Keyakinan Azteca, Roberto Alvarado, Julián Quiñones dan Lima Faktor Penting dalam Laga Meksiko vs Inggris
Agus Firmansyah July 04, 2026 04:14 PM

Meksiko membawa catatan pertahanan sempurna ke dalam laga besar Piala Dunia melawan Inggris, dengan Julián Quiñones mengejar sejarah dan Javier Aguirre mengincar kemenangan besar lainnya.

Ada hubungan khusus antara Meksiko dan Inggris yang mulai terbentuk sejak Javier "Chicharito" Hernández bergabung dengan Manchester United. Beberapa pemain lain kemudian mengikuti jejaknya di Liga Premier, terutama Raúl Jiménez bersama Wolverhampton Wanderers dan Fulham. Salah satu kemenangan internasional paling bersejarah El Tri, medali emas Olimpiade 2012 di cabang sepak bola putra, juga diraih di Stadion Wembley.

Javier "Vasco" Aguirre tidak pernah menyembunyikan kekagumannya terhadap sepak bola Inggris. Ia telah melakukan hampir segalanya di dunia sepak bola, namun satu impian tetap belum tercapai: melatih di Liga Premier. Kini, di Piala Dunia, ia bertemu Inggris dalam laga yang dipenuhi dengan rasa kagum yang telah lama ia rasakan serta keyakinan yang tumbuh dari performa luar biasa Meksiko.

El Tri datang dengan performa luar biasa. Empat kemenangan, empat kali tanpa kebobolan, dan menjadi bagian dari kelompok kecil tim yang membuka Piala Dunia dengan memenangkan empat laga pertama tanpa kemasukan. Sebelum Meksiko, hanya Brasil pada 1986 dan Italia pada 1990 yang mampu melakukannya. Aguirre juga melakukan rotasi pemain dengan percaya diri, memberikan ritme turnamen yang dulu diidamkan Juan Carlos Osorio pada 2018 ketika Meksiko tersingkir oleh Brasil di babak 16 besar.

Kali ini terasa berbeda. Meksiko tampil tajam di semua lini, dengan Julián Quiñones memimpin lewat empat kontribusi gol — tiga gol dan satu asis — menyamai rekor Luis "Matador" Hernández dari Piala Dunia 1998. Pada hari Minggu, Quiñones berpeluang mencatatkan namanya sendiri di buku sejarah.

Statistik pertahanan mereka pun mengesankan. Sepanjang 2026, Meksiko hanya kebobolan dua kali. Dodi Lukébakio dari Belgia dan Petar Stanić dari Serbia adalah satu-satunya pemain yang mampu menjebol gawang El Tri tahun ini.

Berikut lima faktor kunci versi GOAL yang patut diperhatikan saat Meksiko dan Inggris bertemu di Kota Meksiko.

Maestro lini tengah El Tri

Perjalanan Roberto Alvarado pernah nyaris membawanya ke Manchester City. Saat remaja di akademi Celaya, ia sempat berlatih di Inggris bersama calon bintang masa depan seperti Phil Foden, Jadon Sancho, dan Brahim Díaz.

Bakatnya terlihat jelas, namun kepindahan itu tak pernah terwujud. Alvarado menceritakan kisah itu dengan nada humor, mengatakan bahwa City memilih Foden sementara ia masih menunggu dokumen dari Meksiko, termasuk bukti alamat dan identitas orang tuanya. Faktanya, peluang itu juga terhalang oleh aturan transfer internasional untuk pemain di bawah umur, memaksanya kembali ke tanah air untuk melanjutkan karier bersama Celaya, Pachuca, Necaxa, Cruz Azul, dan Chivas.

Piala Dunia ini menjadi panggung yang telah lama ia nantikan. Beberapa momen spesial Meksiko di turnamen ini melibatkan Alvarado, dan penampilannya termasuk yang terbaik.

Setelah empat pertandingan, ia memimpin El Tri dengan 10 peluang tercipta dan telah menjadi pemain Meksiko dengan jumlah asis terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia, yakni tiga. El Piojo, si “Kutu”, menjadi penghubung paling konsisten antara lini tengah dan lini depan Meksiko.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah masa depan Alvarado akan membawanya ke Eropa. Ia berusia 27 tahun, berada di puncak karier, dan bermain seperti seseorang yang masih memiliki babak baru untuk ditulis.

Warisan sepak bola Italia dalam pertahanan Meksiko

Italia memang tidak tampil di Piala Dunia kali ini, tetapi Meksiko tetap mengadopsi disiplin taktik khas negeri tersebut. El Tri tidak berusaha menjadi seperti Italia sepenuhnya, dan memang tidak seharusnya demikian. Tim Meksiko terbaik selalu memiliki semangat emosional tersendiri. Namun, versi kali ini menunjukkan kesadaran defensif yang lebih tenang dan terukur, membantu mereka menjaga gawang tetap bersih dalam empat laga pertama.

Pendidikan taktis itu terlihat jelas pada sosok Johan Vásquez. Pengalamannya di Serie A mengasah kemampuan bertahan pemain yang sudah memiliki karakter kompetitif dan keberanian khas Meksiko, kini ditambah kesabaran hasil belajar di liga yang menuntut presisi dalam setiap langkah. Di Genoa, ia terbiasa bertahan dalam tekanan, membaca arah umpan silang, dan bertahan lama tanpa bola. Itulah pelajaran yang sering kurang dimiliki Meksiko: bertahan bukan hanya dengan semangat, tetapi juga dengan timing yang tepat.

Warisan itu juga berakar pada sosok Rafa Márquez, yang kini menjadi asisten Aguirre. Márquez sempat bermain di Italia bersama Hellas Verona di akhir kariernya, seolah masih ingin memperdalam pemahaman taktik setelah masa gemilangnya di Barcelona. Pep Guardiola pun pernah melakukan hal yang sama, bermain di Brescia dan Roma untuk memahami filosofi berbeda. Italia telah lama menjadi sekolah akhir bagi para pemikir sepak bola, negara empat kali juara dunia di mana bertahan dianggap sebagai bentuk kecerdasan.

Pemahaman defensif seperti itu bisa menjadi kunci melawan Inggris.

Inggris memasuki wilayah baru

Serangan Inggris sejauh ini lebih bergantung pada dua pemain utama ketimbang kerja sama kolektif. Harry Kane telah mencetak lima gol dalam empat pertandingan, sementara Jude Bellingham menambah dua gol dan satu asis. Kombinasi keduanya menjadi senjata utama Thomas Tuchel dalam turnamen ini: Kane sebagai penyelesai, Bellingham sebagai penggerak tim saat permainan macet.

Peringatan muncul saat laga melawan Ghana. Hasil imbang itu menunjukkan bagaimana Inggris kesulitan ketika lawan menutup area tengah, memutus suplai bola ke Kane, dan memaksa Bellingham bekerja sendirian. Bahkan dalam kemenangan 2-1 atas Republik Demokratik Kongo, ketika Kane mencetak dua gol penentu di menit akhir, masalah yang sama tetap terlihat: Inggris memiliki bintang yang bisa menentukan hasil, tapi belum cukup solid untuk menguasai semua fase permainan.

Pengalaman yang akan mereka rasakan di Kota Meksiko akan sangat berbeda dengan Ghana. Ketinggian, tekanan penonton, dan ketangguhan pertahanan Meksiko akan menuntut penampilan terbaik Inggris, bukan hanya dari ketajaman Kane atau energi Bellingham. Jika mereka ingin melangkah jauh di Piala Dunia ini, mereka harus membuktikannya di Estadio Azteca untuk merebut tiket perempat final ke Miami.

Seberapa penting laga uji coba melawan Portugal?

Melihat ke belakang, laga persahabatan Meksiko melawan Portugal pada bulan Maret kini terlihat sangat penting. Saat itu, pertandingan tersebut dianggap sebagai ujian tingkat tinggi sebelum Piala Dunia. Kini, laga itu tampak seperti persiapan paling tepat untuk menghadapi babak 16 besar ini.

Pada pertandingan tersebut, Aguirre mendapat kesempatan untuk menguji detail taktik melawan salah satu favorit turnamen, dengan mengetahui ada kemungkinan besar Meksiko akan bertemu Inggris di fase gugur. Ia dapat melihat bagaimana para pemainnya bereaksi menghadapi kecepatan, teknik, dan kontrol permainan kelas dunia.

Armando "Hormiga" González nyaris mencetak gol kemenangan, sementara Brian Gutiérrez menjadi pemain paling berbahaya di lini serang El Tri. Álvaro Fidalgo menjalani debutnya untuk Meksiko, dan Obed Vargas memberi keseimbangan di lini tengah. Pertandingan itu kini menjadi tolok ukur penting.

Susunan pemain Meksiko saat melawan Portugal adalah Raúl "Tala" Rangel; Jesús Gallardo, Johan Vásquez, César Montes, Israel Reyes; Erik Lira, Obed Vargas, Álvaro Fidalgo; Roberto Alvarado, Raúl Jiménez, dan Brian Gutiérrez.

Sejak saat itu, situasi telah berubah. Julián Quiñones dan Gilberto Mora, yang tidak bermain dalam laga tersebut, kini menjadi dua pemain paling berpengaruh bagi Meksiko. Jorge Sánchez dan Luis Romo juga menunjukkan peningkatan berkat menit bermain penting dalam sepekan terakhir. Aguirre mungkin akan menurunkan susunan pemain yang sama seperti saat mengalahkan Ekuador, namun kedalaman timnya cukup untuk mengejutkan Tuchel dan stafnya.

Catatan Raúl Jiménez melawan Jordan Pickford

Raúl Jiménez mengenal Jordan Pickford lebih baik daripada kebanyakan pemain. Menurut data Opta, striker Meksiko itu termasuk salah satu pemain non-Inggris yang paling sering mencetak gol ke gawang kiper utama Inggris tersebut — enam kali sepanjang kariernya, sejajar dengan Christian Eriksen.

Hubungan Jiménez dengan sepak bola Inggris memang istimewa. Ia menjadi bintang Liga Premier bersama Wolverhampton Wanderers, bangkit kembali setelah cedera kepala serius, dan kemudian membuka babak baru di Fulham. Di sepanjang perjalanan itu, Pickford adalah salah satu penjaga gawang yang berhasil ia taklukkan berulang kali.

Menghadapi Inggris, Meksiko membutuhkan lebih dari sekadar kenangan indah dari sang penyerang nomor 9 mereka. Jika pertandingan di Kota Meksiko berjalan ketat, rekor Jiménez melawan Pickford bisa menjadi lebih dari sekadar statistik — ia bisa menjadi sumber harapan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.