, karena keduanya merupakan mitra strategis dalam menyiapkan generasi unggul untuk mewujudkan NTT yang semakin maju.

Winston Rondo menambahkan, banyak PTS di NTT yang telah menghasilkan lulusan berkualitas dan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan daerah. 

"Kepada masyarakat dan para calon mahasiswa, saya berharap agar memilih perguruan tinggi berdasarkan kualitas, kecocokan program studi, minat, dan cita-cita, bukan hanya karena label negeri atau swasta," ujar Winston Rondo.  (fan)

60 Ribu Calon Mahasiswa Mengundurkan Diri? 

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluruskan simpang siur informasi yang beredar di masyarakat mengenai 60.000 calon mahasiswa baru (camaba) yang disebut mengundurkan diri atau tidak mendaftar ulang pada seleksi tahun ini.

Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa (Belmawa) Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja dalam Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu (1/7) menegaskan, narasi 60.000 mahasiswa mundur pada tahun 2026 adalah keliru, mengingat proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri tahun ini masih terus berlangsung hingga batas akhir pada 31 Juli 2026.

Ia menggarisbawahi angka 60.000 yang ramai diperbincangkan tersebut sebenarnya merujuk pada pemaparan data evaluasi tahun 2025 yang disampaikan Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR RI.

Beny merinci, dari total daya tampung nasional sebanyak 627.000 kursi pada tahun 2025, yang berhasil diterima melalui proses seleksi adalah 585.000 orang. Selisih sekitar 40.000 kursi kosong murni disebabkan ketidakpenuhan daya tampung karena peserta tidak memenuhi standar kualitas minimal, bukan karena mengundurkan diri.

"Dari 585.000 tersebut, memang betul ada yang tidak daftar ulang. Kalau dihitung data tahun 2025 adalah 17.000-an atau sekitar 2,8 persen dari yang diterima," kata Beny.

Berdasarkan investigasi panitia seleksi, Beny mengungkapkan tiga alasan utama mengapa belasan ribu calon mahasiswa tersebut pada akhirnya memilih untuk tidak melakukan pendaftaran ulang.

Alasan pertama adalah ketidakcocokan program studi. Peserta seleksi jalur tes diperbolehkan memilih hingga lima program studi, dan sering kali mereka mengundurkan diri karena diterima di pilihan kedua, ketiga, atau seterusnya yang bukan merupakan prioritas utamanya.

Alasan kedua, lanjut Beny, banyak peserta yang juga mengikuti seleksi perguruan tinggi kedinasan di bawah kementerian lain. Adanya daya tarik ikatan dinas dan jaminan pekerjaan saat lulus membuat banyak calon mahasiswa akhirnya melepas kursi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Sementara alasan ketiga berkaitan dengan kendala finansial, di mana sejumlah pendaftar program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah ternyata dinyatakan tidak memenuhi syarat kelayakan (eligible), sehingga mereka terpaksa mundur sembari mencari alternatif pembiayaan atau beasiswa dari pihak lain.

"Oleh karena itu mungkin akhirnya tidak bisa melanjutkan, karena tidak mendaftar ulang terkait dengan pembiayaan juga, karena biasanya yang mendaftarkan KIP Kuliah itu tentunya memiliki kekurangan dalam pembiayaan. Jadi ketika mereka tidak eligible itu tentunya tidak bisa dilanjutkan." tutur Beny Bandanadjaja. (ant)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.